Rusmin Abdul Rauf
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AL-Fikr

SYIAH SUNNIٍ; SEBERAPA BESAR PELUANG AT TAQARUB DIANTARA KEDUANYA Rusmin Abdul Rauf
AL-Fikr Vol 23 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara garis besar umat Islam terbagi ke dalam dua golongan besar, yaitu Syiah dan Sunni. Perbedaan Syiah dan Sunni telah tejadi sejak abad-abad pertama peradaban Islam. Maka muncullah ide At Taqarub baena Syiah wa Sunni. Berbagai usaha telah dilakukan untuk merealisasinya. Oleh karena itu, artikel ini mengkaji tentang bagaimana peluang terwujudnya At Taqarub antar syiah dan Sunni. Kajian ini menggunakan kajian Pustaka, dengan meneliti karya-karya tulis dari kedua aliran untuk mencari kemungkinan terjadinya At Taqarub. Penulis menemukan bahwa perbedaan antara syiah dan sunni sangat besar bahkan sudah sampai kepada masalah-masalah ushuli. Karena itu, At Taqarub antara keduanya tidak bisa terjadi tanpa ada konpromi terhadap masalah aqidah.
PENAFSIRAN BIL RA’YI ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW. Rusmin Abdul Rauf
AL-Fikr Vol 23 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk meneliti metode penafsiran pada zaman Nabi Muhammad Saw. Baik penafsiran yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ataupun oleh para sahabat. Pada saat wahyu masih turun, Nabi Muhammad menjelaskan kepada para sahabatnya makna dari pada ayat Al Quran, akan tetapi tidak semua ayat dijelaskan secara terperinci oleh Nabi Muhammad saw. Sahabat memahami ayat al Quran dari penjelasan Nabi Muhammad Saw dan juga dari pemahaman mereka sendiri. Karena al Quran turun sesuai dengan Bahasa mereka. Peneliti menemukan bahwa sahabat pun melakukan penafsiran secara bil ra’yi. Walaupun demikian tafsiran sahabat akan dikonfirmasikan kepada Nabi Muhammad. Ada yang kemudian diluruskan oleh Nabi Muhammad Saw dan ditunjukkan makna yang benar dan ada pula yang dibenarkan oleh Rasulullah dan tidak menyalahkannya. Peneliti menyimpulkan bahwa penafsiran dengan pendapat atau bil ra’yi memiliki akar sejak zaman Nabi Muhammad Saw.