Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL SUMBER DAYA AIR

IDENTIFIKASI LEVEL KERENTANAN PROVINSI BALI DENGAN METODE PAIRWISE COMPARISON Huda Bachtiar
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1621.533 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.359

Abstract

Identifikasi kerentanan di Provinsi Bali telah dilakukan menggunakan metode perbandingan berpasangan. Metode ini berdasarkan proses analisis hirarki, yaitu membandingkan suatu elemen objek dengan pembobotan untuk mengklasifikasikan suatu level. Parameter yang ditinjau dalam identifikasi kerentanan ini adalah tata guna lahan, infrastruktur, elevasi, kemiringan, dan kerentanan total. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengevaluasi level kerentanan terhadap parameter yang ditinjau. Identifikasi level kerentanan total tahun 2012 menunjukkan daerah Bali Selatan (Denpasar) memiliki level tinggi karena besarnya populasi penduduk dan lengkapnya fasilitas infrastruktur pendukung pariwisata, sedangkan level rendah terdapat di daerah Bali Utara. Pada tahun 2030, level tinggi dari kerentanan total di Kota Denpasar meluas karena meningkatnya jumlah penduduk dan rencana pengembangan tata guna lahan. Selain itu, level kerentanan di Kabupaten Badung berubah dari level rendah menjadi level moderat karena adanya perluasan area pariwisata. Berdasarkan hasil simulasi dapat diketahui wilayah dengan tingkat kerentanan paling tinggi, yaitu wilayah yang memiliki genangan paling luas. Dalam hal ini, deliniasi wilayah-wilayah tersebut harus tampak jelas pada peta sehingga dapat diterapkan dalam rencana tata ruang kota/wilayah.
Identifikasi Level Risiko Pantai Di Provinsi Bali Berdasarkan Analisis Spasial Bahaya Dan Identifikasi Level Kerentanan Huda Bachtiar
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1263.238 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v10i2.131

Abstract

Kajian level risiko pantai di Provinsi Bali dilakukan berdasarkan hasil studi analisis spasial bahaya dan hasil studi identifikasi level kerentanan dengan metode pairwise comparison. Semakin tinggi tingkat kerentanan dan bahaya yang dialami maka risiko bencana dan kerusakkan yang terjadi akan semakin tinggi. Skematisasi scenario model dilakukan dengan membagi model menjadi tiga scenario dengan periode simulasi pada tahun 2012 dan pada tahun 2030. Berdasarkan hasil simulasi, peta potensi risiko menunjukan Bali Selatan memiliki potensi risiko yang relatif tinggi dibandingkan area lainnya di Provinsi Bali untuk setiap skenario model. Skenario 1 pada tahun 2012 luas area level sangat tinggi sekitar 3.08 km2 dan skenario 3 pada tahun yang sama sekitar 4.44 km2. Terjadi perluasan potensi risiko level sangat tinggi sekitar 1.36 km2. Pada tahun 2030 level sangat tinggi di Kota Denpasar mengalami perluasan, dimana skenario 1 tahun 2012 yang tadinya memliki luas area risiko 3.08 km2 setelah tahun 2030 menjadi 3.11 km2. Demikian juga dengan skenario 3 pada tahun 2030, dimana level sangat tinggi pada tahun 2012 yang memiliki luas area 4.44 km2 pada tahun 2030 menjadi 4.79 km2. Hal tersebut terjadi karena selain adanya akumulasi faktor bahaya untuk setiap skenario juga akibat adanya peningkatan level kerentanan pada tahun 2030.
ANALISIS SPASIAL POTENSI BAHAYA DAERAH PANTAI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI PULAU BALI Huda Bachtiar
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1901.264 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.370

Abstract

Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang memiliki nilai infrastruktur dan nilai ekonomi tinggi. Namun demikian, ada potensi bahaya yang dapat mengancam infrastruktur tersebut sebagai akibat perubahan iklim. Untuk itu diperlukan informasi mengenai wilayah yang memiliki potensi bahaya cukup tinggi. Potensi bahaya dihitung berdasarkan parameter-parameter bahaya akibat perubahan iklim, diantaranya kenaikan muka air laut, kejadian ENSO, dan gelombang badai. Berdasarkan hasil simulasi pada tahun 2012, Kabupaten Buleleng merupakan wilayah yang memiliki potensi bahaya paling tinggi dengan luas area bahaya mencapai 20,67 km2, sedangkan wilayah yang memiliki potensi bahaya paling rendah adalah Kabupaten Denpasar dengan luas area sekitar 3,12 km2. Hasil simulasi kondisi ekstrem menunjukan luas area potensi bahaya di Kabupaten Buleleng mencapai 32,55 km2 sedangkan estimasi area yang terancam di Kabupaten Denpasar mencapai 4,51 km2. Untuk simulasi jangka panjang yaitu pada tahun 2030, luas area bahaya di Kabupaten Buleleng mencapai 37,26km2. Secara umum, hasil simulasi menunjukan bahwa luas area yang terancam bahaya tergantung pada profil topografi pantai, akumulasi parameter bahaya, dan waktu.