Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Deksametason Terhadap Kadar D Dimer Plasma pada Pasien Tumor Otak Agus Setiawan; Dwi Pudjonarko; Dodik Tugasworo
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 1 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.963 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i1.205

Abstract

Latar belakang : Kanker meningkatkan risiko trombosis dan meningkatkan kadar D dimer melalui disfungsi endotelial akibat VEGF yang diproduksi sel kanker. Terapi deksametason memperbaiki sawar darah otak dengan menurunkan VEGF, sehingga mengurangi edema vasogenik. Deksametason diperkirakan dapat menurunkan kadar D dimer plasma pada pasien tumor otak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian deksametason dengan kadar Ddimer plasma pasien tumor otak. Metode : Penelitian ini menggunakan model eksperimental kuasi terhadap 17 pasien tumor otak, yang direkrut secara konsekutif, dan tidak dalam kemoterapi atau radioterapi. Diagnosis tumor otak didasarkan pada CT sken kepala dan D dimer plasma diukur dengan ELISA (Sysmex). Seluruh pasien diberikan terapi deksametason, dan kadar D dimer diukur sebelum dan 4 hari setelah pengobatan deksametason. Uji t berpasangan digunakan untuk menguji perubahan kadar D dimer. Hasil : Responden penelitian ini adalah perempuan sebanyak 11 (64,7%) pasien, sedangkan laki-laki sebanyak 6 (35,3%) pasien, dan terbanyak berada kelompok usia 41-50 tahun sebanyak 9 (52,9%) orang. Keadaan hiperkoagulasi (peningkatan kadar D dimer >500 ng/ml) pada sebanyak 6 (35,3%) pasien. Kanker yang paling sering adalah meningioma sebanyak 10 (58,8%) pasien, diikuti oleh glioma sebanyak 4 (23,5%) pasien dan metastase otak pada 3 (17,6%) pasien. Tidak terdapat perbedaan pada kadar D Dimer plasma antara pra dan pasca terapi deksametason (p=0,658). Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis tumor otak (intra dan extra-axial) terhadap perubahan kadar D dimer plasma (p=0,029). Simpulan : Pemberian deksametason pada pasien dengan tumor otak tidak mempengaruhi kadar D dimer plasma
Prediksi Hiperlaktatemia Terhadap Sepsis Dan Luaran Buruk Pada Pasien Intracerebral Hemorrhage Retnaningsih; Dodik Tugasworo; Ageng Priatmaja; Supardi
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 42 No 2 (2026): Volume 42, No 2 - Maret 2026
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Sepsis is a serious complication and major cause of mortality among intracerebral hemorrhage (ICH) patients in the intensive care unit (ICU). Serum lactate is commonly used as a prognostic biochemical marker for sepsis in critically ill patients. Aims: This study aimed to evaluate the relationship between serum lactate levels, sepsis incidence, and clinical outcomes in ICH patients in ICU of Dr. Kariadi Hospital. Methods: A retrospective observational cohort study was performed on 30 ICH patients hospitalized in the ICU during 2024. Data normality tested using Shapiro-Wilk; non-normal data were analysed by Mann-Whitney U, categorical data by Chi-square test. Results: Among 30 patients (12 males, 18 females), 20 had hyperlactatemia (>2 mmol/L). The hyperlactatemia group had higher sepsis incidence (90% vs. 50%, p=0.014), MODS (70% vs. 30%, p=0.037), high NLR (>8; 80% vs. 40%, p=0.028), longer ventilator (>8 days; 75% vs. 40%, p=0.007), and LOS (>8 days; 75% vs. 40%, p=0.007). Discussion: Routine serum lactate monitoring in ICH ICU patients is recommended for early detection and prognosis of sepsis. Larger prospective studies are needed to validate these findings. Keywords: ICU, intracerebral haemorrhage, lactate, prognosis, sepsis