Ricka Islamiyati
STIKES Cendekia Utama Kudus

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BATANG TEBU HIJAU DAN BATANG TEBU MERAH MENGGUNAKAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS DPPH Ahmad Priyanto; Ricka Islamiyati
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 2, No 1 ( Mei 2018) : Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.876 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v2i1.17

Abstract

Tebu (Saccharum officinaum.) Merupakan tanaman penting untuk ketahanan pangan, karena hampir 75% gula dunia berasal dari tebu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa flavonoid yang terkandung dalam ekstrak etanol tebu merah dan tebu  hijau. Pada uji pendahuluan dilakukan dengan uji KLT analisis  antioksidan. Senyawa yang diduga memiliki aktivitas antioksidan pada hasil pemisahan kromatografi diatas yaitu pada Rf 0,9 pada tebu merah dan 0,90625 pada tebu hijau; dengan pembanding kuersetin dengan nilai Rf 0,9125. Antioksidan mampu menghambat oksidasi melalui 2 jalur, yaitu melalui radikal bebas (free radicalscavenging). Antioksidan ini disebut antioksidan primer .termasuk jenis ini dalam jenis ini adalah senyawa- senyawa fenolik seperti galat dan flavonoid.jalur kedua tanpa penangkapan radikal bebas. Antioksidan ini disebut dengan antioksidan sekunder yang mekanisme melalui pengikat logam dan menyerap sinar ultraviolet. Radikal bebas umumnya sebagai model dalam penelitian antioksidan adalah 1,1–difenil-2-pikrilhidrazi (DPPH) merupakan metode yang mudah ,cepat,dan mudah untuk menetapkan aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan antara Tebu Merah menunjukkan nilai IC50 sebesar 86,38 ppm, sedangkan pada ekstrak etanol Tebu Hijau sebesar 72,65 ppm. Kadar flavonoid total pada ekstrak etanol Tebu Merah berbeda signifikan dengan ekstrak etanol Tebu  Hijau adalah sebesar 175,87 ± 0,88% b/b Equivalen Kuersetin, sedangkan pada ekstrak etanol Tebu Hijau sebesar 36,76 ± 0,70% b/b Equivalen Kuersetin. Kata Kuci: Tebu (Saccharum officinaum.), Antioksidan
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Herba Anting-anting (Acalypha indica L.) terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Mencit yang diinduksi Fruktosa Ricka Islamiyati; Rifda Naufa Lina
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 3, No 1 (2019): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v3i1.38

Abstract

Herba Anting-anting (Acalypha indica L.)merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan.Kandungan Kimia yang terdapat pada herba anting-anting sangat banyak salah satunya yaitu β- D-glucoside sebagai antihiperglikemia.Hiperglikemi pada penelitian ini dilakukan dengan induksi fruktosa selama 2 minggu berturut-turut. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol herba anting-anting  (Acalypha australis L.) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi fruktosa. Pada penelitian ini digunakan hewan uji sebanyak 25 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok (kontrol negatif, kontrol positif dan 3 kelompok uji dengan dosis ekstrak: 1000 mg/kgbb, 1200 mg/kgbb dan 1500 mg/kgbb). Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit jantan. Ekstrak herba anting-anting mempunyai aktivitas untuk menurunkan kadar glukosa darah, tetapisecara statistik aktivitas terhadap penurunan kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi fruktosa tidak signifikan ditunjukkan dengan p 0,05 (0,561).  Hal ini mungkin disebabkan oleh kegagalan induksi fruktosa untuk mengkondisikan mencitmenjadi tikus model hiperglikemi.
UJI PERBEDAAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DENGAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL 70% dan 96% PADA EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM MENGGUNAKAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS DPPH Ricka Islamiyati; Ika Noviana Saputri
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 2, No 2 (2018): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.29 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v2i2.28

Abstract

Tanaman salam (Syzygium polyanthum (wight) Walp). Merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa flavonoid. Pada daunnya tanaman salam memiliki aktivitas antioksidan sehingga dapat menangkal proses terjadinya radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dalam ekstrak etanol daun salam 70% dan ekstrak etanol daun salam 96% dengan kuersetin. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu peredaman radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-2-picrylhidrazyl). Sedangkan penentuan kadar Flavonoid Total kolorimetri dengan spektrofotometri diukur pada Panjang gelombang 415. Hasil penelitian pada ekstrak etanol daun salam 96% diperoleh nilai IC50 sebesar 49,36 ppm, ekstrak etanol daun salam 70% sebesar 54,49 ppm dan kuersetin 7,585 ppm. Hasil analisis statistik dengan one way ANOVA menunjukan perbedaan yang signifikkan antara nilai IC50 ekstrak etanol daun salam 96%, ekstrak etanol daun salam 70% dan kuersetin. Kadar Flavonoid total pada Ekstrak Etanol Daun Salam 96% sebesar 270 ± 5,30 dan pada Ekstrak Etanol Daun Salam 70% sebesar 350 ± 1,76. Kesimpulan terdapat perbedaan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun salam 96%, ekstrak etanol daun salam 70% dan kuersetin secara signifikan. Kata Kunci: Syzygium polyanthum (wight) Walp, Antioksidan, DPPH, Kuersetin.
Perbandingan Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi N-Heksan, Etil Asetat dan Air Ekstrak Etanol Kulit Buah Salak Menggunakan Metode Peredaman Radikal Bebas DPPH Ricka Islamiyati; Endra Pujiastuti
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 4, No 2 (2020): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v4i2.110

Abstract

Tanaman salak merupakan salah satu buah khas dari Indonesia yang dapat ditemukan hampir di setiap daerah. Kulit dan daging buah salak secara hasil fitokimia mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, hidrokuinon, steroid dan tanin serta beberapa jenis salak tertentu mengandung senyawa saponin. Senyawa-senyawa tersebut dapat berkhasiat dalam pengobatan, diantaranya sebagai antioksidan, antidiabetes, mencegah sembelit dan sebagainya. Setiap orang memerlukan suatu senyawa yang bersifat antioksidan untuk melindungi sel-sel tubuh dari efek negatif radikal bebas. Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom yang memiliki satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital paling luar sehingga sifatnya seacar kimiawi sangat reaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi N-Heksan, etil asetat dan air ekstrak etanol kulit buah salak. Hasil dari regresi linier fraksi n-heksan diperoleh IC50 388,82 ppm menunjukan bahwa fraksi n-heksan kulit buah salak memiliki sifat antioksidan lemah. Hasil dari fraksi etil asetat diperoleh IC50 229,88 ppm yang menunjukan bahwa fraksi etil asetat kulit buah salak memiliki sifat antioksidan sedang. Hasil dari fraksi air diperoleh IC50 60,19 ppm yang menunjukkan bahwa fraksi air kulit buah salak memiliki sifat antioksidan kuat. Hasil dari analisis statistika varian satu arah (ANOVA one-way) menunjukkan bahwa semua kelompok antioksidan memberikan nilai signifikan p0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara antioksidan fraksi air, etil asetat dan n heksan kulit buah salak.
PERANAN APOTEKER DALAM PEMBERIAN SWAMEDIKASI PADA PASIEN BPJS Yulia Pratiwi; Annis Rahmawaty; Ricka Islamiyati
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 3, No 1 (2020) : Januari 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v3i1.69

Abstract

Swamedikasi merupakan upaya seseorang untuk mengobati gejala penyakit tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Pemilihan dan penggunaan obat tersebut ditujukan untuk mengatasi penyakit dan gejala penyakit ringan. Besarnya biaya kesehatan di Indonesia yang tergolong mahal sebagian diantaranya telah dapat diatasi dengan adanya jaminan kesehatan seperti BPJS. Apoteker mempunyai peranan yang sangat besar untuk menjamin bahwa pasien menerima obat dan pengobatan dengan baik, aman, dan efektif sesuai dengan tujuan terapi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan secara umum untuk mengubah pola pikir dan cara pandang masyarakat untuk dapat menyikapi secara tepat tentang informasi mengenai penyakit-penyakit yang dapat diobati sendiri oleh pasien. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan pasien BPJS setelah diberikan edukasi dan pengetahuan oleh apoteker tentang cara mengobati gejala penyakit dan cara melakukan swamedikasi terkait penggunaan obat yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari sudah baik. Luaran penelitian ini antara lain adanya publikasi ilmiah di Jurnal Pengabdian Kesehatan CENDEKIA UTAMA ISSN 2614-3593 dan pengayaan bahan ajar Swamedikasi di Program Studi S1 Farmasi STIKES Cendekia Utama Kudus. telah sesuai target yang diharapkan. Kata Kunci : Apoteker ; BPJS ; Swamedikasi
PENGEMBANGAN MANISAN LIDAH BUAYA (MALIBU) SEBAGAI OBAT PENCAHAR ALAMI DI DESA GOLAN 4/4 GOLANTEPUS, KEC.MEJOBO, KAB.KUDUS Yulia Pratiwi; Ina Ristian; Ricka Islamiyati
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 1, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v1i1.2

Abstract

Lidah buaya berkhasiat sebagai anti inflamasi, anti jamur, anti bakteri dan membantu proses regenerasi sel. Lidah buaya juga menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung penyakit kanker, penderita HIV/AIDS. Akhir- akhir ini pemanfaatan lidah buaya sudah banyak ada di pasaran, namun belum banyak yang mengembangkan lidah buaya sebagai makanan untuk kesehatan. Manisan lidah buaya merupakan salah satu produk makanan olahan  lidah buaya yang mudah dibuat, peralatan yang digunakan relatif sederhana, biaya produksi murah, dan bahan dasar pembuatan manisan lidah buaya mudah didapatkan. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini antara lain: : (1) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Manisan lidah buaya yang dapat digunakan obat Pencahar, (2) Mengembangkan Lidah Buaya sebagai makanan untuk kesehatan, dan (3) Meningkatkan ketrampilan peserta tentang pembuatan Manisan lidah buaya Hasil dari kegiatan ini terlihat dengan adanya pengetahuan masyarakat tentang lidah buaya, peningkatan kesadaran masyarakat tentang Manisan  Lidah Buaya untuk makanan kesehatan,dan menjadi masyarakat yang lebih trampil.Kata Kunci : Manisan, Lidah Buaya