Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE COMBINATION OF GREEN BEANS AND CORN AMYLUM AS A TABLET DESTROYING MATERIAL Abdul Rahim
Jurnal Kesehatan THE 2nd ALAUDDIN PHARMACEUTICAL CONFERENCE AND EXPO (ALPHA-C) 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v1i1.18470

Abstract

Mung beans (Phaseolus radiatus L.) and maize (Zea mays L.) are quite a lot of food crops in Indonesia. The area of mung bean plantations in 2008 reached 276,892.00 Ha with the amount of green bean production in the third place. Meanwhile, maize is a food plant that is easily available because it is cultivated in the tropics and is not a deficient crop. Starch is often used in the manufacture of tablets as an additional material, one of which is a disintegration. Research on the combination of starch from corn and starch from green beans has never been carried out. We know it that green beans and corn contain 80% starch if they have been dried or powdered. Starch from green beans and maize when developed and processed will overcome dependence on imported starch. This study aims to test the combination of green bean starch and corn starch to get a good crushing material. It carried the procedure of this research out by making a comparison formula for the crushing material of mung bean starch and corn, namely 1: 0, 1: 1 and 0: 1. Starch making, granule making, granule evaluation, tablet making, and tablet physical test. This research is experimental. Data analysis was carried out theoretically, comparing with literature and statistical analysis using One Way ANOVA method with 95% confidence. The results showed that paracetamol tablets with the ingredients of crushing mung bean starch, green bean starch: corn starch, and corn starch met the requirements for the physical properties of the tablets. The disintegration time of paracetamol tablets with the ingredients of crushing green bean starch, green bean starch: corn starch, and corn starch was 3.05 minutes, 11.1 minutes and 9.42 minutes.
Uji Aktivitas Ekstrak Daun Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.) Sebagai Hepatoprotektor Pada Tikus Yang Diinduksi Obat-Obat Tuberkulosis Abdul Rahim
Pharmed: Journal of Pharmaceutical Science and Medical Research Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.048 KB) | DOI: 10.25273/pharmed.v2i1.3780

Abstract

Tuberkulosis sampai saat ini masih merupakan penyebab angka kematian yang tinggi di negara berkembang, bahkan di negara maju angka kematian tuberkulosis meningkat kembali seiring dengan meningkatnya Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Sindrom (HIV/AIDS). Obat-obat anti tuberkulosis seperti isoniazid (INH), rifampisin, pirazinamid dan ethambutol mempunyai beberapa efek samping, dari yang ringan sampai yang berat. Efek samping yang patut diwaspadai adalah efek hepatotoksik. Saat ini mulai dikembangkan cara alternatif untuk menangani hepatotoksik yang disebabkan oleh penggunaan obat anti tuberculosis dengan memanfaatkan suatu tanaman herbal sebagai hepatoprotektor. Beberapa penelitianmenunjukkan bahwa senyawa flavonoid berpotensi sebagai hepatoprotektor.Yunita (2012) membuktikan adanya senyawaflavonoid pada daun cabe rawit, akan tetapi penelitian tersebut belum membuktikan efektifitas ekstrak daun cabe rawit sebagai hepatoprotektor. Jenis penelitian adalah penelitian EksperimentalPre-Post Test With Control Design. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kelompok pemberian ekstrak daun cabe rawit pada hari ke-0 sampai hari ke-14 memberikan penurunan kadar ALTsebesar 17,67 unit/liter dan AST sebesar 9,11 unit/liter. Sedangkan pada hari ke-0 sampai hari ke-28memberikan penurunan kadar ALTsebesar 11,51 unit/literdan AST sebesar 20,41 unit/liter.Hasil uji statistik dengan Paired Samples T-testmenunjukkan kelompok ekstrak pada hari ke-0 sampai hari ke-14 memiliki nilai Sig 0,048 (p < 0,05),pada hari ke-0 dengan hari ke-28 memiliki nilai Sig 0,125 (p > 0,05) dan hari ke-14 sampai hari ke-28 memiliki nilai Sig 0,561 (p > 0,05). Kesimpulan menunjukan bahwapenurunan kadar ALT pada kelompok perlakuan optimal pada hari ke-14 dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pemberian ekstrak hari ke-14 dan ke-28 dalam menurunkan kadar ALT.