Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Proses Pemerolehan Bahasa Kedua pada Peserta Didik Sabah Malaysia di SMK Brantas Karangkates Wawan Setyawan; Luluk Sri Agus Prasetyoningsih
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.073 KB)

Abstract

Pemerolehan Bahasa kedua terjadi setelah seseorang memperoleh bahasa ibunya (B1). Berdasarkan teori behaviorisme dan kognitivisme dapat disimpulkan bahwa factor lingkungan berperan besar dalam pemerolehan bahasa kedua. Studi penelitian ini tentang proses pemerolehan Bahasa kedua peserta didik Sabah Malaysia di SMK Brantas Karangkates. Penelitian ini bersifat penelitian kualitatif deskriptif yang nanti akan diuraikan secara terperinci tentang proses pemerolehan Bahasa kedua peserta didik Sabah Malaysia di SMK Brantas Karangkates. Dimana sumber data yang dipakai ialah peserta didik Sabah Malaysia itu sendiri. Pemerolehan bahasa kedua pada peserta didik Sabah Malaysia didapat melalui beberapa proses pemerolehan bahasa yang terdiri dari (a) adanya kemiripan antara B1 dengan B2, (b) pemerolehan bahasa kedua dari lingkugan SMK Brantas Karangkates yang diklasifikasikan menjadi dua yaitu di luar kelas dan di dalam kelas Mapel Bahasa Indonesia. Hailnya, Peserta didik Sabah Malysia mampu menguasai Bahasa kedua dengan baik di SMK Brantas Karangkates karena adanya beberpa faktor yang diantaranya adanya kesamaan B1 dengan B2, Interaksi komunikasi yang dilakukan setiap waktu dengan teman sekolah yakni pelajar asli dari penduduk Indonesia yang terjadi di luar kelas, dan inputan pengajar yang mendorong berlangsungnya proses pemerolehan Bahasa kedua yang terjadi di dalam kelas Mapel Bahasa.Kata kunci : Pemerolehan bahasa kedua, lingkungan sekolah The acquisition of a second language occurs after a person acquires his mother tongue (B1). Based on the theory of behaviorism and cognitivism, it can be concluded that environmental factors play a major role in the acquisition of a second language. This research study is about the process of acquiring the second language of Malaysian Sabah students at SMK Brantas Karangkates. This research is a descriptive qualitative research which will be described in detail about the process of acquiring the second language of Malaysian Sabah students at SMK Brantas Karangkates. Where the data source used is the Malaysian Sabah students themselves. The acquisition of a second language for Malaysian Sabah students is obtained through several language acquisition processes consisting of (a) the similarity between B1 and B2, (b) the acquisition of a second language from the Brantas Karangkates Vocational School environment which is classified into two, namely outside the classroom and inside the classroom. Indonesian Language Maple. As a result, Sabah Malysia students are able to master a second language well at SMK Brantas Karangkates because of several factors, including the similarities between B1 and B2, communication interactions that are carried out every time with school friends, namely native Indonesian students that occur outside the classroom, and teacher input that encourages the process of acquiring a second language that occurs in the Language Subject class.Keywords: Second language acquisition, school environment
PENGEMBANGAN E-MODUL TEKS EKSPOSISI BERBASIS HOTS MENGGUNAKAN SIGIL BAGI PESERTA DIDIK KELAS X SMK Wawan Setyawan; Sahudi; Uswatun Khasanah; Aminullah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 19 No 2 (2023)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/yd11s640

Abstract

ABSTRAK: Saat ini pendidikan di indonesia memasuki era pendidikan abad 21. Terdapat beberapa tuntutan dalam pendidikan abad 21 yaitu (1) menuntut adanya keterlibatan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dalam proses pembelajaran, (2) menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, serta (3) memfokuskan pada literasi atau kemahiran wacana melalui penguasaan jenis-jenis teks. Secara tidak langsung untuk memenuhi tuntutan tersebut pelaku pendidikan dalam hal ini guru harus mampu berinovasi. Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah membuat model elektronik yang mampu membuat peserta didik berpikir kritis dan mampu belajar secara mandiri. Tujuan penelitian pengembangan ini secara umum yang akan dicapai adalah tersusunnya e-modul teks eksposisi berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) menggunakan Sigil bagi peserta didik kelas X SMK. Prosedur pengembangan dalam penelitian ini adalah adaptasi prosedur pengembangan (Borg & Gall, 1989). Adapun langkahnya yaitu (1) pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) uji coba produk, (5) revisi produk. Subjek penelitian ini adalah ahli perancangan pembelajaran, ahli materi/isi, ahli kebahasaan, ahli media, pengguna (guru), dan pengguna (peserta didik). Instrumen pengumpulan data berupa lembar penilaian yang dinilai oleh ahli perancangan pembelajaran, ahli materi/isi, ahli kebahasaan, ahli media, pengguna (guru), dan pengguna (peserta didik). Hasil uji coba menunjukkan bahwa pertama yaitu penilaian ahli perancangan pembelajaran, diperoleh hasil penilaian sebesar 92% dengan kategori “sangat layak”. Yang kedua yaitu penilaian ahli materi/isi, diperoleh hasil penilaian sebesar 94% dengan kategori “sangat layak”. Yang ketiga yaitu penilaian ahli kebahasaan, diperoleh hasil penilaian sebesar 86% dengan kategori “layak”. Keempat penilaian ahli media, diperoleh hasil penilaian sebesar 92% dengan kategori “sangat layak”.