Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

STRATEGI PENINGKATAN RESILIENSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP TEKANAN SOSIO-EKOLOGIS (Studi Kasus Pesisir Kota Semarang) Agus Susanto
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.577 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v18i1.170.2017

Abstract

Popularity of the Coastal of Semarang city coused of rob that has occurred since the 1970s, and lately getting worse in terms of both area and time (duration) puddle. This is the result of global warming impact on sea level rise. In addition, the coastal city of Semarang was under pressure socio-ecological form of floods, land use, soil degradation, water use conflicts and water pollution. As for the most vulnerable population exposed to pressures socio-ecological are: fishermen / farmers, factory workers, employees, and services. Based on these reasons, done the research resilience of communities from coastal of Semarang city with the aim of knowing the forms of resilience and treatment strategies based on the dimensions of sustainability (ecological, economic and social). The method used is descriptive explorative, data collection with quantitative and qualitative approaches. Analysis of the data used were: descriptive, vulnerability and resilience refers to the IPCC (2001), whereas the strategy to improve resilience using Multi Criteria Decission Making (MCDM) with weighting. The result of analysis is, there are, 3 (three) options strategies for improving resilience, namely: (a) the development of human resources (HR) is through community empowerment, (b) provision of incentives that can be done directly in the form of assistance, and indirectly in the form of regulating the use land, the improvement of facilities and infrastructure, as well as the improvement of social infrastructure, and (c) the manufacture dike embankment can be making a dike in the side of the river and the elevation of the road that can touch on the fundamental aspects of the physical and ecological. Pesisir Semarang populer karena rob yang sudah terjadi sejak tahun 1970an, dan akhir-akhir ini bertambah parah baik dari segi luasan maupun waktu (durasi) genangannya. Hal ini akibat pemanasan global yang berdampak pada kenaikan permukaan laut. Disamping itu, pesisir Kota Semarang mengalami tekanan sosio-ekologi yang berupa: banjir, alih fungsi lahan, penurunan tanah, konflik penggunaan air, dan pencemaran perairan. Adapun kelompok masyarakat yang rentan terpapar tekanan sosio-ekologi adalah: nelayan/petani, buruh pabrik, karyawan, dan jasa. Untuk itu dilakukan penelitian Resiliensi (ketahanan) masyarakat pesisir Kota Semarang dengan tujuan mengetahui bentuk-bentuk resiliensi dan strategi penanganan berdasarkan dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, dan sosial). Metode yang digunakan adalah deskriptif eksploratif, pengambilan data dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Analisis data yang digunakan adalah: deskriptif, kerentanan, dan resiliensi yang mengacu pada IPCC (2001), sedangkan untuk strategi peningkatan resiliensi menggunakan Multi Criteria Decission Making (MCDM) dengan pembobotan. Hasil analisis: terdapat 3 (tiga) pilihan strategi peningkatan resiliensi yaitu: (a) pengembangan sumberdaya manusia (SDM), yaitu melalui pemberdayaan masyarakat, (b) pemberian insentif yang dapat dilakukan secara langsung, yaitu berupa pemberian bantuan dan tidak langsung yang berbentuk pengaturan penggunaan lahan, peningkatan sarana dan prasarana, serta perbaikan infrastruktur sosial, dan (c) pembuatan tanggul, dapat berupa pembuatan tanggul di sisi sungai dan peninggian jalan yang dapat menyentuh aspek mendasar pada sisi fisik dan ekologis.
MODEL KONSERVASI PEMANFAATAN AIR TANAH YANG BERKELANJUTAN DI KOTA SEMARANG Agus Susanto
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.721 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v15i1.318.2014

Abstract

Kota Semarang selain sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah, kotanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, industri, perdagangan, transportasi, pendidikan, pariwisata, dan lingkungan serta permukiman, sehingga pemanfaatan air tanahnya selalu meningkat setiap tahun. Pada tahun 2004 volume air tanah yang diambil sebesar 6,3 x 106 m3, dan tahun 2008 sebesar 9,6 x 106 m3. Ada tiga sektor dalam pemanfaatan air tanah yaitu domestik, industri, serta hotel dan restoran. Kebutuhan air domestik melalui air tanah dangkal sebesar 80%, dan air tanah dalam sebesar 20% yang dilayani oleh PDAM Tirta Moedal dengan jangkauan layanan sebesar 56,1%. Sementara kebutuhan air untuk industri serta hotel dan restoran dengan memanfaatkan air tanah sebesar 90%. Kebutuhan air tanah dari tiga sektor tersebut pada tahun 2010 sebesar 13.53 x 106 m3, dan tersediaannya tinggal 5.26 x 106 m3, dan pada tahun 2030 akan mengalami defisit air tanah. Untuk mengantisipasi defisit air tanah, dibuat 6 (enam) model konservasi pemanfaatan air tanah, yaitu (a) membatasi tingkat pertumbuhan hotel dari 2% menjadi 1% per tahun dan mengurangi konsumsi air tamu hotel dari 150 L/orang/hari menjadi 120 L/orang/hari, (b) membatasi penggunaan air untuk semua jenis industri yaitu sebesar 20%, (c) mengurangi konsumsi unit air domestik dengan membatasi pertumbuhan penduduk dari 1.67% per tahun diturunkan menjadi 1% per tahun dan mengurangi konsumsi air menjadi dari 150 L/orang/hari menjadi 120 L/orang/hari, (d) meningkatkan kapasitas produksi PDAM yaitu dengan meningkatkan pelayanan kepada penduduk dari 56.1% menjadi 70% dan pengambilan air tanah dibatasi sampai 15%, (e) kombinasi dari model/skenario a, b, c, dan d, serta (f) moratorium pemanfaatan air tanah. Dari enam model tersebut, terdapat dua model yang memenuhi keberlanjutan konservasi pemanfaatan, yaitu: (1) Model kombinasi antara model a, b, c, dan d. Hasilnya adalah ketersediaan air tanah pada tahun 2050 diprediksi sebesar 0,89 x 106 m3 dan tidak mengalami defisit air tanah, dan (2) moratorium penggunaan air tanah, hasilnya adalah sejak tahun 2020 ketersediaan air tanah diprediksi akan meningkat, dan pada tahun 2025 telah mencapai kestabilan. Ketersediaan air tanah pada tahun 2050 diprediksi akan sebesar 13,88 x 106 m3 dan muka air tanah (MAT) telah mencapai 9,5 meter.
ANALISIS BEBERAPA ASPEK REPRODUKSI KEPITING BAKAU (SCYLLA SERRATA) DI PERAIRAN SEGARA ANAKAN, KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH Hadun Asmara; Etty Riani; Agus Susanto
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 12 No. 1 (2011)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research was done in Segara Anakan water lagoon, Cilacap District, Central Java, from September 2003 to November 2003. Samples of mangrove crab were taken using catching tool of wadong and pintur which setted in the afternoon and unsetted the next morning. From all samples collected, there were 55 male and 113 female crabs. The width range of male shells were 31.5-122.5 mm and weight range were 53.75-286.08 gram, while the females shells have width range of 78.4-120.5 mm and weight range of 69.38-229.08 gram. Fecundity of mangrove crabs (Scylla serrata) ranges between 345,923-1,472,639 eggs with mean value of 646.194. Diameter of the egg curve shows that the mangrove crabs were total spawner, which means totally discharge their eggs.
KONDISI TERUMBU KARANG DI PULAU MATAS TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH Edward Sembiring; Astriet Y Manangkoda; Agus Susanto
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 1 (2010)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Corals is the one of typical ecosystem that is at tropic waters that tremendously necessary for directness biodiversity at coast and ocean area. Teluk Cenderawasih National Park having corals more or less 80.000 hectares. But such data and information about corals condition stills less in particularly at Core Zone. One of Core Zone that needs to be done to inventory and identification activity is Matas Island and its vicinity. Executed research with Manta Tow and Line Intercept Transect (LIT) Methods. Result of the observation by use of Manta Tow method can be categorized that medium corals category, with life corals cover as big as 46.25 % of 24 observing trajectories. Observation in LIT Method on depth 3 meters, it has been very good corals cover area (91.02 %), and on depth 10 meters, it has been medium category (39. 48 %). Corals Mortality Index is little relative ranging from 0.03-0.06, thats the mean condition of ecosystem in Matas Island is healthy.
Penentuan Ukuran Sumur Resapan Berdasarkan Luasan Rumah, Curah Hujan, Dan Infiltrasi (Studi Kasus Di Komplek Perumahan Reni Jaya, Pamulang, Tangerang, Banten) Agus Susanto; Anang Suhardianto
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 6 No. 1 (2005)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.218 KB)

Abstract

All developers should consider continuity of water supply for the house dweller, as much rain water falling on the house yard will be lost as run-off water instead of filling the shallow ground water. Hence, there should be absorption wells to absorb the water falling from house roof. By so doing, it can increase ground water supply. However, there should be an exact dimension of the absorption well, as the amount of the falling water from house roof depends on the roof width. The dimension of the well for each house can be measured based on roof width, rain fall, and soil capability to absorb water or infiltration capability. For unrennovated house, well diameter are 80 to 120 cm and its total depth are 60 to 160 cm. While for rennovated house, well diameter are 90 to 140 cm and total depth are 120 to 190 cm
Hubungan Penguatan Modal Sosial, Mitigasi Bencana Banjir dan Peningkatan Produksi Pertanian Sudirah Sudirah; Agus Susanto; Sumartono Sumartono; Muhammad Syukur
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol 8, No 1 (2020): EQUILIBRIUM JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.194 KB) | DOI: 10.26618/equilibrium.v8i1.3094

Abstract

Sudirah. Sejak Orde Baru hingga era reformasi ini pembangunan pedesaan berkelanjutan terus dilakukan salah satunya adalah hubungan antara penguatan modal sosial dan mitigasi bencana banjir, melalui kajian dari perspektif sosiologi dan penyuluhan pembangunan. Penelitian dilakukan di desa Kertawinangun, Soge, dan Ilir, kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pada umumnya musim tanam padi dilakukan pada musim rendeng dan sadon. Namun musim tanam padi di ketiga desa tersebut hanya dapat dilakukan pada musim rendeng. Itupun sering mengalami gagal panen (puso), akibat banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Solusi gagal panen padi tersebut adalah membangun bendung Kali Perawan. Pembangunan bendung perlu modal finansial dan modal sosial. Modal sosial merupakan perekat hubungan sosial masyarakat berupa aspek-aspek: kearifan budaya, tata nilai, gotong royong, kepercayaan, dan jejaring sosial. Penguatan modal sosial difasilitasi Kepala Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan tokoh-tokoh masyarakat. Metode penelitian ini adalah diskriptif kualitatif. Pengumpalan data melalui observasi, dokumen, dan wawancara terhadap informan. Analisis data dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan modal sosial mampu merekatkan hubungan sosial masyarakat, mengatasi mitigasi bencana banjir, dan meningkatkan usaha pertanian, sehingga petani padi sawah menikmati hasil panen 2 sampai 3 kali setahun. Selain itu, dapat melakukan usaha diversifikasi pertanian dengan menanam palawija, usaha pertambakan ikan, dan pembuatan garam, yang akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Kata Kunci: Modal Sosial, Mitigasi Bencana Banjir, Peningkatan Kesejahteraan Petani
Analisis Kualitas Air Dampak Pertambangan Emas Di Aliran Sungai Barito Kabupaten Murung Raya Andrie Natallius Fery; Agus Susanto; Lilik Sulistyowati
Jurnal Ilmiah Lingkungan Kebumian Vol 5, No 2 (2023): March
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan, FTM, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jilk.v5i2.9256

Abstract

Mengatasi permasalahan air menjadi kebutuhan segera dan memerlukan kajian dari berbagai penelitian. Sungai Barito kurang menunjang sebagai sumber air baku air minum, perlu dilakukan penelitian dampak pencemaran pertambangan emas skala kecil di aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya. Tujuan Penelitian menganalisa kualitas air sungai, status pencemaran, dan beban pencemaran dampak dari pertambangan emas di aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya. Metode Penelitian deskriptif kuantitatif, 4 titik pengambilan sampel air sungai Barito pada bulan Mei – Juni 2022 , dianalisis dengan Indeks Pencemaran (IP) dan dihitung beban pencemar maksimum (BPM) dan Beban Pencemar Actual (BPA). Hasil menunjukkan kualitas air aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya pada parameter Timbal, TSS, Seng dari hulu, tengah, hilir sampai perbatasan kabupaten sebelah melebihi baku mutu air kelas II PP No. 22 Tahun 2021. Ratarata nilai IP yaitu 1,41 menunjukkan cemar ringan. Beban pencemar total pada parameter TSS sebesar 25.410,4 kg/hari, Timbal (Pb) diperkirakan sebesar 22,7 kg/hari, merkuri (Hg) diperkirakan sebesar 0,3 kg/hari setara dengan 300 gr/hari merkuri buangan dari pertambangan emas di aliran sungai sungai Barito Kabupaten Murung Raya.
Water Quality of the Barito River Stream Murung Raya Regency The Impact of Gold Mining on Agricultural Activities: Analysis of Barito River Water Quality Impact of Small Scale Gold Mining for Agricultural in Murung Raya District Andrie Natallius Fery; Agus Susanto; Lilik Sulistyowati
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol. 10 No. 1 (2023): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v10i1.4626

Abstract

Limbah kegiatan penambangan liar yang tidak diolah dahulu akan mengakibatkan pencemaran badan air sehingga berdampak pada kualitas air. Mengatasi permasalahan air menjadi  kebutuhan segera dan memerlukan kajian dari berbagai penelitian sebagai solusi menghasilkan kebijakan yang sejalan SDGs (Sustainable Development Goals.) Sungai Barito menunjukkan keadaan kurang menunjang sebagai sumber air baku air minum, parameter fisik air seperti pH dan TSS masih di bawah baku mutu kelas II (salah satu peruntukkan kegiatan pertanian), tetapi belum ada data parameter Merkuri, Arsen, Kadmium, Nikel, Seng, Tembaga, Timbal dan Kromium heksavalen yang menunjukkan dampak merugikan dari pertambangan emas skala kecil. Sehingga perlu dilakukan penelitian kualitas air Sungai Barito Kabupaten Murung Raya. Tujuan Penelitian untuk menganalisa kualitas air sungai dan status pencemaran dampak dari pertambangan emas di aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif, sampel air sungai diambil dari 4 lokasi berdasarkan parameter Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 202 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kegiatan Penambangan Bijih Emas/Tembaga, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode STORET untuk status kualitas air berdasarkan PP no.22 tahun 2021. Hasil analisis kualitas air aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya dari kadar Timbal, TSS, Seng melebihi baku mutu air kelas II PP No. 22 Tahun 2021 pada 4 titik pantau. Status pencemaran air aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya hasil Metode STORET rata-rata skor -43,5 kondisi tercemar berat. Kesimpulan hasil studi menunjukkan kondisi air sungai aliran sungai Barito Kabupaten Murung Raya mengalami pencemaran dan tidak memenuhi baku mutu air kelas II salah satunya untuk kegiatan pertanian.
PENGARUH KEPEMIMPINAN, KOMUNIKASI, DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PLTBM BONDOSULA KECAMATAN LAMBOYA KABUPATEN SUMBA BARAT Naema Marya Bernadin Woleka; Laurensius P. Sayrani; Agus Susanto
Publik: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, Administrasi dan Pelayanan Publik Vol. 11 No. 2 (2024): Publik: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, Administrasi, dan Pelayanan Publ
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37606/publik.v11i2.1274

Abstract

The aim of this research is to analyze the influence of leadership, communication and level of education on community participation in the management of PLTBM Bondosula Hamlet, Lamboya District, West Sumba Regency. This research uses a quantitative research approach. The population of this study were residents of the Bondosula community, Lamboya District, West Sumba Regency who were over 17 years old, namely 420 people. The sample for this research was obtained using a simple random sampling technique which was calculated using the Slovin formula, namely 81 people. Data was obtained using a questionnaire and analyzed using multiple linear regression analysis. Community participation plays a role in the social and economic development of a region. Until now, the West Sumba Regency Government has not been fully able to manage the Bondosula PLTBm due to inadequate community participation and other technical problems. To increase the level of participation, it is necessary to understand the influencing factors, including leadership, communication and level of education. The results of the research show that leadership, communication, and level of education influence community participation in the management of PLTBM Bondosula Hamlet, Lamboya District, West Sumba Regency. The aim of this research is to analyze the influence of leadership, communication and level of education on community participation in the management of PLTBM Bondosula Hamlet, Lamboya District, West Sumba Regency. This research uses a quantitative research approach. The population of this study were residents of the Bondosula community, Lamboya District, West Sumba Regency who were over 17 years old, namely 420 people. The sample for this research was obtained using a simple random sampling technique which was calculated using the Slovin formula, namely 81 people. Data was obtained using a questionnaire and analyzed using multiple linear regression analysis. Community participation plays a role in the social and economic development of a region. Until now, the West Sumba Regency Government has not been fully able to manage the Bondosula PLTBm due to inadequate community participation and other technical problems. To increase the level of participation, it is necessary to understand the influencing factors, including leadership, communication and level of education. The results of the research show that leadership, communication, and level of education influence community participation in the management of PLTBM Bondosula Hamlet, Lamboya District, West Sumba Regency.