Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh reputasi dan identifikasi organisasi terhadap intensi Word-of-Mouth pada organisasi sektor publik Shiddiq Sugiono; Maria Puspitasari
Manajemen Komunikasi Vol 6, No 1 (2021): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v6i1.28398

Abstract

Reputasi organisasi merupakan daya tarik yang dihasilkan dari pengomunikasian identitas organisasi kepada stakeholder. Daya tarik tersebut mampu mendorong seseorang untuk merekomendasikan produk atau layanan organisasi ataupun membangun ikatan dengan organsiasi. Pengujian dampak reputasi organsiasi tersebut akan duji dalam konteks organisasi sektor publik yang bersaing dengan sektor swasta. Permasalahan yang diangkat adalah kondisi organisasi sektor publik yang dihadapkan dengan masalah stereotip buruk yang mengurangi daya tarik organisasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara reputasi organsiasi dengan intensi WOM dengan identifikasi organisasi sebagai variabel mediator. Penelitian ini menggunakan paradigma positivistik dengan pendekatan kuantitatif. Sampel diperoleh melalui teknik sensus terhadap pegawai dan pelanggan Technology Business Incubation Center (TBIC) Puspiptek. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah PLS-SEM dengan total sampel yang akan diuji sebanyak 86 responden. Hasil penelitian menyebutkan bahwa identifikasi organisasi memberikan efek mediasi parsial terhadap pengaruh antara reputasi organisasi dengan intensi WOM. Hal tersebut menunjukan bahwa dorongan seseorang untuk melakukan WOM tidak hanya didasari oleh reputasi organisasi yang positif namun ada kontribusi dari ikatan antara dirinya dengan dirinya. Adapun penelitian ini memberikan implikasi bahwa organisasi sektor publik harus mampu menunjukan identitasnya kepada stakeholder sehingga timbul rasa keterikatan di antaranya.
Fenomena Industri Buzzer Di Indonesia: Sebuah Kajian Ekonomi Politik Media Shiddiq Sugiono
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol 4, No 1 (2020): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v4i1.7250

Abstract

This study aims to examine the shift in the buzzer concept, look at the various relationships between actors involved in the political buzzer industry, illustrate the abuse of regulations by the authorities and examine the buzzer industry in the concepts of media politics and economic theory. This research uses a descriptive qualitative approach. The research data was collected purposively and prioritized sourced from literature studies and documents examining the buzzer phenomenon in Indonesia. The results show that the buzzer term has shifted to a concept that generally resides in a political context and has negative stereotypes. There are various relations between actors who want to achieve their political goals by using a buzzer. The ruling party is considered to have misused the ITE Law as a tool to trap various sirens from the opposing parties. From the perspective of the political economy, the buzzer industry is often considered to ignore different ethics, one of which is by making one's personal life an industrial commodity. The emergence of political buzzer must be accompanied by public awareness to be vigilant and critical of messages on social media so that it is not provoked by the buzzer industry.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pergeseran konsep buzzer, melihat berbagai relasi antar aktor yang terlibat dalam industri buzzer politik, menggambarkan penyalahgunaan regulasi oleh pihak yang berkuasa dan mengkaji industri buzzer dalam konsep-konsep teori ekonomi politik media. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian dikumpulkan secara purposive dan diutamakan bersumber dari studi literatur dan dokumen yang mengkaji fenomena buzzer di Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa istilah buzzer mengalami pergeseran menjadi konsep yang secara umum berada di dalam konteks politik dan memiliki stereotip negatif. Terdapat berbagai relasi antar aktor yang ingin mencapai tujuan politiknya dengan menggunakan buzzer. Pihak yang berkuasa dinilai telah menyalahgunakan UU ITE sebagai suatu alat untuk menjerat berbagai buzzer dari pihak lawan. Dalam perspektif ekonomi politik, industri buzzer dinilai kerap mengabaikan berbagai etika, salah satunya dengan menjadikan kehidupan pribadi seseorang menjadi suatu komoditas industri. Munculnya buzzer politik harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk waspada dan mengkritisi pesan-pesan di media social, sehingga tidak terprovokasi oleh industri buzzer.
ONLINE REPUTATION CONCEPTUALIZATION Shiddiq Sugiono
Mediakom Vol 3 No 1 (2020): Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika, Informasi dan Komunikasi Publik (APTIKA dan IKP) Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/diakom.v3i1.74

Abstract

The development of information and communication technology is considered to have expanded the concept of reputation in the online realm. This expansion has an urgency for further investigation because in this case the internet has become the main medium used to find various sources of information. The purpose of this study is to further conceptualize online reputation and map the variables that become the impact of this concept based on studies from various academic literature. This article is a literature study using systematic literature review techniques through a qualitative approach. Basically, online reputation is rooted in the concept of word of mouth, this is consistent with the organizational reputation management model that has been formulated previously. The availability of various information on the internet becomes a source for someone to determine the reputation of an object. Online reputation must be followed by management efforts so that the expected results of the online activity strategy can be obtained. The variables that are the impact of online reputation management include: verification of asymmetric information, building personal and product brands, building brand loyalty, building trust in conducting online transactions.
PODCAST: BUDAYA DIGITAL DALAM ASPEK EDUKASI SELAMA PANDEMI COVID-19 Shiddiq Sugiono
Mediakom Vol 4 No 2 (2021): Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika, Informasi dan Komunikasi Publik (APTIKA dan IKP) Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/diakom.v4i2.256

Abstract

Pada masa pandemi Covid-19, muncul desakan untuk memanfaatkan konten digital agar aktivitas edukasi tetap berjalan secara efektif. Podcast terus berkembang seiring dengan tuntutan Pembelajaran Jarak Jauh, baik dalam sistem formal maupun nonformal. Hal ini perlahan-lahan membentuk budaya digital masyarakat sehingga menjadi terbiasa belajar secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya digital dalam fenomena produksi, distribusi dan konsumsi podcast di lingkup edukasi pada masa pandemi. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dengan pendekatan naratif. Berdasarkan hasil penelusuran pada basis data Scopus dan Google Scholar dengan menyatukan kata kunci podcast, Covid-19, serta education, ditemukan enam literatur yang terbit antara tahun 2020-2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan podcast telah mengubah budaya digital masyarakat. Pembelajaran tidak lagi dilakukan secara formal di kelas tetapi dapat dilakukan di mana pun. Pemanfaatan podcast telah mengubah dunia pendidikan menjadi lebih mudah diakses sehingga setiap orang dapat mencari materi pembelajaran di saluran digital. Adapun produksi podcast tidak hanya dilakukan oleh pengajar tetapi juga peserta didik. Perubahan dimensi pada produksi, distribusi dan konsumsi tersebut bisa menjadi referensi metode belajar setelah pandemi berakhir.