Effie Latifundia
Balai Arkeologi Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEHIDUPAN RELIGI MASYARAKAT Dl DAERAH PERBATASAN KABUPATEN KUNINGAN- KABUPATEN CILACAP (Religious Life of Communities in the Border of Kuningan Regency-Cilacap Regency) Effie Latifundia
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5040.613 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.185

Abstract

Until now, in some villages in the border area of Kuningan-Cilacap people still support the megalithic tradition. Ancestor worship or veneration of ancestral spirits Is a growing belief in the concept of megalithic culture, ie a culture that uses objects atu stone building as a means of rituals. This study aims to explore the remains of megalithic tradition which is still ongoing in the community to this day in some villages in the border area of Kuningan Regency, West Java to Cilacap, Central Java, and the media are to be used. This research was conducted by survey method to collect information and describe forms of cultural remains. The results showed although Islam has been embraced as a religion, but belief in ancestors as local religious understanding before Islam developed, ongoing, and maintained by several rural communities in the border. It can be concluded, that the less an area under the influence of the outside then resulting in stronger local element/dominant code of conduct rooted in the community, because it is already in progress in the long term. AbstrakSampai sekarang ini, beberapa desa di daerah perbatasan Kuningan-Cilacap masyarakatnya maslh mendukung tradisi megalitik. Pemujaan leluhur atau pemujaan terhadap roh nenek moyang merupakan suatu konsep kepercayaan yang berkembang pada kebudayaan megalitik, yaitu suatu kebudayaan yang menggunakan benda-benda atu bangunan dari batu sebagai sarana ritualnya. Penelitian ini bertujuan menggali sisa-sisa tradisi megalitik yang masih berlangsung dalam masyarakat hingga sekarang ini di beberapa desa di daerah perbatasan Kabupaten Kuningan (Jawa Barat) dengan kabupaten cilacap (Jawa Tengah) dan media apa saja yang digunakan. Penelitian Ini dilakukan dengan metode survel untuk mengumpulkan informasi dan mendeskripaikan bentuk-bentuk tinggalan budayanya. Hasil penelitian menunjukkan meskipun Islam telah dianut sebagai agama namun kepercayaan terhadap Ieluhur sebagai paham religi lokal sebelum Islam berkembang, masih tetap berlangsung dan dipertahankan oleh beberapa masyarakat pedesaan dl perbatasan. Dapat disimpulksn, bahwa semakin kurang suatu daerah mendapat pengaruh dari luar maka dapat mengakibatnya unsur lokal semakin kuat/dominan mengakar dalam tata laku dan kepercayaan masyarakatnya, karena hal tereebut sudah berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
BATU TELAPAK KAKI CADASARI PANDEGLANG: KETERKAITANNYA DENGAN PRASASTI CIARUTEUN Effie Latifundia
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.100

Abstract

AbstrakBatu telapakkaki Cadasari merupakan permasalahan umum yang dibahas pada tulisan ini. Tulisan ini mencoba mengungkap adakah keterkaitan antara  telapak kaki Cadasari Pandeglang dengan  telapak kaki Purnawarman prasasti Ciaruteun.Metode penelitian arkeologi dipergunakan untuk menjawab permasalahan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, survei, dan wawancara. Batu tapak dipandang sebagai salah satuwujud kebudayaan materi yang digunakan oleh masyarakat masa lalu dalam mengekspresikan kebudayaannya muncul dan berkembang pada masa klasik/Hindu-Buddha. Menurut para ahli, bahwa tadisi batu telapak kaki mulai berkembang bersamaan dengan berkembangnya masa Tarumanagara. Masa Tarumanagara ditandai dengan sejumlah prasasti. Hasil analisis melalui aspek kebudayaan, dimensi ruang, waktu dan bentuk serta menelaah simbol dan makna mengindikasikan bahwa telapak kaki Cadasari  memiliki keterkaitan dengan batu telapak kaki Purnawarman dalam prasasti Ciaruteun. Telapak kaki Cadasari dengan telapak kaki Purnawarman memiliki simbol dan makna budaya sejajar. Telapak  kaki Cadasari menunjukkan simbol pengesahan atau legitimasi dari penguasa pada masa itu. Dengan demikian batu telapak Cadasari mengandung arti/makna bahwa kawasan Cadasari merupakan  bagian dari kekuasaan Tarumanagara di bawah pemerintahan Purnawarman.AbstractCadasari stone foot is a common problem that is discussed in this paper. This paper attempts to uncover the relationship between the feet of Cadasari Pandeglang and the feet of Purnawarman in the inscription of Ciaruteun. The archaeological method research is used to answer the problem. The data was collected through literature studies, surveys, and interviews. Stone footprint is seen as one of the cultural artifact materials used by past societies in expressing culture emerged and developed in the classical period / Hindu-Buddhist.  According to experts, the stone feet tradition began and developed spreadly during Tarumanagara kingdom. Several numbers of inscriptions marked Tarumanagara kingdom period. The results of the analysis through the aspect of culture, dimensions of space, time and form as well as examine the symbols and meanings indicate that the soles of the feet of Cadasari has been linked to the foot stone inscription of Purnawarman in the inscription of Ciaruteun. Cadasari and Purnawarman’s foot have equal cultural symbols and meanings. Footprint of Cadasari shows the symbol of endorsement or legitimacy of the ruler at the time. Therefore, the stone of Cadasari means / implies that the region of Cadasari is a part of the power of Tarumanagara under the Purnawarman Governance.
Unsur Religi pada Makam-makam Kuna Islam di Kawasan Garut Effie Latifundia
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.134 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.509

Abstract

This work is based on field studies made in the year 2007 – a study of writings held by libraries and various govt. and semi-governmental bodies. Research reveals that many prominent people were buried in the Garut area, among them: Syech Sunan Rohmat (in the tomb of Godog), Raden Wangsa Muhamad (in the tomb of Cinunuk) and Syekh Jafar Sidiq, entombed at Cibiuk, one of the most charismatic religious leaders of his day. This third figure (Jafar Sidiq), and indeed his tomb, greatly helped the spread of Islam and even created Garut as a suitable place of pilgrimage, drawing even pilgrims from beyond Indonesia. The motivation for declaring these three tombs a suitable place for pilgrimage is based on the perception that these tombs are worthy places for meditation and for pondering a better life to come. It may be concluded that a number of religious observations, whether carried out individually or else as part of a group, are of great religious import. These pilgrimages continue to this day and may be reckoned as worthy of association with the greater pilgrimages to the Holy Land. Keywords: religion, pilgrimage, ancient tombs, Garut district. Tulisan ini diawali penelitian lapangan yang dilaksanakan pada tahun 2007, dengan metode survei dilengkapi studi kepustakaan, dan wawancara. Melalui tulisan ini berhasil diungkap bahwa tokoh-tokoh yang dimakam¬kan pada ketiga makam kuna di kawasan Garut, yaitu Syech Sunan Rohmat pada makam Godog, Raden Wangsa Muhamad pada makam Cinunuk, dan Syekh Jafar Sidiq pada makam Cibiuk merupakan tokoh yang kharismatik dan religius yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat setempat. Ketiga tokoh penyebar Islam tersebut makamnya dikeramatkan dan sakral serta ramai dikunjungi para peziarah yang datang baik dari dalam maupun luar kawasan Garut dan bahkan dari luar negeri. Motivasi para peziarah berkunjung pada tiga makam tersebut dilandasi persepi bahwa makam merupakan tempat untuk melakukan tafakur atau tempat yang tepat bagi peziarah yang mengutamakan kehidupan spiritual dengan harapan salah satunya hidup akan lebih baik. Dapat disimpulkan bahwa sejumlah upacara yang dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama secara serentak dengan penekanan pada upacara (ritus) berdoa, bersaji, atau upacara berupa pesta tahunan, selamatandan sebagainya hal ini menggambarkan unsur religi. Kegiatan religi tersebut masih terus berlangsung dan melekat pada kegiatan ziarah. Kata Kunci: religi, ziarah, makam kuna, kawasan Garut.