Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISA PENYAKIT KECACINGAN, TINGKAT ASUPAN ZAT GIZI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SD INPRES SEREH DISTRIK SENTANI KABUPATEN JAYAPURA Sri Iriyanti; Marlin Paulina Gultom; Maxianus Kopong Raya
GEMA KESEHATAN Vol. 11 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v11i2.80

Abstract

Latar belakang: Anak usia sekolah merupakan salah satu kelompok yang sering terkena anemia karena pada masa ini anak masih dalam masa pertumbuhan dan mempunyai aktifitas yang tinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2007, prevalensi anemia pada anak < 14 tahun di Provinsi Papua sebesar 16,7 %, lebih tinggi dari prevalensi anemia nasional yaitu 14,8 %. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyakit kecacingan dan tingkat asupan zat gizi dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar di SD Inpres Sereh Distrik Sentani Kabupaten Jayapura. Metode : Penelitian observasional analitik ini menggunakan rancangan Cross Sectional. Populasi adalah seluruh anak sekolah dasar di SD Inpres Sereh usia 9 – 11 tahun di Distrik Sentani. Sampel sebanyak 64 orang yag dipilih dengan purposive sampling. Variabel bebas yang diteliti meliputi penyakit kecacingan dan asupan gizi (energi, protein, Fe, vitamin C). Variabel terikat yaitu kejadian anemia, yang ditentukan berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin. Data dianalisis dengan uji Chi-Square kemudian dilanjutkan dengan Regresi Logistik. Hasil: Penelitian ini menunjukkan hasil prevalensi anemia anak sekolah dasar di SD Inpres Sereh Distrik Sentani sebesar 51,6 %. Hasil uji statistik dengan Chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara asupan gizi; energi (p = 0,001), protein (p = 0,001), Fe (p = 0,004), vitamin C (p = 0,016) dengan kejadian anemia. Ada hubungan juga antara penyakit kecacingan (p = 0,000) dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar di SD Inpres Sereh Distrik Sentani. Kesimpulan : Ada hubungan antara penyakit kecacingan dengan kejadian anemia (p = 0,000), asupan gizi ; energi (p = 0,001), protein (p = 0,001), Fe (p = 0,004), vitamin C (p = 0,016) dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar di Distrik Sentani Kabupaten Jayapura. Kata kunci : Anak sekolah, Anemia, Asupan gizi, Kecacingan ,
DAYA TERIMA MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG PISANG BARANGAN Sri Iriyanti; Budi Kristanto; Rosita Antariksawati
GEMA KESEHATAN Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v13i1.162

Abstract

Mie merupakan makanan alternatif pengganti beras yang banyak dikonsumsi masyarakat. Mie menjadi populer dikalangan masyarakat karena harganya yang murah dan cara pengolahan sekaligus penyajiannya yang sederhana. Bahan baku pembuatan mie adalah tepung terigu, sehingga hal ini menambah jumlah impor tepung terigu. Peningkatan impor tepung terigu dapat mengancam ketahanan pangan, sehingga diperlukan alternatif bahan dasar pembuatan mie yang berbasis pangan lokal. Pisang merupakan salah satu produk pangan local yang harus terus dikembangkan pemanfaatannya. Produksi pisang sangat melimpah, sehingga Pisang yang dijadikan tepung dapat digunakan sebagai bahan subtitusi tepung terigu dalam pembuatan mie. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima dan sifat organoleptik mie basah dengan subtitusi tepung pisang barangan. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi eksperimen dengan rancangan One shot case study dengan menggunakan 3 Formula yakni subtitusi tepung pisang 10 % (F1), 20 % (F2) dan 30 % (F3). Panelis pada uji daya terima adalah Dosen dan mahasiswa Jurusan Gizi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa untuk uji organoleptic, warna yang sangat disukai adalah F1, Aroma yang sangat disukai adalah F1, Rasa yang sangat disukai adalah F3 dan Tekstur yang sangat disukai adalah F2. F3 memiliki daya terima yang paling baik dintara ketiga formula tersebut. Kesimpulan Formula dengan subtitusi tepung pisang sebesar 30 % yang memiliki daya terima paling baik .
Peningkatan Literasi Gizi Untuk Pencegahan Anemia Pada Remaja Melalui Edukasi Interaktif Di Sma Papua Kasih Kota Jayapura Juenita Elfunam Mado; Sri Iriyanti; Dorci Nuburi; Since Kadiwaru; Rosmaida Sirait; Margaretha O. Deda
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i1.937

Abstract

Iron deficiency anemia among high school adolescents in the Papua region has become a critical public health issue, with a national prevalence of 15.5%. This condition is driven by low nutrition literacy, unbalanced dietary patterns, and its negative impact on academic performance and immunity. This community service program aims to improve nutrition literacy for anemia prevention through interactive education at SMA Papua Kasih as the partner institution, targeting 30 adolescent students. A mixed-methods approach was applied, including a pretest–posttest questionnaire (20 items, Cronbach’s Alpha >0.7), participatory observation, in-depth interviews, and secondary data analysis using SPSS Paired t-test and NVivo. The results showed a significant increase in nutrition literacy, with the proportion of students in the low–moderate category decreasing to 55.3% and those with good knowledge rising to 85.7%, as indicated by a Paired t-test result of p<0.001. Additionally, active student participation reached 93%, and 87% of participants reported that the interactive learning approach helped them better understand anemia prevention and apply healthier dietary habits in their daily lives. This program demonstrates that interactive nutrition education can effectively enhance adolescents’ nutrition literacy and serves as a strategic effort to reduce the risk of iron deficiency anemia in high school populations, particularly in the Papua region.