Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ISLAM DAN NASIONALISME PERSPEKTIF SUKARNO Naila Farah; Rifqi Ulinnuha
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7255

Abstract

Refleksi pemikiran Soekarno pada masa pra-kemerdekaan mencerminkan akumulasi dari berbagai aliran pemikiran yang berkembang pada saat itu, hal ini terlihat dari obsesinya untuk mempersatukan golongan nasionalisme, Islam, dan Marxisme. Golongan nasionalis dan Marxis adalah mereka yang dari Jawa ataupun yang dari luar Jawa yang terpesona oleh Pustaka Barat dan beranggapan bahwa Islam adalah agama yang terbatas mengatur masalah perseorangan saja, bahkan golongan nasionalis yang netral agama dan komunis menganggap Islam sebagai agama yang tidak relevan dengan perkembangan zaman. Sedangkan golongan Islam seperti K.H. Ahmad Dahlan dan teman-temannya menganggap sebaliknya, yakni Islam bisa mengantisipasi perkembangan zaman dan bisa memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan manusia dalam berbagai bidang kehidupan baik yang bersifat individual maupun kelompok atau kenegaraan. Perspektif Sukarno tentang Islam dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal didapatkan dari budaya lokal (Jawa) dan faktor eksternal yang didapatkan dari pemikiran modernis.Kata Kunci: Islam, Nasionalisme, Pluralisme, Toleransi, Majemuk
MAKNA RITUAL MAULIDAN BAGI MASYARAKAT BUNTET PESANTREN KECAMATAN ASTANAJAPURA KABUPATEN CIREBON Naila Farah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7262

Abstract

Maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dipahami, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW, hal ini banyak menimbulkan sebuah nilai-nilai ritual yang berbeda dan unik dalam menciptakan sebuah identitas sosial ditengah-tengah masyarakat yang majemuk, sehingga penulis dapat menggambarkan satu tradisi maulidan di suatu daerah Pesantren Buntet.Korelasinya adalah nilai-nilai Tradisi, etnik, kultur, ukhuwah, toleransi, sosial dan lainnya yang bertendensi terhadap perkembangan Islam di Indonesia secara membumi. Dalam kajian Penelitian ini, penulis akan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif menurut pendapat Lexy Moeleong Adalah penelitian yang hasinya berupa data deskriptif melalui pengumpulan fakta–fakta dari kondisi alami sebagai sumber langsung dengan instrument dari penelitian sendiri.Berdasarkan beberapa pernyataan dari kalangan santri, kyai dan masyarakat setempat menanggapi tentang makna maulidan beragam pendapat yang diutarakan diantaranya, menurut sawal (santri) saya selalu mengikuti muludan di Masjid karena diperintahkan oleh kyai saya dan merasa lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Senada dengan penuturan diatas pula Misnen (Warga Buntet) merasakan hal yang sama dan sudah menjadi kewajiban untuk mengagungkannya. Sedikit berbeda ketika ditanyakan kepada Kyai Ahmad (tokoh Masyarakat) beliau memberikan pernyataan jauh lebih mendalam bahwa maulid Nabi Muhammad adalah gerbang untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT yang bermuara pada nilai-nilai ketauhidan, keimanan, ketakwaan kita selama hidup di dunia.
PERKEMBANGAN EKONOMI DAN ADMINISTRASIPADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH naila farah
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.013 KB) | DOI: 10.24235/amwal.v6i2.227

Abstract

ABSTRAKSektor pembangunan di bidang ekonomi merupakan masalah sentral dalam pembangunan suatu negara. Ia dapat dikatakan sebagai tulang punggung atau bahkan jantung dari kehidupan suatu negara. Tanpa didukung oleh ekonomi yang kuat, mustahil suatu negara dapat melaksanakan pembangunan-pembangunan di bidang yang lain secara baik dan sempurna.Perkembangan perekonomian pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah secara umum sudah mulai meningkat dibanding dengan masa sebelumnya. Meningkatnya perekonomian yang membawa kepada kemakmuran rakyat pada dinasti ini, sebenarnya tidak terlepas  dari kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan khalifah, di samping dukungan masyarakat terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut.Dalam masa permulaan pemerintahan Bani Abbasiyyah, pertumbuhan ekonomi (economic growth) dikatakan cukup stabil dan menunjukkan angka vertikal. Devism negara berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak dari pada pengeluaran.  Khalifah al-Mansur merupakan tokoh ekonom Abbasiyyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi dan keuangan negara. Keutamaan al-Mansur dalam menguatkan dasar Daulah Abbasiyyah dengan ketajaman pikiran, disiplin, dan adil adalah sama halnya dengan Khalifah Umar ibn Khattab dalam menguatkan Islam. Kata Kunci : Bani Umayah, Bani Abbasiyah, Ekonomi dan Administrasi
PANCASILA : SOLUSI ISLAM DAN KEBANGSAAN Naila Farah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15509

Abstract

Pancasila merupakan hasil kerja serius bangsa Indonesia, terutama mereka yang bergabung dengan BPUPKI. Di antara mereka ada yang menyandang gelar ulama. Mereka dan para pemuka dari agama lain bersama-sama merumuskan dan menetapkan apa yang akan menjadi dasar negara. Dalam merumuskan dan menetapkan dasar negara, mereka mengacu pada kepentingan bersama (bangsa Indonesia) dengan mempertimbangkan berbagai masukan yang datang dari masyarakat. Pancasila sudah terbukti bisa menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk, sungguhpun dalam perjalanannya ia tidak lepas dari tantangan dan kritik. Pancasila merupakan ideologi  berbangsa dan bernegara, untuk itu tidak pada tempatnya untuk membandingkan antara agama dan Pancasila.Sungguhpun demikian, masih juga terdapat sebagian kecil umat Islam yang berpendapat  bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam. Sekiranya Pancasila bertentangan dengan Islam, sudah barang tentu para ulama akan menolaknya untuk dijadikan sebagai dasar negara.Menurut Harun Nasution, Pancasila tidak bertentangan dengan Islam melainkan sejalan dengannnya, bahkan sila-sila yang terdapat di dalamnya adalah juga ajaran dasar yang terdapat dalam Islam.A.K. Priggodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta : Dian Rakyat, 1961.AMW. Pranarka, Sejarah pemikiran Tentang Pancasila, Jakarta : CSIS, 1987.Bahtiar Effendi, Islam dan Negara, Transformasi Pemikiran Islam, dalam majalah “prisma”, Jakarta : LSAF, 1992.Bernhard Dahm, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, jakarta : LP3ES, 1987.Endang Syaifuddin Anshari, Piagam Jakarta, Jakarta : CV. Rajawali, 1986.Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung : Mizan, 1995.Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Gerakan dan Pemikiran, Jakarta : Bulan Bintang, 1985.M. Bambang Pranowo, Islam dan Pancasila, Dinamika Politik Islam di Indonesia, dalam jurnal Ulumul Qur’an, Jakarta : LSAF, 1992.makalah pada acara peresmian Yayasan Badan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1986.Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan, Jakarta : Paramadina, 1995.
PERKEMBANGAN EKONOMI DAN ADMINISTRASIPADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH naila farah
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v6i2.227

Abstract

ABSTRAKSektor pembangunan di bidang ekonomi merupakan masalah sentral dalam pembangunan suatu negara. Ia dapat dikatakan sebagai tulang punggung atau bahkan jantung dari kehidupan suatu negara. Tanpa didukung oleh ekonomi yang kuat, mustahil suatu negara dapat melaksanakan pembangunan-pembangunan di bidang yang lain secara baik dan sempurna.Perkembangan perekonomian pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah secara umum sudah mulai meningkat dibanding dengan masa sebelumnya. Meningkatnya perekonomian yang membawa kepada kemakmuran rakyat pada dinasti ini, sebenarnya tidak terlepas  dari kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan khalifah, di samping dukungan masyarakat terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut.Dalam masa permulaan pemerintahan Bani Abbasiyyah, pertumbuhan ekonomi (economic growth) dikatakan cukup stabil dan menunjukkan angka vertikal. Devism negara berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak dari pada pengeluaran.  Khalifah al-Mansur merupakan tokoh ekonom Abbasiyyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi dan keuangan negara. Keutamaan al-Mansur dalam menguatkan dasar Daulah Abbasiyyah dengan ketajaman pikiran, disiplin, dan adil adalah sama halnya dengan Khalifah Umar ibn Khattab dalam menguatkan Islam. Kata Kunci : Bani Umayah, Bani Abbasiyah, Ekonomi dan Administrasi