Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBUATAN MIE KERING MENGGUNAKAN TEPUNG IKAN TENGGIRI DAN TEPUNG DAUN KELOR DI KAMPUNG MEUKISI Anna Sarmpumpwain; Rosita Antariksawati; Margaretha O Deda; Since Kadiwaru
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i1.12649

Abstract

Latar Belakang: Mi kering dan produk olahannya sangat rendah. Oleh karena itu, komposisi protein tinggi, misalnya ikan seperti makarel, harus ditambahkan. Untuk menambah nilai gizi mie basah, ditambahkan juga vitamin alami dari daun kelor. Daun kelor mengandung nutrisi dan vitamin A yang tinggi setara dengan empat kali vitamin A pada wortel. Metode: Formula mie dari penelitian sebelumnya: 450gr tepung terigu, 40gr tepung ikan kembung, 10gr tepung daun kelor, dan satu butir telur ayam mentah. Mie ditimbang masing-masing 100gr, dikukus selama sepuluh menit dalam air mendidih, dan dikeringkan menggunakan cabinet dry selama tiga hari. Kabinet kering sebagai alat pengering memiliki beberapa keistimewaan, seperti suhu tinggi, kelembaban dan kecepatan udara yang dapat diatur, sanitasi dan higienitas yang dapat dikontrol, tidak memerlukan ruang yang luas. Hasil: Prosedur pembuatan makanan kering bergizi adalah: Tahap 1: Pembuatan tepung ikan kembung, tepung daun kelor, dan alat pengering (lemari kering); Tahap 2: Membuat pajangan, membuat mi basah, dan mengeringkannya menggunakan kabinet kering. Mie benar-benar kering pada hari ke-3 dan beratnya 100gr; Tahap 3: Mensosialisasikan cara membuat mie kepada ibu rumah tangga di desa Meukisi. 13 peserta yang hadir mempraktekkan pembuatan mie kering dan mengeringkannya menggunakan cabinet dry; dan Tahap 4: Evaluasi: Mencermati hasil penjemuran, merebus mie kering, dan mengolahnya menjadi makanan ringan. Kesimpulan: Melalui sosialisasi tepung daun kelor dan tepung ikan kembung, mie kering bergizi, dan alat pengering (kabinet kering), kami menyediakan solusi lain untuk pembuatan produk mie yang efisien dan higienis tidak terpengaruh oleh cuaca.
Peningkatan Literasi Gizi Untuk Pencegahan Anemia Pada Remaja Melalui Edukasi Interaktif Di Sma Papua Kasih Kota Jayapura Juenita Elfunam Mado; Sri Iriyanti; Dorci Nuburi; Since Kadiwaru; Rosmaida Sirait; Margaretha O. Deda
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i1.937

Abstract

Iron deficiency anemia among high school adolescents in the Papua region has become a critical public health issue, with a national prevalence of 15.5%. This condition is driven by low nutrition literacy, unbalanced dietary patterns, and its negative impact on academic performance and immunity. This community service program aims to improve nutrition literacy for anemia prevention through interactive education at SMA Papua Kasih as the partner institution, targeting 30 adolescent students. A mixed-methods approach was applied, including a pretest–posttest questionnaire (20 items, Cronbach’s Alpha >0.7), participatory observation, in-depth interviews, and secondary data analysis using SPSS Paired t-test and NVivo. The results showed a significant increase in nutrition literacy, with the proportion of students in the low–moderate category decreasing to 55.3% and those with good knowledge rising to 85.7%, as indicated by a Paired t-test result of p<0.001. Additionally, active student participation reached 93%, and 87% of participants reported that the interactive learning approach helped them better understand anemia prevention and apply healthier dietary habits in their daily lives. This program demonstrates that interactive nutrition education can effectively enhance adolescents’ nutrition literacy and serves as a strategic effort to reduce the risk of iron deficiency anemia in high school populations, particularly in the Papua region.