Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN REFERENSI-INFERENSI DALAM WANGSALAN SINDHENAN Danang Wijoyanto
BASINDO : jurnal kajian bahasa, sastra Indonesia, dan pembelajarannya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.556 KB) | DOI: 10.17977/um007v1i22017p040

Abstract

Hubungan referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan adalah pertalian makna atau jawaban teka-teki dengan maksudnya. Jawaban teka-teki atau cangkriman disebut juga batangan, sedangkan maksud wangsalan disebut isi. Penutur dikatakan bisa menafsirkan wangsalan jika mampu menemukan hubungan tersebut. Kenyataannya, banyak masyarakat Jawa yang kesulitan menafsirkan wangsalan sindhenan. Konsep tentang wangsalan tidak hanya dihubungkan dalam pertalian bentuk saja namun juga pertalian makna. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) hubungan bentuk referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan, (2) hubungan isi referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan, dan (3) fungsi pragmastilistika referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi. Data dianalisis menggunakan metode intertekstualitas dan pragmatik fungsional. Data berwujud kata, frasa dan kalimat wangsalan sindhenan. Data didapatkan dari teks sindhenan dalam rekaman pagelaran wayang kulit tiga generasi dan lintas gagrag. Hasil penelitian ini menghasilkan proposisi: (a) hubungan bentuk fonetikal dan leksikal menjadi tengara referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan (b) hubungan isi konseptual dan asosiatif perwujudan paralelisme semantis referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan (c) kemanunggalan fungsi estetis dan ilokusi teraktualisasi dari hubungan referensi-inferensi dalam wangsalan sindhenan.
PIRANTI EMOTIF DAN TRANSPOSISI MAKNA DALAM WANGSALAN Danang Wijoyanto
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 10 No. 1 (2023): Vol.10 No.1 Bulan Maret 2023
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/paramasastra.v10n1.p33-45

Abstract

Wangsalan is a style of language in Javanese literature that is unique and complicated. Its uniqueness is in the structure and way of production. The structure of the wangsalan consists of the sampiran or opening and the contents. The sampiran or opening of the wangsalan is in the form of a puzzle or a puzzle. The contents of the wangsalan itself are in the form of the message the speaker wants to convey. Between the riddle and the content of wangsalan there is a relationship of meaning but only a relationship of form. The relationship between these forms lies in the answer to the riddle with wangsalan intent. The interpretation of wangsalan is quite complicated because it contains the phenomenon of transposition of meaning. Transposition of meaning in wangsalan occurs in denotative meaning with associative meaning. Transposition of meaning is an attempt to connect differences in lingual forms with the speaker's intention. As a result, separation and discontinuity of form can meet. Therefore, the connecting tool to reconcile these differences is an emotive device. The emotive device acts as a liaison between the puzzle and the intent and content of the wangsalan. There are three emotive tools, namely phonetic, lexical and syntactic. These three tools can be used as principles for producing wangsalan. Based on this discussion, the contribution to learning about wangsalan material is that wangsalan is not only related to sounds but also words. Wangsalan is not classified as a metaphor because the stem or answer and the contents of the wangsalan have no relationship in meaning to the intended characteristics. The relationship is limited to the affinity of form and meaning like a pantun or parikan