I Wayan Rusastra
Pusat Penelitian Agro Ekonomi Jl. Jend Ahmad Yani No.70 Bogor

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Government Policies and Economic Analysis of the Livestock Commodity System in Indonesia Faisal Kasryno; Pantjar Simatupang; I Wayan Rusastra; Arti Djatiharti; Bambang lrawan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n1.1989.1-36

Abstract

IndonesianPenelitian ini merupakan suatu usaha untuk meneliti keunggulan komparatif dan tingkat perlindungan/beban ekonomi untuk beberapa komoditas bahan baku pakan dan peternakan. Analisis keunggulan komparatif dilakukan dengan mempergunakan konsep rasio sumberdaya domestik, sedang tingkat perlindungan/beban ekonomi diukur dengan tingkat perlindungan nominal, tingkat perlindungan efektif dan subsidi implisit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi jagung di Indonesia lebih menguntungkan apabila dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik. Produksi kacang kedele di Jawa Barat ternyata tidak efisien. Kacang kedele mempunyai keunggulan komparatif apabila dihasilkan di Jawa Tengah dan di luar Jawa. Ubikayu dan beras mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi di seluruh Indonesia. Produksi susu sangat tidak ekonomis. Sedangkan produksi daging sapi, babi dan ayam ras mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi. Produksi telur lebih menguntungkan untuk konsumsi dalam negeri. Produksi telur mempunyai daya saing ekspor jika dihasilkan di Lampung dan Bogor. Struktur perlindungan komoditas secara umum tidak konsisten dengan efisiensi produksi komoditas. Insentif ekonomi cenderung bias untuk petani di Pulau Jawa.EnglishThis study is an investigation on comparative advantage and economic incentives of some major feed-stuffs and livestock products. The comparative advantage is analyzed using the domestic resource cost ratio criterion, whereas, economic incentive is measured using the nominal and effective protection rates, and implicit subsidy. The study shows that the corn production in Indonesia would be more beneficial economically if used domestically. The soybean production in West Java is not economical. The soybean only has comparative advantage if produced in Central Java and the islands outside Java. Cassava and rice have comparative advantage wherever they are produced. The dairy farming is highly uneconomical. Whereas beef, pork, and broiler productions are highly competitive, even for exportation. The egg production is more beneficial for domestic consumption. The egg production is competitive for exportation if produced in Lampung and Bogor. The commodities protection structures are generally in consistent with their economic efficiency configuration. The economic incentives are generally biased toward Java.
Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Domestik dalam Usaha Sapi Perah di Jawa Barat I Wayan Rusastra; Yusmichad Yusdja
Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v2n1.1982.63-81

Abstract

IndonesianAnalisa ekonomi tentang eflsiensi pemanfaatan sumberdaya domestik dengan alat Analisa DRC (Domestic Resource Cost) menunjukkan bahwa pada tingkat produktivitas yang lebih rendah dari yang dicapai saat ini, menyebabkan pola perusahaan dan pola peternak tidak eflsien seandainya harga susu di pasaran internasional lebih rendah dari US$ 0,19 atau Rp 120/liter. Produktivitas 2750 liter/unit ternak/tahun kiranya mampu dicapai lewat pola rekomendasi yang diajukan. Pada tingkat produksi ini, pemenuhan permintaan susu dengan produksi dalam negeri tetap menguntungkan sekalipun harga susu di pasaran internasional turun menjadi US$ 0,13 atau Rp 80 per liter. Pada tingkat produksi pola rekomendasi dan tingkat produksi 2 750 liter/unit ternak/tahun, usaha persusuan dalam negeri tetap eflsien dalam pemanfaatan sumberdaya domestik, sekalipun harga daging dipasaran internasional turun menjadi US $0.64 atau Rp 400/kg berat hidup lebih rendah dari harga finansial yang besarnya Rp 1200/kg). Harga riil susu di dalam negeri yang cukup tinggi (Rp 220/liter) masih mampu ditekan dengan tetap memberikan keuntungan yang memadai kepada peternak. Bila tingkat produksi 2.750 liter/unit ternak/tahun mampu dicapai dengan pola rekomendasi, maka pada tingkat produktivitas itu, harga yang layak secara finansial adalah sekitar Rp 150/liter.
Optimalisasi Integrasi Tanaman Pangan dan Ternak Sapi pada Berbagai Topografi Lahan di Bali: Suatu Studi Kasus di Kabupaten Badung I Wayan Rusastra
Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v4n1.1985.40-65

Abstract

IndonesianOptimalisasi integrasi ternak dan tanaman pangan dengan perancangan linier diharapkan dapat memberi altematif upaya peningkatan pendapatan dalam usahatani. Disamping itu diharapkan pula mampu menunjukkan arah pengembangan temak sapi dalam suatu daerah dengan kondisi agroekologi tertentu. Realokasi sumberdaya dalam solusi optimal menunjukkan adanya peningkatan pendapatan yang cukup memadai, kecuali untuk petani berlahan sedang dan luas didataran rendah. Bagi kedua golongan petani yang disebutkan terakhir ini, komoditi rekomendasi perlu digarap dalam penelitian lanjutan, atau perlu diciptakan teknologi budidaya tanaman sehingga pendapatan yang semakin layak dapat diciptakan. Dengan meningkatnya luas garapan, temak sapi temyata bersifat kompetitif dengan tanaman pangan untuk daerah dataran rendah dan berbukit. Implikasinya adalah untuk mempertahankan kehadiran usaha ternak sapi perlu diciptakan suatu teknologi pengusahaan ternak yang mampu memanfaatkan tenaga kerja dan modal secara lebih efisien. Didapatkan pula bahwa peningkatan pendapatan dalam salusi optimal temyata diikuti oleh penurunan memanfaatkan tenaga kerja dalam keluarga sehingga produktivitas per tenaga kerja meningkat. Implikasi lintas sektoral yang dapat dikemukakan adalah perlu diciptakan kesempatan kerja diluar sektor pertanian, terutama pada saat pemanfaatan tenaga kerja keluarga secara tidak penuh.
Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Domestik dalam Usaha Sapi Perah di Jawa Barat I Wayan Rusastra; Yusmichad Yusdja
Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v2n1.1982.63-81

Abstract

IndonesianAnalisa ekonomi tentang eflsiensi pemanfaatan sumberdaya domestik dengan alat Analisa DRC (Domestic Resource Cost) menunjukkan bahwa pada tingkat produktivitas yang lebih rendah dari yang dicapai saat ini, menyebabkan pola perusahaan dan pola peternak tidak eflsien seandainya harga susu di pasaran internasional lebih rendah dari US$ 0,19 atau Rp 120/liter. Produktivitas 2750 liter/unit ternak/tahun kiranya mampu dicapai lewat pola rekomendasi yang diajukan. Pada tingkat produksi ini, pemenuhan permintaan susu dengan produksi dalam negeri tetap menguntungkan sekalipun harga susu di pasaran internasional turun menjadi US$ 0,13 atau Rp 80 per liter. Pada tingkat produksi pola rekomendasi dan tingkat produksi 2 750 liter/unit ternak/tahun, usaha persusuan dalam negeri tetap eflsien dalam pemanfaatan sumberdaya domestik, sekalipun harga daging dipasaran internasional turun menjadi US $0.64 atau Rp 400/kg berat hidup lebih rendah dari harga finansial yang besarnya Rp 1200/kg). Harga riil susu di dalam negeri yang cukup tinggi (Rp 220/liter) masih mampu ditekan dengan tetap memberikan keuntungan yang memadai kepada peternak. Bila tingkat produksi 2.750 liter/unit ternak/tahun mampu dicapai dengan pola rekomendasi, maka pada tingkat produktivitas itu, harga yang layak secara finansial adalah sekitar Rp 150/liter.