Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

A Boy With Suspicion of Type V Glycogen Storage Disease Maria Mexitalia; Astri Pinilih
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.99 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.324

Abstract

Latar belakang : Glycogen storage disease subtipe V (GSD-V; penyakit McArdle; defisiensi miofosforilase; defisiensi fosforilase glikogen otot) disebabkan oleh mutasi pada gen fosforilase glikogen otot. Gejala klinis biasanya dimulai pada saat remaja awal dengan intoleransi latihan dan kekakuan otot. Mioglobinuria transien terjadi akibat rhabdomiolisis setelah latihan dan dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Kasus : Seorang anak laki-laki, usia 13 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Dr.Kariadi dengan keluhan bengkak seluruh tubuh, urine berwarna hitam, demam, kaku pada jari-jari dan tidak dapat berjalan. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema general, paraparese innferior, paralisis nervus fasialis dan pembesaran lien. MRI kepala dengan kontras menunjukkan lesi multipel di nukleus kaudatus dan putamen bilateral. Hasil histopatologi biopsi hepar adalah penyakit metabolik yang cenderung merupakan kelainan metabolism karbohidrat. Pembahasan :Hampir seluruh pasien dengan penyakit McArdle menunjukkan intoleransi latihan, seperti mudah lelah, nyeri otot, kontraktur dan mioglobinuria yang dipicu oleh latihan. Diagnosis definitif adalah berdasarkan pemeriksaan histokimiawi otot dengan tidak ditemukannya enzim fosoforilase otot. Penyakit McArdle tidak dapat disembuhkan dan tidak ada terapi khusus yang direkomendasikan. Simpulan : Pasien didiagnosis dengan kecurigaan glycogen storage disease tipe V.. Pasien mendapatkan terapi nutrisi suplementasi vitamin B6, vitamin B12 dan fisioterapi. Terdapat beberapa pemeriksaan yang belum dapat dilakukan selama perawatan, yaitu forearm ischemic exercise, evaluasi mioglobinuria, kreatinin kinase dan analisis genetika. Kata kunci : GSD tipe V, anak, penyakit metabolik
UJI SENSITIVITAS EKSTRAK DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata) TERHADAP Staphylococcus aureus Astri pinilih; Hidayat Hidayat
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.111 KB) | DOI: 10.33024/.v1i1.296

Abstract

Stapylococcus aureus adalah salah satu bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit infeksi pada manusia. Sekarang ini telah banyak ditemukan obat-obat antibiotik yang sudah resisten tehadap Staphylococcus aureus. Cocor bebek diketahui sebagai tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengobati penyakit infeksi, salah satunya penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun cocor bebek terhadap staphylococcus aureus pada berbagai konsentrasi 0% (kontrol), 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100%, untuk menngetahui Konsentrasi Hambat Minimun (KHM) ekstrak daun cocor bebek terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat Eksperimen Laboratory (penelitian laboratorium) dengan menggunakan metode difusi agar.Penelitian ini menunjukan bahwa Ekstrak daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) memiliki daya hambat terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 30% sampai 100%. Pada uji statistik one way ANOVA (p < 0,05) didapatkan p = 0,000 (p < 0,05), artinya terdapat perbedaan diameter zona hambat pada masing-masing konsentrasi. Dan ekstrak daun cocor bebek memiliki daya hambat minimal pada konsentrasi 30%. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun cocor bebek memiliki daya hambat teradap Staphylococcus aureus dan memiliki konsentrasi hambat minimum pada konsentrasi 30%  
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN DAN PERAWAT TENTANG PEMBERIAN VITAMIN K PADA BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS KECAMATAN MESUJI TIMUR TAHUN 2022 Aprellia Irianti Irianti; Muhammad Yunus; Arti Febriyani Hutasuhut; Astri Pinilih
Medula Vol 12 No 4 (2022): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v12i4.529

Abstract

Background: Vitamin K is a fat-soluble vitamin that has an important role in activating substances that play a role in blood clotting. Neonates tend to have relatively lower levels of vitamin K and vitamin K reserves in the liver compared to neonates. This causes newborns to tend to have vitamin K deficiency. Objective: To describe the level of knowledge of midwives and nurses about giving vitamin K to newborns at the Puskesmas Mesuji Timur District in 2022. The type of research used is descriptive with a cross sectional design. The sample in this study were midwives and nurses at the Mesuji Timur District Health Center with a total of 65 people. Results: In this study, the frequency of sufficient knowledge level of respondents was 47 people with a percentage of 72.3%. The conclusion of this study is that midwives at the Puskesmas Mesuji Timur District have good knowledge of 16%, 38% enough and less 8%. Nurses at the Puskesmas Mesuji Timur District have good knowledge of 26,7%, enough 60% and less 13,3%.