Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PELATIHAN GURU DALAM PELAKSANAAN PENILAIAN FORMATIF PADA PEMBELAJARAN Junaidah Wildani; Wilda Mahmudah; Illah Winiati Triyana
Jurnal Cakrawala Maritim Vol 1 No 1 (2018): Jurnal Cakrawala Maritim
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) - PPNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33863/cakrawalamaritim.v1i1.426

Abstract

Asesmen formatif adalah suatu asesmen yang hasilnya dapat digunakan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan belajarnya. Ide teoritis asesmen formatif adalah agar siswa mengembangkan kemampuan dalam mengumpulkan bukti dari pembelajaran mereka sendiri yang mereka dapat interpretasikan dan gunakan untuk langkah-langkah belajar mereka. Jadi dalam penilaian formatif, tidak hanya guru yang dapat menginterpretasikan hasil penilaian, melainkan siswa juga dapat berperan aktif dalam proses penilaian ini dan menggunakannya untuk menyesuaikan pembelajaran mereka sendiri. Penilaian formatif dianggap sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan motivasi dan prestasi siswa. Meskipun penilaian formatif memiliki berbagai manfaat dan terbukti dapat meningkatkan motivasi sekaligus prestasi belajar siswa, namun jenis penilaian ini belum banyak dikenal beberapa sekolah, terutama di desa Pegundan, dan Indrodelik Kecamatan Bungah Gresik. Berdasarkan wawancara dengan guru di SDN Pegundan, secara umum, praktik penilaian dilaksanakan secara sumatif. Oleh karena itu pelatihan guru dalam pelaksanaan penilaian formatif pada pembelajaran perlu dilakukan dengan tujuan memberikan pemahaman bagi guru tentang penilaian formatif termasuk strategi pelaksanaannya, dan meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun kriteria sukses penilaian dalamberbagai bentuk dan dapat digunakan oleh siswa dan guru. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2018 di SDN Pegundan dan 12 Februari 2018 di MI. Al-Hidayat Indrodelik. Dari pelatihan, ditemukan bahwa faktor penghambat untuk penilaian formatif adalah kurangnya waktu dan referensi untuk merancang penilaian. Selain itu, akan sulit untuk mengembangkan perilaku penilaian diri dan penilaian teman sebaya untuk siswa. Ada beberapa kendala selama pelatihan termasuk manajemen waktu dan keengganan beberapa peserta untuk merancang kriteria penilaian mereka. Namun secara keseluruhan pelatihan ini dapat dikatakan sukses.
SEMINAR DAN WORKSHOP PEMBUATAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM MERDEKA DI SMA AL HUDA TUBAN Nalurita, Ika; Wilda Mahmudah; Muhammad Jamaluddin; Roisatun Nisa; Illah Winiati Triyana; Yeva Kurniawati
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Patikala Vol. 3 No. 2 (2023): ABDIMAS PATIKALA
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/patikala.v3i2.997

Abstract

Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mengembangkan soft skill guru SMA Al Huda Tuban melalui seminar dan workshop pembuatan perangkat pembelajaran agar pembelajaran dapat berjalan lebih baik lagi mengikuti perkembangan kurikulum yang ada. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah diskusi seminar dan workshop. Memberikan sosialisasi tentang Kurikulum Merdeka kepada para guru dengan memberikan seminar dan workshop dalam 2 hari berturut turut. Mulai dari penyiapan Tim Mahasiswa yang membantu dalam kegiatan tersebut dan kegiatan workshop yang diikuti oleh guru SMA Al Huda Tuban dengan narasumber berasal dari Dosen pembimbing pengabdian dari Universitas Qomaruddin Bungah Gresik. Oleh karena itu, kegiatan seminar dan workshop ini sangat penting dan akurat agar pembelajaran lebih optimal sehingga visi dan misi SMA AL Huda Tuban khusus nya terkait bidang belajar mengajar dapat tercapai dengan baik. Setelah dilakukan kegiatan pengabdian ini, para guru termotivasi untuk membuat perangkat pembelajaran kurikulum merdeka yang telah dipraktekan saat workshop dan dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran sehari hari. Dalam pelatihan tersebut dikenalkan Kurikulum Merdeka berikut semua komponen, karakteristik dan perubahannya dari kurikulum sebelumnya. Dengan demikian, semakin bertambah juga soft skill guru SMA Al Huda Tuban.
Analisis Penalaran Adaptif Siswa dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan Adversity Quotient (AQ) Fatati Saniyyah; Illah Winiati
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Science Education Vol. 1 No. 2 (2020): Indonesian Journal of Mathematics and Natural Science Education
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/mass.v1i2.32

Abstract

Penalaran adaptif merupakan salah satu keterampilan matematika yang perlu dikuasai siswa dalam pembelajaran di sekolah. Jika siswa memiliki penalaran adaptif yang baik, maka siswa lebih mudah dalam memecahkan masalah matematika. Dalam memecahkan masalah matematika, setiap siswa mempunyai respon yang berbeda-beda. Respon tersebut dinamakan Adversity Quotient (AQ). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran adaptif siswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan AQ. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak enam siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi pemberian angket ARP (Adversity Response Profile) untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tipe AQ, tes penalaran adaptif (TPA) untuk mengetahui penalaran adaptif siswa dalam memecahkan masalah matematika dan wawancara untuk memperoleh informasi yang lebih jelas terkait penalaran adaptif siswa. Adapun proses analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memecahkan masalah matematika, siswa dengan AQ quitter hanya mampu memenuhi satu indikator penalaran adaptif yaitu menyusun dugaan. Siswa dengan AQ camper mampu memenuhi empat indikator penalaran adaptif yaitu menyusun dugaan, merencanakan dan menyelesaikan masalah matematika, menilai kebenaran jawaban dari suatu permasalahan serta memberikan jawaban dengan penarikan kesimpulan. Sedangkan siswa dengan AQ climber mampu memenuhi semua indikator penalaran adaptif, yaitu menyusun dugaan, merencanakan dan menyelesaikan masalah matematika, memberikan penjelasan terkait prosedur yang digunakan, menilai kebenaran jawaban dari suatu permasalahan serta memberikan jawaban dengan penarikan kesimpulan. Mathematical problems that they must solve. This is because mathematical representation is a form of expression of ideas displayed by students in various forms in certain situations in an effort to find solutions to the problems faced. The lack of students' understanding of the questions given is most likely due to students who are not able to use mathematical representation correctly. This research is a descriptive study with a qualitative approach that aims to describe the mathematical representation of junior high school students, especially students with high ability in solving math problems. The subject of this research is one of the eighth grade students of SMP 10 November Sidoarjo selected based on a mathematical ability test. The results of the data description show that in solving problems, students with high mathematical abilities tend to use visual representations, make mathematical equations or mathematical expressions, and answer problems by using written words or text with the results of solving problems mostly correct.
Analisis Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP Ditinjau Dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer Habibi Habibi; Illah Winiati; Yeva Kurniawati
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Science Education Vol. 1 No. 2 (2020): Indonesian Journal of Mathematics and Natural Science Education
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/mass.v1i2.34

Abstract

Abstrak Berpikir kritis matematis merupakan salah satu tujuan yang disebutkan dalam praktik kurikulum pembelajaran matematika di dalam kelas. Untuk mengetahui cara siswa berpikir kritis tentunya dihadapkan dengan soal penyelesaian masalah. Dalam menyelesaikan masalah setiap siswa memiliki strategi berbeda dan tidak lepas dari cara siswa menerima dan mengolah informasi yang didapatkan. Perbedaan strategi dalam hal ini dipengaruhi oleh gaya kognitif, yang berkaitan dengan perbedaan dalam penerimaan informasi secara visual maupun verbal biasa dikenal dengan nama gaya kognitif visualizer dan verbalizer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan berpikir kritis matematis siswa SMP ditinjau dari gaya kognitif visualizer-verbalizer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang medeskripsikan siswa visualizer dan verbalizer dalam berpikir kritis matematis. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah MTs. Mamba’ul Ulum Bedanten dan subjek dari penelitian ini adalah 4 siswa dari siswa kelas IX. Hasil dari penelitian ini adalah dari seluruh tahap berpikir kritis matematis, dapat dicapai oleh subjek visualizer, tetapi tidak mampu dicapai pada tahap evaluasi. Subjek verbalizer juga mampu mencapai seluruh indikator berpikir kritis matematis, tetapi tidak mampu pada tahap inferensi yaitu tidak mampu menemukan alternatif (cara) lain dari soal evaluasi. Abstract The critical thinking mathematically is one of the objectives mentioned in the practice of learning Mathematics curriculum in the classroom. To know the way students think critically, surely faced with problem solving test. In solving the problem each student has a different strategy and not separated from the way students receive and process the information obtained. The difference of strategy in this case is influenced by cognitive style, which relates to differences in visual or verbal information acceptance is commonly known as visualizer and verbalizer cognitive style. The purpose of this study is to describe the critical thinking of junior high school students, reviewed from the visualizer-verbalizer cognitive style. This research uses descriptive research method with a qualitative approach that describe students visualizer and verbalizer in critical thinking mathematically. This study was conducted at the MTs Mamba'ul Ulum Bedanten School and the subject of this diffuser were 4 students from nine grade students. The result of this research is from all stages of critical thinking mathematically, the subject visualizer is able to be achieved, but it’s not able to be achieved at the evaluation stage. Subject verbalizer is also able to reach all indicators of critical thinking mathematically, but it’s not able to the inference, is not able to find another alternative (way) of evaluation test.
SCAFFOLDING OF PROSPECTIVE MATHEMATICS TEACHERS ON FIELD EXPERIENCE PRACTICE AT QOMARUDDIN UNIVERSITY Illah Winiati Triyana; Yeva Kurniawati
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT Vol 12 No 1 (2024): Vol 12 No 1 Januari 2024
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v12i1.5495

Abstract

This study aims to determine the types of scaffolding strategies used by prospective mathematics teacher students and also the reasons for using these strategies. To achieve the purpose of this study, a research design with a concurrent embedded strategy of mixed methods approach was used with the research subject being students of semester VII of the Mathematics Education Study Programme at Qomaruddin University. The instruments used to collect data in this study were observation sheets and interview guidelines which had previously been declared valid by two experts. The results of data analysis showed that the type of scaffolding strategy most often used by research subjects was modelling the desired behaviour with a percentage of 39.35%, followed by the strategy of inviting student participation at 27.02%. Meanwhile, the strategies of offering explanations and verifying clarification of students' understanding were 16.13% each, and finally the least frequently used strategy was inviting students to provide instructions, which was 1.29%. Based on the results of the interview, the reasons for using the types of scaffolding strategies by prospective student teachers include that they want students to be able to understand the material provided simply and want to make students feel more relaxed and consider the teacher as a friend.
SEMINAR DAN WORKSHOP PEMBUATAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM MERDEKA DI SMA AL HUDA TUBAN Nalurita, Ika; Wilda Mahmudah; Muhammad Jamaluddin; Roisatun Nisa; Illah Winiati Triyana; Yeva Kurniawati
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Patikala Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal PkM PATIKALA
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/patikala.v3i2.997

Abstract

Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mengembangkan soft skill guru SMA Al Huda Tuban melalui seminar dan workshop pembuatan perangkat pembelajaran agar pembelajaran dapat berjalan lebih baik lagi mengikuti perkembangan kurikulum yang ada. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah diskusi seminar dan workshop. Memberikan sosialisasi tentang Kurikulum Merdeka kepada para guru dengan memberikan seminar dan workshop dalam 2 hari berturut turut. Mulai dari penyiapan Tim Mahasiswa yang membantu dalam kegiatan tersebut dan kegiatan workshop yang diikuti oleh guru SMA Al Huda Tuban dengan narasumber berasal dari Dosen pembimbing pengabdian dari Universitas Qomaruddin Bungah Gresik. Oleh karena itu, kegiatan seminar dan workshop ini sangat penting dan akurat agar pembelajaran lebih optimal sehingga visi dan misi SMA AL Huda Tuban khusus nya terkait bidang belajar mengajar dapat tercapai dengan baik. Setelah dilakukan kegiatan pengabdian ini, para guru termotivasi untuk membuat perangkat pembelajaran kurikulum merdeka yang telah dipraktekan saat workshop dan dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran sehari hari. Dalam pelatihan tersebut dikenalkan Kurikulum Merdeka berikut semua komponen, karakteristik dan perubahannya dari kurikulum sebelumnya. Dengan demikian, semakin bertambah juga soft skill guru SMA Al Huda Tuban.