Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SYIAH SUNNIٍ; SEBERAPA BESAR PELUANG AT TAQARUB DIANTARA KEDUANYA Rusmin Abdul Rauf
AL-Fikr Vol 23 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara garis besar umat Islam terbagi ke dalam dua golongan besar, yaitu Syiah dan Sunni. Perbedaan Syiah dan Sunni telah tejadi sejak abad-abad pertama peradaban Islam. Maka muncullah ide At Taqarub baena Syiah wa Sunni. Berbagai usaha telah dilakukan untuk merealisasinya. Oleh karena itu, artikel ini mengkaji tentang bagaimana peluang terwujudnya At Taqarub antar syiah dan Sunni. Kajian ini menggunakan kajian Pustaka, dengan meneliti karya-karya tulis dari kedua aliran untuk mencari kemungkinan terjadinya At Taqarub. Penulis menemukan bahwa perbedaan antara syiah dan sunni sangat besar bahkan sudah sampai kepada masalah-masalah ushuli. Karena itu, At Taqarub antara keduanya tidak bisa terjadi tanpa ada konpromi terhadap masalah aqidah.
PENAFSIRAN BIL RA’YI ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW. Rusmin Abdul Rauf
AL-Fikr Vol 23 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk meneliti metode penafsiran pada zaman Nabi Muhammad Saw. Baik penafsiran yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ataupun oleh para sahabat. Pada saat wahyu masih turun, Nabi Muhammad menjelaskan kepada para sahabatnya makna dari pada ayat Al Quran, akan tetapi tidak semua ayat dijelaskan secara terperinci oleh Nabi Muhammad saw. Sahabat memahami ayat al Quran dari penjelasan Nabi Muhammad Saw dan juga dari pemahaman mereka sendiri. Karena al Quran turun sesuai dengan Bahasa mereka. Peneliti menemukan bahwa sahabat pun melakukan penafsiran secara bil ra’yi. Walaupun demikian tafsiran sahabat akan dikonfirmasikan kepada Nabi Muhammad. Ada yang kemudian diluruskan oleh Nabi Muhammad Saw dan ditunjukkan makna yang benar dan ada pula yang dibenarkan oleh Rasulullah dan tidak menyalahkannya. Peneliti menyimpulkan bahwa penafsiran dengan pendapat atau bil ra’yi memiliki akar sejak zaman Nabi Muhammad Saw.
مراسيل مصنف ابن أبي شيبة في كتاب الأيمان والنذور والكفارة دراسة تخريجية تحليلية Rusmin Abdul Rauf
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v10i2.12476

Abstract

This research addresses the Mursal Hadith in the Musannaf (compilation) of Ibn Abi Shaybah, by collection them from the Book of Oath, Vow, Atonement. They are studied in term of matn (their text) and sanad (chain of narration). A brief introduction of the narrator of the musannaf is also given. Attestation of the hadith in other books is examined and the status of hadith is determined, whether they remain daif (weak) or upgraded to be hasan li gharihi. This is concluded with some available jurisprudence. The researcher used the inductive method to collect mursal hadith in the Musannaf of Ibn Abi Shaybah from the Book of Oath, Vow, Atonement and used the critical approach on the attestation in other books and determine the status of the hadith and used the analytical method to conclude on some jurisprudence of the Mursal Hadith. As a result, the researcher found most of mursal hadith in the musannaf eligible to be upgraded into hasan li gharihi. And the rest remain daif due the unavailable attestation in another book or weaken narrator.
Kritik terhadap Kajian Hadis Feminis Islam Rusmin Abdul Rauf; Ummi Farhah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.17087

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkritik kajian Feminis Islam utamanya berkaitan dengan Hadis. Ada empat poin yang utama yang dikritik dalam artikel ini. Pertama, penolakan terhadap hadis. Kedua, celaan terhadap sahabat. Ketiga, meragukan integritas Imam Bukhari. Keempat, reinterpretasi terhadap Hadis. Penulis menggunakan pendekatan ilmu musthalah hadis dalam menelaah dan menganalisa pandangan feminis islam. Penulis menemukan bahwa ada kecenderungan dari feminis untuk menolak hadis yang dianggap sebagai hadis misoginis terlepas apakah hadis tersebut shahih atau tidak. Sehingga dasar dari penilaian kesahihan hadis yang dipergunakan oleh feminis bukan lagi integritas dan ketersambungan sanad akan tetapi kesesuaian dengan nilai-nilai feminism atau tidak. Artikel ini menyimpulkan bahwa ada kecenderungan feminis islam tidak mengusai ilmu musthalah hadis dan cenderung menolak kaidah-kaidah ilmu yang telah ditetapkan oleh ulama demi menyesuaikan makna hadis dengan ide-ide feminism.
The Position of the Accountant Profession in the Anathema Hadith for Usury Transaction Actors Ahmad Arief; Abd. Rahman Sakka; La Ode Ismail Ahmad; Rusmin Abdul Rauf
Pappaseng: International Journal of Islamic Literacy and Society Vol. 1 No. 3 (2022): Pappaseng: International Journal of Islamic Literacy and Society
Publisher : Sao Literasi Publisher, Yayasan Pendidikan Khaerul Munif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56440/pijilis.v1i3.49

Abstract

This article aims to analyze the position of the Accountant profession and the hadith of anathema for usury transaction actors. Accountants as prefetions will be indispensable in trasaksi, there is even an order there is a profession that records transactions in the Quran. However, it will be a problem when the transaction is a usury transaction. In the hadith, the Messenger of Allah circumcised the author of usury transactions. In this case it is an accountant. This article is a hadith study that uses a maudūī (thematic) approach. The article finds that there are scholarly disagreements with the profession. There are those who absolutely forbid and there are those who allow on condition that they are allowed on the condition that they try to eliminate the awarid al-muktasabah (a barrier that can be attempted to be removed) namely the inability to detect usury by studying all related elements in usury transactions.