Syamruddin Nasution
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Implementasi Metode Pembelajaran Sejarah untuk Meningkatkan Nasionalisme Siswa Pada Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bengkalis Rusli Rusli; Syamruddin Nasution; Abu Anwar
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol 17, No 2 (2021): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Desember 2021
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Bengkalis sebagai wilayah yang berbatasan dengan negara-negara tetangga menjadi rawan terhadap hilangnya rasa nasionalisme di kalangan siswa SMA. Asumsi awal menyebutkan hilangnya rasa nasionalisme di kalangan siswa disebabkan pembelajaran sejarah tidak diterima dengan baik dan kurang menarik. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistik dengan mengkombinasikan studi pustaka dan lapangan, dengan teknik pengumpulan data melalui penelusuran, observasi dan wawancara dengan teknik analisis data induktif. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa nasionalisme di kalangan siswa SMA di Kabupaten Bengkalis masih sangat rendah karena pembelajaran sejarah belum mengakomodir potensi geografis dan historis yang ada. Implementasi pembelajaran sejarah hanya melalui pendidikan wawasan kebangsaan, sehingga upaya imlementasi pembelajaran belum efektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi metode pembelajaran sejarah diantaranya adalah relevansi model, relevansi metode, problematika dan stagnansi metode pembelajaran Sejarah. Pembelajaran sejarah harus dibuat menarik dan menyenangkan. Selain metode-metode yang ada, metode study wisata atau study tour yang dikolaborasi dengan metode diskusi aktif merupakan metode yang ideal untuk pembelajaran sejarah dengan mengintegrasikan kebesaran dan kekuasaan Allah swt di Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bengkalis.
MAKNA AHL AL-KITAB DALAM AL-QUR’AN (SUATU KAJIAN TAFSIR TEMATIK) Syamruddin Nasution
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 2 (2009): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i2.451

Abstract

One of the controversial in interfaith marriage is a sense Ahl al-Kitab. There are differences of understanding between the scholars who actually Ahl al-Kitab is because the meaning of Ahl al-Kitab has sects or groups in their causes differ in interpreting the verses of the Koran. This stutdy will examine it through thematic interpretation methods, through Tafsir Al-Azhar and Tafsir Al-Mishbah
Politik Islam di Malaysia; Studi tentang Partai Al-Islam Se-Malaysia (PAS) di Kelantan Syamruddin Nasution; Abd. Ghofur
An-Nida' Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v43i2.12321

Abstract

Kelantan merupakan salah satu dari 13 negara bagian di Malaysia, perjuangan penerapan syariat Islam  di Kelantan telah berjalan sejak lahirnya PAS tahun 1951. Namun otonomi atau kewenangan dalam penerapan syariat Islam yang dicita-citakan oleh PAS mengalami banyak hambatan karena bertentangan dengan UU Federal dan Akta Mahkamah Syariah. Dalam UU Federal tidak menganut azas negara Islam dan tidak menginginkan tegaknya hukum Islam berseberangan produk hukum di negeri kelantan. Akhirnya perbenturan diantara aturan pemerintah federal dan negara bagian tersebut, menjadikan peraturan negara bagian terpaksa dibatalkan pemerintah ferderal. Tulisan ini menjelaskan berbagai Upaya-upaya dalam penerapan syariat Islam yang dilakukan PAS di eksekutif, legislatif dan Majlis Syuro yang tiada henti dengan terus menyempurnakan produk hukumnya baik dalam bentuk Enakmen Jenayah Syariah Kelantan 1993  tentang hukum hudud, Qishas dan Tazir,serta peraturan-peraturan daerah (perda) melarang berbagai kemaksiatan.
KEBERHASILAN UMAR IBN KHATHTHAB MEMAJUKAN PEMERINTAHAN ISLAM Syamruddin Nasution
An-Nida' Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v36i1.294

Abstract

Umar is known other than as a conqueror, he was also known as a builder of a formidable government administration. So it's not excessive when compared with the three al-Khilafat al-Rashidin before and after, the reign of Omar's most stable and good. He is renowned as a fair and wise leader, a simple life, He is also known to care for the little people and the poor and the welfare of their lives. In the reign of Umar had materialized the ideal Islamic government, the officials are not arbitrarily executions in the reign, the rich are not arbitrary in behaving, the poor are not persecuted in the life, they stand as upright, seated at a low.
Implementasi Metode Pembelajaran Sejarah untuk Meningkatkan Nasionalisme Siswa Pada Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bengkalis Rusli Rusli; Syamruddin Nasution; Abu Anwar
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol. 17 No. 2 (2021): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Desember 2021
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56633/jkp.v17i2.317

Abstract

Kabupaten Bengkalis sebagai wilayah yang berbatasan dengan negara-negara tetangga menjadi rawan terhadap hilangnya rasa nasionalisme di kalangan siswa SMA. Asumsi awal menyebutkan hilangnya rasa nasionalisme di kalangan siswa disebabkan pembelajaran sejarah tidak diterima dengan baik dan kurang menarik. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistik dengan mengkombinasikan studi pustaka dan lapangan, dengan teknik pengumpulan data melalui penelusuran, observasi dan wawancara dengan teknik analisis data induktif. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa nasionalisme di kalangan siswa SMA di Kabupaten Bengkalis masih sangat rendah karena pembelajaran sejarah belum mengakomodir potensi geografis dan historis yang ada. Implementasi pembelajaran sejarah hanya melalui pendidikan wawasan kebangsaan, sehingga upaya imlementasi pembelajaran belum efektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi metode pembelajaran sejarah diantaranya adalah relevansi model, relevansi metode, problematika dan stagnansi metode pembelajaran Sejarah. Pembelajaran sejarah harus dibuat menarik dan menyenangkan. Selain metode-metode yang ada, metode study wisata atau study tour yang dikolaborasi dengan metode diskusi aktif merupakan metode yang ideal untuk pembelajaran sejarah dengan mengintegrasikan kebesaran dan kekuasaan Allah swt di Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bengkalis.
MUI Fatwa No. 10 of 2008 on Siri Marriage: An Interdisciplinary Study from the Perspective of Maqashid Sharia Kalijunjung Hasibuan; Syamruddin Nasution; Salmaini Yeli
Syura: Journal of Law Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58223/syura.v4i2.817

Abstract

This study investigates the implementation of MUI Fatwa No. 10 of 2008 concerning underhand marriage (nikah siri) in Padang Lawas Regency through an interdisciplinary maqāṣid al-syarī‘ah perspective. The persistence of underhand marriage remains a significant legal and social problem because many communities regard it as religiously valid despite the absence of formal state recognition, resulting in legal vulnerabilities for women and children. This study aims to examine the implementation of the fatwa, identify legal and social obstacles, explore the effectiveness of an interdisciplinary approach in addressing family law issues, and analyze the phenomenon through the framework of maqāṣid al-syarī‘ah. Employing a qualitative field research design, data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using a phenomenological approach involving epoche, phenomenological reduction, meaning categorization, textual and structural descriptions, and synthesis of meaning. The findings reveal that the implementation of the fatwa has not been fully effective due to weak legal enforcement, limited public legal awareness, cultural traditions, and economic considerations. The study further demonstrates that integrating legal, religious, social, cultural, and economic perspectives provides a more comprehensive understanding of underhand marriage. This research contributes to the development of interdisciplinary Islamic family law studies by strengthening the application of maqāṣid al-syarī‘ah as a holistic framework for resolving contemporary family law challenges in Muslim societies.
The Concept of Bâ’ah in Hadiths of Islamic Family Law and  its Relevance in Marriage Age Ismail Pane; Syamruddin Nasution; Khairunnas Jamal; Amru Hasibuan; Wira Lestari; Fatahillah bin Muhammad Syahrul
Jurnal Ushuluddin Vol. 34 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/5fzsew31

Abstract

This study aims to examine the concept of al-Bâ’ah in the hadits of Prophet Muhammad (peace be upon him) and to analyze its relevance to the determination of marriage age within contemporary society. The concept of al-Bâ’ah is a term frequently used in hadiths concerning Islamic family law, particularly those related to the recommendation of marriage for individuals who possess the necessary capability. However, the understanding of this concept is not limited merely to biological capability; it also encompasses economic, psychological, social, and spiritual aspects that serve as prerequisites for establishing a family characterized by sakinah (tranquility), mawaddah (affection), and rahmah (compassion). This research employs a library research method with a qualitative approach and thematic hadith analysis. The primary data sources consist of hadiths containing the term al-Bâ’ah along with their commentaries (syarḥ), while the secondary data sources are derived from Islamic jurisprudence (fiqh) literature, Islamic family law references, and regulations concerning the legal age of marriage. Data analysis is conducted through the inventory and collection of relevant hadiths, critical examination of their interpretations, contextual analysis, and the assessment of their relevance to modern social realities. The findings reveal that al-Bâ’ah in the hadith literature carries a comprehensive meaning, encompassing physical capability to fulfill reproductive functions, financial capability to provide family maintenance, and mental and emotional readiness to bear the responsibilities of married life. Therefore, indicators of marital readiness in Islam are not determined solely by biological age but also by an individual’s level of maturity across various dimensions of life. In the contemporary context, the concept of al-Bâ’ah remains highly relevant to policies establishing a minimum legal age for marriage, as such policies aim to ensure the physical, psychological, and social maturity of prospective spouses.