Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Identifikasi dan Guilt pada Teori Dramatisme Kenneth Burke dalam Film “They Live 1988” Achmad Sigit Syarifuddin; Irwansyah Irwansyah
JURNAL LENSA MUTIARA KOMUNIKASI Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Lensa Mutiara Komunikasi
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jlmk.v5i2.1676

Abstract

According to Burke, Dramatism means humans can learn and understand motives in all human interactions through symbols. Burke sees that the motives behind people's actions are essential for analyzing and finding out why people do and say what they do. Apart from the dramatic Pentad which is one of the important concepts in dramatism, there are identification, guilt and ratio. There are six ways of identification, formal patterns, framing, ambiguous symbols, mystification, and scapegoats. There are two forms of guilt, namely mortification and victimage. There are two forms of guilt, mortification and labeling the enemy or the victim of victimage. This study aims to analyze existing data to present the basic findings of dramatism theory, identification and guilt in the film "They Life 1988". This research was conducted with a qualitative descriptive approach, by analyzing findings from previous research or secondary data which will generate basic findings as the results of the analysis, namely: identifying which there are six parts, namely identification, formal patterns, framing, ambiguous symbols, mystification and scapegoat. Then it generates guilt in which there are two parts, mortification and labeling of the enemy or the victim of vicitimage.
Fleksibilitas interpretatif teknologi web 2.0 bagi pengelola media sosial instansi pemerintah Kunti Puspitasari; Irwansyah Irwansyah
PRofesi Humas Vol 6, No 2 (2022): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/prh.v6i2.28623

Abstract

Teknologi Web 2.0 sebagai web partisipatif ditandai kehadiran media sosial yang memiliki jangkauan luas dan cepat, serta melibatkan penggunanya. Saat ini, media sosial dimanfaatkan untuk menjalankan komunikasi publik kementerian/lembaga pemerintah. Media sosial instansi pemerintah seharusnya menawarkan interaksi antara instansi pemerintah dengan masyarakat sesuai tipologi Web 2.0 dan sebagai ruang layanan publik. Pengelolaan media sosial juga strategis dalam menjaga reputasi instansi pemerintah. Pengelolaan media sosial di kementerian/lembaga pemerintah umumnya dijalankan oleh kehumasan dengan menunjuk tim atau seorang pengelola/admin media sosial. Penelitian ini melihat bagaimana pengelola/admin media sosial kementerian/lembaga pemerintah sebagai kelompok sosial relevan (pengguna) menginterpretasikan teknologi Web 2.0, dalam hal ini media sosial, berdasarkan perspektif Social Construction of Technology (SCOT). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruksionisme, Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada tiga pengelola/admin media sosial di tiga kementerian dan lembaga yang berbeda. Hasil penelitian menggambarkan pengelola/admin media sosial kementerian/lembaga pemerintah memiliki fleksibilitas interpretatif yang sama dalam menggunakan media sosial, namun berbeda dari cara kerjanya. Interpretasi ini terkait penggunaan ruang interaksi dalam merespon komentar warganet. Perbedaan cara penggunaan terkait dengan konteks yang lebih luas, yaitu kultur organisasi, pemahaman akan struktur lain, serta kondisi politik yang sedang berkembang. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi pengembangan konsep SCOT pada penggunaan media sosial kementerian/lembaga pemerintah bagi kelompok sosial relevan lainnya, yaitu pengamat.