Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektifitas Program Pendidikan Terhadap Pengetahuan Basic Life Support Pada Remaja Enny Jurisa
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK) Volume III No.1. Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.498 KB)

Abstract

AbstrakBasic Life Support (BLS) atau disebut juga bantuan hidup dasar (BHD)adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan napas, membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa menggunakan alat bantu. Metode ceramah adalah metode secara lisan yang berisi tentang penyuluhan kesehatan dari petugas kesehatan adalah pemberian dukungan informasi dapat dilakukan dengan memberikan informasi mengenai kesehatan yang sebenarnya, apa itu kesehatan dan apa yang dirasakan seseorang ketika mengalami masalah kesehatan. Adapun tujuan dari penelitian ini melihat peningkatan pengetahuan basic lifesupport (BLS) pada siswa kelas X SMAN I Sigli. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian One-Group Pre test-post test design untuk membandingkan pengetahuan BLS sebelum dan sesudah pelatihan. Jumlah sampel yang digunakan yaitu 44 orang yang terdiri dari 25 siswa perempuan 19 siswa laki-laki.Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS dan uji hipotesis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil.hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test pada responden yaitu terdapat pengaruh yang signifikan dimana nilai p-value =0,000 (α 0.05). Kesimpulan.Secara statistik ada peningkatan yangsignifikan pelatihan dengan metode ceramah terhadap pengetahuan BLS pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Sigli.Kata kunci:Basic life support, ceramah, siswaAbstactBasic Life Support (BLS) or also known as basic life support (BHD) is an emergency act to release or open the airway, breathing and helps maintain blood circulation without usinh devices. Lecture method is aspoken method that contains health education of health workers is providing support information can be done by providing information about the actual health, what is health and what one feels when experiencing health problems. The purpose of this study is to finding out the increase in knowledge of basic life support (BLS) in class X of SMAN I Sigli. This study research design One-Group Pre-test post-test design to compare BLS knowledge before and after training. The number of samples used were 44 people consisting of 25 girls 19 boys. Analysis data was performed using SPSS and hypothesis testing using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results. the statistical test Wilcoxon Signed Rank Test on respondents, a significant difference where pvalue= 0.000 (α 0.05). Conclusion. No statistically significant increase in training with a lecture on the BLS knowledge in class X SMA Negeri 1 Sigli.Keywords:Basic life support, Lecture, Student
FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GLUMPANG BARO KABUPATEN PIDIE TAHUN 2019 Enny Jurisa
Jurnal EDUKES : Jurnal Penelitian Edukasi Kesehatan Vol. 2: JURNAL EDUKES VOLUME 2 NOMOR 2, EDISI SEPTEMBER 2019
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) BUSTANUL ULUM LANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52136/edukes.v2i2.435

Abstract

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang masih banyak ditemukan, khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor terjadinya penyakit kusta di wilayah kerja puskesmas Glumpang Baro Kabupaten Pidie. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptf, dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 25-30 Agustus 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menderita penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Glumpang Baroe Kabupaten Pidie yang berjumlah 50 orang. Tehnik Sampling menggunakan total sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian didapatkan distribusi frekuensi tingkat sosial ekonomi didapatkan sebagian besar reponden memiliki tingkat sosial ekonomi produktif berjumlah 29 responden (58%) dan responden yang tingkat sosial ekonomi tidak produktif berjumlah 21 responden (42 %), distribusi frekuensi tingkat pendidikan didapatkan sebagian besar reponden berpendidikan sedang berjumlah 46 responden (92 %) dan responden yang berpendidikan rendah berjumlah 4 responden (8%) dan distribusi frekuensi responden berdasarkan personal hyegene sebagian besar reponden memiliki personal hygene kategori baik berjumlah 31 responden (62%), dan responden dengan personal hygene dengan kategori buruk berjumlah 19 responden (38%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah variabel frekuensi responden dalam tingkat sosial ekonomi yang produktif, tingkat pendidikan sedang dan personal hygene dengan kategori baik paling dominan dalam penelitian ini. Saran untuk instansi kesehatan diharapkan ada kerjasama yang baik antara instansi-instansi kesehatan, terutama dalam meningkatkan upaya Program Pemberantasan Penyakit Kusta.
Masalah Psikososial pada Remaja di Sekolah Asrama di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh Fauzan Saputra; Enny Jurisa; Iskandar Iskandar
Khatulistiwa Nursing Journal Vol 2, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v2i1.15

Abstract

Remaja yang melanjutkan pendidikan pada sekolah yang memiliki asrama berisiko mengalami masalah psikososial yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang tidak tinggal di asrama. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi masalah-masalah psikososial yang dialami oleh remaja yang tinggal di asrama. Penelitian ini menggunakan pendekatan descriptive quantitative dengan jumlah sampel sebanyak 106 siswa yang didapatkan dengan metode simple random sampling. Kuesioner yang digunakan yaitu Strenghts and Difficulties Questionaire (SDQ) versi bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan 30 persen remaja yang tinggal di asrama mengalami masalah psikososial, remaja laki-laki cenderung lebih banyak mengalami masalah psikososial (58 persen) seperti masalah teman sebaya (29 persen) dan masalah perilaku (15 persen), sedangkan remaja perempuan cenderung memiliki masalah emosional (14 persen). Disarankan agar pihak sekolah berkerja sama dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk melakukan deteksi dini masalah psikososial dan memberikan intervensi awal untuk menurunkan risiko dan dampak masalah psikososial remaja di masa yang akan datang.