Ridhwan Ridhwan
Institut Agama Islam Negeri Bone

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MASJID SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN SAMPAI MASA ORDE LAMA DI BONE, SULAWESI SELATAN Ridhwan Ridhwan; Abidin Nurdin; Wardhana Wardhana
Jurnal Ilmiah Didaktika Vol 20, No 1 (2019): Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Agustus 2019
Publisher : Center for Research and Publication Universitas Islam Negeri (UIN) of Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jid.v20i1.4648

Abstract

Mosques as educational centers are not only found in the Middle East, but also in the Malay world this reality occurs as in Aceh, Demak, Banten and Bone. During the Kingdom of Bone until the Old Order period the mosque became the center of Islamic education in the form of recitation of the Qur'an and the Yellow Book which examined Islamic sciences such as Fiqh, Hadith, Tafsir, Akhlak, Sufism and Arabic. Kadi and Imam Masjid were the main actors who carried out the teaching spread in the Watampone region as the capital city of the Kingdom. Then it developed into other regions such as Macege, Cabalu, Palakka, Awangpone, Pattiro, Barebbo, and Cenrana. Especially in Watampone, the study was held at the Kingdom Bone Mosque, the Al-Mujahidin Mosque which was the center of Islamic education fostered by the Kadi Bone and at the Masjid Watampone Mosque which was fostered by the Imam Masjid Raya. Recitations in the Palili region of the Kingdom of Bone are generally fostered by Kadi who are both Imam and Katte (Khatib) in their respective regions. The teaching system is the same as the teaching system that generally applies in the archipelago at that time, namely the wetonan/bandongan and sorogan methods. In the Bugis tradition the Bone system is referred to as the tudang mangaji.
Perubahan Budaya Masyarakat Indonesia (Studi Pada Pendidikan Masa Pendudukan Jepang) Rahmat Adnan Lira; Ridhwan Ridhwan; Fatimah Fatimah
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perubahan budaya masyarakat Indonesia yang difokuskan pada pendidikan di Indonesia masa pendudukan Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan literatur sejarah tentang pendudukan Jepang di Indonesia sebagai sumber utama. Pendekatan historis dan pedagogis adalah jenis pendekatan yang digunakan, sedangkan teknik analisis data meliputi heuristik, kritik sejarah, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan budaya pendidikan dengan penjajah terdahulu dengan Jepang di mana penjajah terdahulu menerapkan pendidikan dikotomis, diskriminatif dan sentralistik, sementara Jepang menghapus kurikulum dualisme pengajaran, memberikan kesempatan kepada seluruh anak untuk bersekolah, tenaga pengajar dan stakeholder sekolah yang diambil dari pribumi dan lain-lain. Selain itu, Jepang memberikan kelonggaran terhadap pendidikan agama Islam, sebagai upaya untuk menarik simpati masyarakat. Dalam pendidikan bahasa Jepang dan Indonesia digunakan sebagai pengganti bahasa Belanda dan Eropa untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh budaya Barat. Aktivitas belajar yang ada pada saat pendudukan Jepang diwarnai dengan aktifitas militer seperti upacara, latihan ketika pagi, menanam umbi-umbian serta pemberian doktin hakko I chiu kepada siswa agar setia kepada Jepang.