Fadhlina Arief Wangsa
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : AL-Fikr

PEMIKIRAN IBN HAZM: MAZHAB ZHAHIRI DAN FILSAFAT Fadhlina Arief Wangsa; I Gusti Bagus Agung Perdana Rayyn
AL-Fikr Vol 24 No 1 (2022): Jurnal Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang biografi dan pemikiran Ibn Hazm sebagai seorang ulama fikih dan filsafat yang berasal dari Andalusia, Spanyol. Dalam artikel ini terdapat tiga hal penting yang menjadi pembahasan inti yaitu, pertama terkait biografi Ibn Hazm dan karya-karyanya, kedua pemikiran beliau secara umum tentang fikih, khusunya yang berkaitan dengan mazhab zhahiri, dan yang ketiga adalah pemikiran beliau tentang filsafat dalam hal proses penciptaan alam semesta. Oleh karena itu, maka perlu kiranya untuk memaparkan hal-hal tersebut agar tidak menimbulkan salah persepsi dengan melakukan kajian pustaka dan kajian tokoh untuk menambah wawasan tentang pemikiran ulama, Maka kesimpulannya adalah bahwa yang dapat dijadikan dalil hukum hanya Al Quran, hadis, dan ijma’. Sedangkan penciptaan alam semesta berasal dari ketidakadaan.
Tasyahud Akhir (Kajian Teks Hadis Rasulullah saw.) Fadhlina Arief Wangsa; Nurul Iqram Asdar
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 25 No 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v25i1.36073

Abstract

Most of the verses of the Qur'an in tafshili (detail) need to be explained with hadith, such as the command to pray by looking at the hadith from the Prophet Muhammad, the pillars of prayer, one of which is sitting at the final tasyahud. This research is a library research, by collecting related literature, then it is presented in a qualitative descriptive manner, namely displaying the data as it is. Based on the hadith of the Prophet about the final tasyahud sitting provides an understanding that there are various views regarding the reading and the final tasyahud sitting position in prayer. it is obligatory during the recitation of tahiat to say salam to us and to the authentic servants of Allah. The last sitting in the prayer is done with iftirosy or Tawarruk. Various kinds of tahiat pronunciations included in the hadith can also be practiced.
Tasyahud Perspektif Hadis Nabi (Suatu Kajian Hadis) Fadhlina Arief Wangsa; Nurul Iqram Asdar
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 25 No 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v25i2.39296

Abstract

Differences in terms of understanding and practice from various groups, not only within the community, but there are also differences among the clergy, especially the scholars of the four schools of thought. This research is a library research, by collecting related literature and then presenting it in a qualitative descriptive manner, namely displaying the data as it is. There are different views regarding the reading, sitting position and position of the fingers at the time of the final tasyahud which is a difference in understanding or interpreting a hadith. However, sitting at the end of the day is a must (rukun) when performing prayers. Sitting last in prayer, some are done with iftirosy or Tawarruk. There are also various tahiat pronunciations contained in the hadith that can be practiced.
SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN QAWAID AL-TAHDIS Fadhlina Arief Wangsa; Muhammad Baitullah
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 27 No 01 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v27i01.54110

Abstract

Artikel ini membahas tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan qawaid al-tahdis. Dalam artikel ini terdapat beberapa topik penting yang akan menjadi fokus bahasan yaitu, sejarah kelahiran dan pertumbuhan qawaid al-tahdis serta sejarah pembukuan dan pembakuan qawaid al-tahdis. Oleh karena itu maka perlu kiranya menjelaskan hal-hal tersebut agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami sejarah perkembangan qawaid al-tahdis. Pengkajian masalah ini dilakukan dengan cara melakukan kajian pustaka dengan pendekatan historis yang bertujuan untuk mengetahui historisitas pertumbuhan dan perkembangan qawaid al-tahdis. Maka kesimpulannya adalah sejarah pertumbuhan dan perkembangan qawaid al-tahdis telah semenjak masa Nabi saw. hingga masa sahabat Nabi saw. dan pada generasi inilah para sahabat mulai membuat kaidah dalam menerima maupun meriwayatkan hadis yang datang dari Nabi saw. Qawaid al-tahdis mulai berkembang secara pesat di generasi setelah sahabat Nabi saw. di akhir masa generasi sahabat kecil memasuki tabi’in besar yang mencapai puncak pembukuan dan pembakuan diakhir abad ke tiga memasuki awal abad ke empat ditandai dengan banyaknya ulama yang menulis kitab-kitab tentang qawaid al-tahdis.