Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Teknologi Sediaan Oral Lapis Tipis Terlarut Cepat (Fast Dissolving Film) Tengku Ruhul Fajria; Rina Fajri Nuwarda
Majalah Farmasetika Vol 3, No 3 (2018): Vol. 3, No. 3, Tahun 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.684 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v3i3.23341

Abstract

Teknologi sediaan oral lapis tipis terlarut cepat pertama kali dikembangkan pada tahun 1970-an sebagai alternatif dari penggunaan tablet untuk beberapa pasien yang mengalami kesulitan dalam menelan (anak-anak dan geriatri). Film lapis tipis menjadi sebuah pendekatan baru untuk bentuk sediaan obat karena penggunaannya yang lebih mudah dan lebih nyaman dibandingkaan dengan bentuk sediaan oral. Film lapi tipis terlarut cepat adalah bentuk sediaan padat tipis yang ketika ditempatkan dimulut akan larut dalam beberapa detik, sehingga oabat-obat dapat langsung menuju sirkulasi sistemik tanpa mengalami first pass effect metabolism. Formulasi film lapis tipis terdiri atas zat aktif dan eksipien (polimer, plasticizer, pemanis, perisa, dan lainnya). Film yang ideal harus memiliki sifat-sifat seperti warna yang seragam, rasa yang disukai, stabilitas tinggi, dan penangan yang mudah.Kata kunci: oral, film lapis tipis, terlarut cepat
REVIEW ARTICLE: PENGGUNAAN RADIOFARMAKA TEKNESIUM-99m DARI SENYAWA GLUTATION DAN SENYAWA FLAVONOID SEBAGAI DETEKSI DINI RADIKAL BEBAS PEMICU KANKER QUINZHEILLA PUTRI ARNANDA; RINA FAJRI NUWARDA
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.67 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22071

Abstract

Radikal bebas merupakan senyawa dengan satu atau lebih elektron tak berpasangan yang tak stabil dan sangat reaktif. Radikal bebas dapat berasal dari polutan lingkungan dan dari gaya hidup masyarakat yang tidak sehat sehingga menurunkan kualitas hidup dengan adanya berbagai penyakit degeneratif dari penuaan dini, stroke, bahkan kanker. Dengan adanya senyawa antioksidan, stres oksidatif yang dipicu oleh radikal bebas dapat distabilkan dan dinetralkan sehingga dapat menurunkan risiko kerusakan pada sel tubuh. Dengan penggunaan senyawa dari bahan alam sebagai antioksidan yaitu senyawa golongan flavonoid (kuersetin, rutin) dan glutation yang merupakan antioksidan endogen yang telah diformulasikan dengan radionuklida teknesium-99m (99m-Tc) menjadi beberapa sediaan radiofarmaka yang siap digunakan sebagai alat deteksi dini adanya radikal bebas dalam tubuh manusia penyebab kanker.Kata kunci: antioksidan, flavonoid, glutation, radikal bebas, radiofarmaka, stress oksidatif, teknesium-99m.
Senyawa Aktif Antikanker Dari Bahan Alam dan Aktivitasnya FACHREZA ERDI PRATAMA; Rina Fajri Nuwarda
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3309.326 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17429

Abstract

Kanker merupakan sel-sel tubuh yang mengalami pertumbuhan tidak normal. Saat ini telah banyak pengobatan untuk penyakit kanker baik untuk kanker non metastasis dan kanker metastasis contohnya yaitu obat kemoterapi. Namun efek samping yang diberikan sangat berbahaya karena obat kemoterapi juga menyerang sel-sel normal tubuh. Oleh karena itu banyak dilakukan penelitian untuk mencari pengobatan yang bisa mengurangi efek samping tersebut yaitu dengan mengganti obat kemoterapi dengan senyawa antikanker dari tanaman. Dari banyak penelitian yang dilakukan dan diambil dari sumber data, terdapat senyawa antikanker dari tanaman yang cukup efektif yaitu Lengkuas dengan adanya senyawa golongan flavonoid (3,5,7-trihydroksiflavon (galangin), 3,5,7-trihydroksi-4’-metoksiflavon (kaempferide) dan 5,7-dihidroksi-4’-metoksi-3-O-β-d glukopiranosidaflavon,(kaempferide-3-O-β-D-glukosida)) dengan IC50 16,76 µg/mL pada sel leukemia P-388 dan ekstrak Brucea javanica dengan senyawa aktif Senyawa brucamarines dan yatanine yang mempunyai aktivitas antikanker IC50 2,69 µg/mL pada sel kanker payudara T47D.Kata Kunci : Senyawa Antikanker, Aktivitas Antikanker, Bahan Alam
Review: Variasi Metode Uji Disolusi Terbanding (UDT) NOR IZZATI NOR; Rina Fajri Nuwarda
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.927 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12575

Abstract

AbstrakMenurut BPOM, uji ekivalensi sesuatu produk obat dapat dilakukan dengan Uji Disolusi Terbanding (UDT). UDT adalah uji disolusi komparatif yang dilakukan untuk menunjukkan similaritas ataupun perbedaan profil disolusi antara obat uji dengan obat inovator/komparator. UDT juga dapat digunakan untuk memastikan ekivalensi dan sifat-sifat produk sesuatu produk obat. Uji ini dilakukan dalam media disolusi dengan pH yang disesuaikan dengan kondisi in vitro yaitu pada pH 1,2; 4,5; dan 6,8. Terdapat tiga metode yang dianjurkan oleh FDA untuk melakukan uji disolusi terbanding ini seperti metode model-independen, metode model-dependen dan metode ANOVA. Hasil daripada penelitian, metode berbasis ANOVA dan model-dependen  agak rumit dan lebih diskriminatif jika dibandingkan dengan metode model-independent (f-factors).         Kata kunci: ANOVA, model-dependen, model-independen, UDT, uji disolusi terbanding   AbstractAccording to BPOM, the equivalence test of a drug product can be done with the Comparative Dissolution Test (CDT). CDT is a comparative dissolution test conducted to show the similarity or dissimilarity dissolution profiles between test drugs and innovator / comparator drugs. CDT can also be used to ensure the equivalence and product properties of a drug product. The test was performed in a dissolution medium with pH adjusted to in vitro conditions at pH 1.2; 4,5; And 6.8. There are three methods recommended by the FDA to perform this comparative dissolution test such as model-independent method, model-dependent method and ANOVA method. Based on the results, the ANOVA-based and model-dependent methods are more complex and more discriminative than the model-independent (f-factors) method.Keywords: ANOVA, comparative dissolution test, model-dependent, model independent
Penelitian Vaksin Dengue Tantangan dan Peluang UMROHTIN .; Rina Fajri Nuwarda
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.767 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10814

Abstract

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia khususnya di wilayah tropis dan subtropis. Penyebaran penyakit ini disebabkan oleh virus dengue melalui perantara nyamuk. Angka kejadian penyakit ini terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Upaya dalam pemberantasan penyakit ini telah dilakukan, akan tetapi tidak ada vaksin yang berlisensi yang aman dan efektif untuk mengobati infeksi dengue ini. proses Review ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan vaksin dengue saat ini yang dilakukan dengan mencari bahan dari berbagai sumber dengan menggunakan mesin pencari Google di internet. Hasilnya menunjukan bahwa terdapat beberapa kandidat vaksin yang tengah diuji baik secara klinik maupun preklinik. Akan tetapi terdapat kendala dalam tahap pengembangan vaksin ini diantaranya, patogenesis virus yang belum diketahui secara pasti dan juga kurang adanya model hewan yang cocok untuk digunakan dalam pengujian keamanan dan keefektifan vaksin.
TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DI MASYARAKAT: STUDI PENDAHULUAN PADA MASYARAKAT DI DESA HEGARMANAH, JATINANGOR, SUMEDANG Rimadani Pratiwi; Febrina Amelia Saputri; Rina Fajri Nuwarda
Dharmakarya Vol 7, No 2 (2018): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.862 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i2.19295

Abstract

Banyak masyarakat yang menggunakan obat tradisional baik untuk pengobatan maupun perawatan. Secara umum, obat tradisional yang dikenal masyarakat adalah jamu. Dalam perkembangannya, ada produsen yang menambahkan bahan kimia obat (BKO) ke dalam jamu. Penelitian ini dilakukan sebagai studi pendahuluan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan penggunaan obat tradisional di masyarakat. Data diperoleh dari 34 responden dan hasilnya menunjukkan bahwa 88,2% masyarakat mengenal jamu, 29,4% mengetahui obat herbal terstandar dan hanya 3% yang mengetahui fitofarmaka. Walaupun mayoritas masyarakat mengenal jamu, hanya 17,6% yang mengetahui kalo ada jamu yang ditambahkan BKO. Hasil ini dapat berkorelasi dengan dengan tingkat penggunaan obat tradisional di masyarakat, karena hanya 20,5% yang mengkonsumsi jamu. Hasil studi pendahuluan ini menunjukkan bahwa perlunya pemerataan dan penyampaian informasi secara langsung kepada masyarakat agar masyarakat dapat lebih memahami dan berhati-hati. Kata kunci: obat tradisional, jamu, bahan kimia obat, kuisioner
Molecular Docking Studies of Compounds from Brucea javanica (L.) Merr. Towards The Discovery of Potential H5N1 Neuraminidase Inhibitors Rina Fajri Nuwarda; Zelika Mega Ramadhania; Imam Adi Wicaksono; Muhammad Yusuf; Ade Rizqi Ridwan Firdaus; Muchtaridi Muchtaridi
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v7i1.25643

Abstract

The occurrences of a highly pathogenic avian influenza virus (HPAI) type A H5N1 has caused infections in millions of poultry as well as hundreds of human cases and even mortalities. Indonesia has become one of the world’s highest casualty rates of H5N1 human infections, with the number of deaths was 167 from a total of 199 cases. The development of viral resistance towards the available anti-influenza drugs neuraminidase (NA) inhibitors required the discovery of new inhibitors. In the recent advance of drug discovery, natural products have been considered as one of the essential sources of medicinal agents, and Brucea javanica has been found to possess antiviral activity against H5N1 NA. Thus, this research aimed to investigate the in silico activities of compounds from B. javanica using molecular docking methods against H5N1 NA. In this study, docking-based virtual screening of compounds from B. javanica to quickly select in silico hits to be potential NA inhibitors was performed. Subsequently, the intermolecular interactions of the inhibitor compounds with the H5N1 NA were analysed to examine the most preferred interactions. The results showed that brucein G and bruceoside C were found having the lowest binding energy and most preferred interactions with H5N1 NA and therefore, can be proposed for further study as potential NA inhibitors.Keyword: antiviral, Brucea javanica, H5N1, molecular docking, neuraminidase
In-Silico Studies of Compounds Derived from Brucea javanica (L.) Merr. as Potential Inhibitors of Influenza A Neuraminidase H5N1 Nuwarda, Rina Fajri
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Suppl. 5, No. 2 (2023) Special Issue for The 3rd Bandung International Teleconference on Pharmacy (B
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v0i0.51915

Abstract

The H5N1 bird flu virus continues to be endemic in Indonesia, posing continued threats to the poultry farming industry and public health. Classified as an influenza type A virus, the avian influenza virus is a member of the Orthomyxoviridae family. Type A influenza virus is the most lethal strain and frequently evolves resistance. The exploration of novel neuraminidase (NA) inhibitors is imperative due to the development of resistance by the H5N1 virus to NA drugs. Brucea javanica extract inhibits the activity of the H5N1 NA enzyme, according to previous research. Using the molecular docking technique, this study sought to ascertain the in-silico activity of the B. javanica compound in relation to H5N1 NA. By utilizing molecular docking simulation, we conducted the in-silico study and predicted the toxicity and pharmacokinetic profile of compounds, in addition to their drug-likeness according to Lipinski's Rule of Five. The result showed that Bruceantinol had a free binding energy of -8.93 kcal/mol, an inhibition constant of 0.28 M, and interactions with six important amino acid residues. The HIA and CaCo-2 values were 47.935% and 19.871%, respectively, whereas the PPB and BBB values were 39.591% and 0.049%. Neither is this substance carcinogenic nor mutagenic. Low binding energy and the most favored interaction with H5N1 NA were observed for Bruceantinol. Thus, Bruceantinol exhibits potential as a prospective NA inhibitor.
The Stability of Protein Therapeutics: A Significant Challenge in the Formulation of Biopharmaceuticals Nuwarda, Rina Fajri; Ramadhania, Zelika Mega; Novianti, Mia Tria
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology 2024: Suppl. 6, No. 2 (Universitas Halu Uleo Conference)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v6i2.56009

Abstract

Protein-based therapies have already brought about a significant transformation in the field of medicine, and their use continues to grow. The development of protein therapeutics has revolutionized the treatment of various diseases, such as cancer, autoimmune disorders, viral infections, cardiovascular disease, myocardial infarction, etc. Consequently, it is crucial to ensure the stability of formulations, given their rapid growth. Preserving the structural integrity of protein-based medicines is a significant challenge in developing a stable and high-quality formulation. This challenge arises during various stages, including manufacturing procedures, storage, handling, distribution, and delivery due to proteins' intricate and delicate nature. Hence, it is crucial to thoroughly understand the various degradation mechanisms that impact protein stability to enhance different variables and minimize the formation of degradation products, such as aggregation, oxidation, deamidation, etc., which could potentially have clinical implications. This review provides an important step in understanding the process of protein degradation and offers a beneficial approach to investigate the degradation of proteins, specifically aggregation, through several analytical and biophysical methods. This is important for facilitating the further advancement of protein-based therapies.
STUDI IN SILICO SENYAWA AKTIF PADA DAUN SAMBILOTO (ANDROGRAPHIS PANICULATA) SEBAGAI INHIBITOR ANDROGEN PADA KANKER PROSTAT Davinali, Belva Annora Alfita; Stephanie, Manuela Joy; Hanifa, Hasya Qanita Ali; Aurelia, Khanna Ragita; Prasiska, Rizky; Nurdin, Halwa Aulia; Nuwarda, Rina Fajri
Kartika : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/kjif.v9i2.721

Abstract

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di sel-sel kelenjar prostat pria, yang dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan nodus limfa. Di Indonesia, kanker prostat menjadi kanker kelima yang paling umum terjadi pada pria, dan menempati urutan kedua kanker paling umum terjadi pada pria di dunia. Reseptor Androgen (AR) adalah protein reseptor yang berperan penting dalam pertumbuhan sel kanker prostat dan telah digunakan sebagai sel target untuk pengembangan obat terkait penyembuhan kanker prostat. Penelitian ini bertujuan untuk studi in silico aktivitas senyawa kimia pada daun tanaman sambiloto (Andrographis paniculata) untuk menghambat reseptor Androgen (1E3G) untuk mengobati kanker prostat. Penelitian dilakukan dengan metode molecular docking menggunakan perangkat lunak Chemdraw, Chem3D, AutoDockTools 1.5.6., BIOVIA Discovery Studio 2021, dan Ligandscout. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa Andrografolid mempunyai energi ikatan bebas terendah yaitu -10.73 KKal/mol serta interaksi pada beberapa residu asam amino yang sama dengan ligan alami, yaitu Metribolon. Karena itu dapat disimpulkan bahwa dari daun sambiloto senyawa andrografolid merupakan senyawa yang paling berpotensi dalam penghambatan reseptor Andorgen.  Kata kunci : Andrographolide, reseptor androgen, studi in silico   Abstract Prostate cancer is a malignancy in men’s prostate gland cells, which can spread to other parts of the body, most commonly bones and lymph nodes. In Indonesia, prostate cancer is the third most common type of cancer among men, and is the second most commoncancer in men in the world. Androgen receptor (AR) is a receptor protein that plays an important role in the growth of prostate cancer cells and has been used as a target cell for developing drugs for prostate cancer treatment. This research aims to study in silico the activity of chemical compounds in the leaves of the sambiloto plant (Andrographis paniculata) to inhibit the Androgen receptor (1E3G) to treat prostate cancer. Tests were Carried out with molecular docking method using the software Chemdraw 3D, AutoDockTools 1.5.6., BIOVIA Discovery Studio 2021, and Ligandscout. The results showed that Andrographolid compounds had the lowest free bond energy of -10.73 KKal/mol and interactions in several amino acid residues that were the same as natural ligands, namely Metribolon. Therefore, it can be concluded that from sambiloto leaves, andrographolid compounds are the most potential compounds in inhibiting Andorgen receptors. Keywords : Andrographolide, Androgen receptor, in silico study.