I Gede Suwindia
STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

The value The Value of Tri Kaya Parisudha Local Wisdom as a Form of Religious Education Transformation Ni Nyoman Kurnia Wati; I Gede Suwindia
International Journal of Interreligious and Intercultural Studies Vol 5 No 2 (2022): International Journal of Interreligious and Intercultural Studies
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ijiis.vol5.iss2.2022.3021

Abstract

This study aims to develop the values ??of local wisdom, especially Tri Kaya Parisudha, in transforming education. The development of the value of local wisdom Tri Kaya Parisudha is due to the increasing loss of local wisdom along with the increasingly rapid development of the times. This type of research is Research and Development (R&D) using a 4D development model. The subjects in this study were two experts or expert practitioners in the field of religion, five internal practitioners at STAHN Mpu Kuturan, and 86 respondents in the limited test. Methods of data collection in this study using interviews, questionnaires, and document studies. The data analysis method used the descriptive qualitative data analysis method. Content validation against indicators of local wisdom values ??was analyzed using Content Validity Ratio (CVR) analysis. Limited test results on the value of local wisdom using the average score of the respondents. Based on the research results at the definition stage, a needs analysis was carried out, namely 1) Performing an analysis of the values ??of Hindu local wisdom. 2) Formulation of local wisdom values ??following the vision and mission of STAH N Mpu Kuturan Singaraja. At the design stage, activities are carried out, including 1. Preparation of indicators for local wisdom values. 2. Preparation of the Tri Kaya Parisudha Questionnaire. Several activities are carried out at the development stage, including a) Content validity test. b) Revised indicators and questionnaires. The product is disseminated through quality assurance (P2M) STAHN Mpu Kuturan Singaraja at the dissemination stage.
The Existence of Religious Moderation in the Freedom Era Learn on the Independent Campus at a Religious Higher Education in Bali I Gede Suwindia; Ni Nyoman Kurnia Wati
International Journal of Interreligious and Intercultural Studies Vol 6 No 1 (2023): International Journal of Interreligious and Intercultural Studies
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine religious moderation in religious tertiary institutions, especially Hinduism in the independent era of independent campus learning. This research uses quantitative and qualitative methods (mixed methods). The research subjects on the existence of religious moderation in the MBKM era were 1 person from a higher education institution, 3 MBKM implementers in this case were lecturers, and 50 moderators in MBKM, namely students. The data collection method in this research uses interviews and questionnaires. The data analysis method is qualitative. The concept of religious moderation was translated at each tertiary institution in the era of the independent campus through subjects such as religious moderation, multicultural studies, anti-corruption courses, and several other courses which included religious moderation. Obstacles faced in implementing religious moderation in the era of independent learning on an independent campus at religious tertiary institutions in Bali include limited facilities and infrastructure, unable to prepare special facilities/places of worship for students of different religions. Adjusting to the new curriculum and making moderation a subject requires a good thought for both the policy makers and the lecturers. The strategy undertaken in dealing with obstacles in the implementation of religious moderation in the era of independence was to study independent campuses at religious universities in Bali by strengthening religious moderation. Collaborating with religious universities other than Hinduism, creating guest lecturer programs to fill in courses that are integrated with religious moderation content, conducting religious moderation workshops that are trained by practitioners or by experts from various religions.
Strategi efektif meningkatkan literasi sains di era digital I Komang Edi Santosa; I Gede Suwindia; I Made Ari Winangun
Education and Social Sciences Review Vol. 5 No. 2 (2024): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr499700

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah membawa dampak signifikan terhadap pendidikan, termasuk literasi sains. Artikel ini mengeksplorasi strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi sains di era digital melalui tinjauan pustaka sistematis. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis teknologi digital, seperti e-Modul interaktif, laboratorium virtual, dan aplikasi simulasi, secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Selain itu, integrasi budaya lokal dalam pembelajaran sains memberikan manfaat besar dalam meningkatkan relevansi dan keterlibatan siswa. Namun, tantangan seperti kesenjangan digital dan kurangnya keterampilan digital guru tetap menjadi hambatan utama. Artikel ini merekomendasikan pelatihan guru yang komprehensif, peningkatan infrastruktur, dan pengembangan konten berbasis bukti untuk mendukung literasi sains di era digital secara inklusif dan berkelanjutan.
Mengurai faktor kunci literasi membaca: perspektif teoritis dan empiris MADE ARTAMA; I Gede Suwindia; I Made Ari Winangun
Education and Social Sciences Review Vol. 5 No. 2 (2024): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr500000

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor kunci yang memengaruhi literasi membaca siswa melalui pendekatan teoritis dan empiris. Dengan menggunakan metode kajian literatur, penelitian ini mengkaji berbagai aspek literasi membaca, termasuk faktor internal seperti kemampuan linguistik, motivasi, dan persepsi, serta faktor eksternal seperti lingkungan sosial, keterlibatan keluarga, dan kualitas pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi membaca dipengaruhi secara kompleks oleh interaksi antara faktor-faktor internal dan eksternal. Selain itu, teknologi digital memiliki dampak yang signifikan, baik sebagai peluang untuk meningkatkan akses informasi maupun tantangan dalam mengelola distraksi digital. Penelitian ini menyarankan perlunya pendekatan holistik yang mengintegrasikan strategi pedagogis efektif, teknologi digital, dan nilai budaya lokal untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa.
Literasi sains pada generasi z: sebuah tinjauan literatur Ni Made Budianti; I Gede Suwindia; I Made Ari Winangun
Education and Social Sciences Review Vol. 5 No. 2 (2024): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr500100

Abstract

Generasi Z yang tumbuh di era digital, menghadapi tantangan besar dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep ilmiah di tengah derasnya arus informasi era post-truth. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji literasi sains pada Generasi Z melalui tinjauan literatur guna mengeksplorasi peluang dan strategi peningkatan keterampilan ini. Literasi sains, sebagai keterampilan esensial abad ke-21, tidak hanya membantu individu memahami isu global seperti perubahan iklim dan pandemi, tetapi juga mendorong berpikir kritis dan inovasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi digital, seperti augmented reality dan aplikasi interaktif, dapat menjadi alat efektif untuk meningkatkan pemahaman sains Generasi Z. Namun, tantangan seperti rendahnya literasi digital dan pengaruh disinformasi masih menjadi penghambat utama. Artikel ini menawarkan rekomendasi strategis berupa integrasi teknologi digital dalam pembelajaran, pengembangan kurikulum berbasis proyek, dan penyesuaian metode pengajaran dengan karakteristik digital-native Generasi Z. Dengan pendekatan adaptif dan kolaboratif, literasi sains dapat menjadi fondasi bagi Generasi Z untuk menghadapi tantangan global secara lebih kritis dan inovatif
Gamifikasi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di era digital KOMANG SUPARMINI; I Gede Suwindia; I Made Ari Winangun
Education and Social Sciences Review Vol. 5 No. 2 (2024): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr500200

Abstract

Gamifikasi telah menjadi salah satu pendekatan inovatif dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa di era digital. Penerapan elemen permainan dalam konteks pendidikan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar dan kinerja akademik siswa. Studi ini melakukan tinjauan pustaka sistematis untuk mengevaluasi efektivitas gamifikasi dalam meningkatkan motivasi siswa di berbagai konteks pembelajaran digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gamifikasi memiliki dampak positif pada motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar siswa, serta memberikan peluang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan generasi digital. Namun, tantangan dalam implementasi, seperti keseimbangan antara elemen permainan dan edukasi, masih menjadi perhatian utama. Tinjauan ini juga mengungkapkan perlunya penyesuaian berkelanjutan agar gamifikasi dapat secara efektif mempertahankan motivasi siswa.
Literasi digital dan kecakapan abad ke-21: analisis komprehensif dari literatur terkini Saifudin Zuhri; I Gede Suwindia; I Made Ari Winangun
Education and Social Sciences Review Vol. 5 No. 2 (2024): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr500300

Abstract

Literasi digital menjadi elemen esensial dalam pendidikan abad ke-21, terutama di jenjang pendidikan dasar. Artikel ini menyajikan kajian literatur terkini mengenai pengembangan literasi digital dalam kaitannya dengan kecakapan abad ke-21. Temuan menunjukkan bahwa literasi digital mendukung keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi siswa, tetapi implementasinya menghadapi kendala signifikan seperti kesenjangan akses teknologi dan keterbatasan pelatihan guru. Dengan mengadopsi pendekatan inovatif seperti pembelajaran berbasis teknologi dan integrasi kurikulum, literasi digital dapat memperkuat kesiapan siswa menghadapi era digital. Artikel ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektoral dalam meningkatkan literasi digital untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan efektif.
Transformasi literasi di era digital: tantangan dan peluang untuk generasi muda I Made Putrayasa; I Gede Suwindia; I Made Ari Winangun
Education and Social Sciences Review Vol. 5 No. 2 (2024): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr501400

Abstract

Artikel ini membahas transformasi literasi di era digital yang mencakup integrasi literasi membaca tradisional dan literasi digital dalam konteks generasi muda. Era digital telah membawa perubahan signifikan dalam konsep literasi, yang kini mencakup keterampilan teknis, pemahaman kritis, dan pengelolaan informasi digital. Di satu sisi, teknologi digital meningkatkan aksesibilitas informasi dan peluang pembelajaran. Di sisi lain, tantangan seperti misinformasi, kesenjangan digital, dan dampak media sosial terhadap kemampuan membaca mendalam menjadi perhatian utama. Artikel ini mengintegrasikan berbagai literatur terkini untuk menganalisis bagaimana kedua jenis literasi tersebut saling melengkapi atau berbenturan dalam membentuk kompetensi literasi generasi muda. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan memainkan peran kunci dalam menjembatani kesenjangan literasi digital dan membaca, dengan rekomendasi berupa penguatan kebijakan pendidikan, peningkatan akses teknologi, dan strategi pembelajaran inovatif.
Kajian Etnopedagogi Tari Rejang Ungkur pada Pujawali Pura Desa Bubunan juniagus Putu ketut; I Gede Suwindia; I Nyoman Miarta Putra Miarta Putra
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.19647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis bentuk Tari Rejang Ungkur yang dipentaskan pada Pujawali Pura Desa Bubunan, Seririt, Buleleng; (2) Mengkaji alasan pemilihannya sebagai bagian dari upacara Pujawali; (3) Menganalisis dampak pendidikannya. Metode kualitatif diterapkan melalui observasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan dokumentasi naskah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Rejang Ungkur merupakan tari putri halus berfungsi sebagai pemuput upacara. Ia memiliki struktur empat bagian (pepeson, pengawak, pengecet, pekaad) dengan paduan gerak Jawa-Bali dan iringan Gong Kebyar (pelog-selendro) serta vokal gerong. Pola lantainya beragam, termasuk simbol Dewata Nawa Sangga. Pementasannya diawali ritual mepiuning dan melukat dengan sarana banten khusus. Pemilihan tarian ini didasari oleh nilai sakral dan tradisi turun-temurun. Keberadaannya memunculkan empat praktik pendidikan dalam masyarakat Bubunan: Religius, Solidaritas, Estetika, dan Budaya. Dampak signifikannya meliputi: penanaman nilai etika pada penari, penguatan konsep menyamabraya (kolektivitas) di masyarakat, serta kesadaran pemerintah desa akan pentingnya melestarikan kesenian lokal sebagai media sosialisasi nilai-nilai pendidikan. Dengan demikian, Tari Rejang Ungkur bukan hanya ekspresi ritual, tetapi juga media pendidikan multidimensi yang berpengaruh bagi penari, masyarakat, dan tata kelola budaya desa.