Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

VITALITAS BAHASA KOMUNITAS DUANU DI DESA TAGARAJA, KABUPATEN INDRAGIRI HILIR, RIAU Zainal Abidin
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2019): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47269/gb.v5i2.85

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat vitalitas bahasa padakomunitas Duanu di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pusposive sampling. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan kuesioner menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan pengamatan langsung. Data dianalisis dengan langkah 1) memberikan skor, 2) menghitungrata-rata skor, 3) menghitung kumulatif indeks setiap indikator, dan 4) menghitung indeks total. Penelitian ini menemukan bahwa kumulatif indeks indikator jumlah penutur 0,36, kontak bahasa 0,68, bilingualitas 0,36, posisi dominan masyarakat penutur 0,44, ranah penggunaan bahasa 0,28, sikap bahasa 0,52, regulasi 0,26, pembelajaran 0,21, dokumentasi 0,22, dan tantangan baru 0,13. Skor total indeks bahasa Duanu adalah 0,35 dan berada pada kategori “ terancam”.Kata Kunci: vitalitas bahasa, komunitas Duanu, Tagaraja Abstract: This research aims to determine the level of language vitality in the Duanu community in Indragiri Hilir Regency, Riau. This study uses qualitative methods with purposive sampling technique. To collect data, researchers used a questionnaire made by Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa and conducted direct observation. Data were analyzed by: 1) giving a score, 2) calculating the means score, 3) calculating the cumulative index of each indicator, and 4) calculating the total index. This research showed that the cumulative indicator index of the speakers number are 0.36, contact language0.68, bilinguality 0.36, the dominant position of the speaker community 0.44, language use realm 0.28, language attitude 0.52, regulation 0.26, learning 0.21, 0.22 documentation,and new challenges 0.13. The total score of the Duanu language index is 0.35 and is in the “threatened” category.Keywords: language vitality, Duanu community, Tagaraja
KATA BERINFIKS PADA STRUKTUR LEMA KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA (THE INFIXED WORDS IN ENTRY STRUCTURE OF KBBI) Zainal Abidin
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 1 (2018): Metalingua Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.954 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i1.66

Abstract

Abstract The research on the infixed words in KBBI (Indonesian Great Dictionary) aims at describing the infixed words in the structure of the dictionary. This is a qualitative descriptive research. The subject of this study is the Fourth Edition of KBBI, while the object of research is the infixed entries contained in the dictionary. The data used in this study is the whole infixed words that made the entry in the dictionary. Data collection is carried out by reading and writing techniques. The data analysis steps are performed by collecting the entries, sorting the entries, classifying the entries by category or criteria according to the entry structure. The analysis is carried out after classification. The result of the research shows that in Fourth Edition of KBBI, there are twenty infixed words which are divided into four infixes -el-, -em-, -er-, and -in- and arranged as the main entry, i.e gelembung (bubbles), gelenang (grateful), geletar (tremble), geligi (teeth), gemeletuk (tingling), gemelugut (shrieking), gemeresik (rustling), gemeretak (rattling), gemerencang ( clanging), gemerincing (jingling), gemerlap (sparkling), gemetar (trembling), gemuntur (thundering), gemuruh  (rumbling), gerigi (serrations), serabut (fibers), seruling (flutes), sinambung (continuous), telingkah (hoarse), and telunjuk (finger). The word gerisik in the dictionary has the same basic meaning as the rhyme form, although the word geresik as the basic form of rustle are not found, while gerincing is the basic form of rattle, although the word gerencing is not found because the clanging rhyme is given the equivalent of word gemerincing to refer to the formation used. Meanwhile, in the dictionary, the word seruling (flute) that is supposed to be a derivation form of the word suling is created to be one of the meanings of the suling entry instead.  Abstrak Penelitian tentang kata-kata berinfiks pada Kamus Besar Bahasa Indonesia ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata-kata berinfiks dalam struktur kamus tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, sedangkan objek penelitiannya adalah lema berinfiks yang terdapat di dalam kamus tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kata berinfiks yang dijadikan lema dalam kamus tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Langkah-langkah analisis data dilakukan dengan mengumpulkan lema, mengurutkan lema, mengklasifikasikan lema berdasarkan kategori atau kriteria sesuai dengan struktur lema. Penganalisisan dilakukan setelah dilakukan pengklasifikasian. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat terdapat dua puluh kata berinfiks yang dibedakan menjadi empat infiks -el-, -em-, -er-, dan -in- dan disusun sebagai lema utama, yaitu gelembung, gelenang, geletar, geligi,  gemeletuk, gemelugut, gemeresik, gemeretak,  gemerencang, gemerincing, gemerlap, gemetar, gemuntur, gemuruh, gerigi, serabut, seruling,  sinambung, telingkah, dan telunjuk. Kata gerisik dalam kamus tersebut bermakna dasar yang sama dengan bentuk jadian gemeresik meskipun tidak ditemukan kata geresik sebagai bentuk dasar gemeresik, sedangkan gerincing merupakan bentuk dasar gemerencing kendatipun tidak ditemukan kata gerencing karena pada lema gemerincing diberi padanan kata gemerencing untuk mengacu bentukan yang dipakai. Sementara itu, kata seruling yang seharusnya merupakan bentuk derivasi dari kata suling dalam kamus tersebut malah dijadikan salah satu makna dari lema suling. 
BUNYI /O/ DIALEK KAMPAR BERASAL DARI / / DIALEK RIAU KEPULAUAN: BENARKAH? Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v3i1.2

Abstract

The object ive of this research is to find out the origin of phone / / in BMDK. In order to reach the goal, this research uses the data in forms of 100 words listed in the Swadesh Form. The Data were obtained by the mapping team of local language of Balai Bahasa Provinsi Riau. The data were analyzed with descriptive method, dialectology theory and linguistic history. The research findings show that phone / / in BDMK does not come from /"/ which is one of the characteristics of BMK, but from /o/ which is one of the characteristics of BM.
ASIMILASI DALAM ISOLEK BONAI ULAKPATIAN Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v7i2.50

Abstract

This study aims at describing the assimilation of Bonai Ulakpatian isolect in RiauProvince. This study is a linguistics research about sound changing that occurs on the different sounds to be the same sounds at the position between two vowels in the middle of a word in an isolect that is used by Bonai ethnic group in Ulakpatian Village, Rokan Hulu Regency. The data of the research is the utterances data of Bonai ethnic group community that referred to in selection of language data. The data were collected by applying interview method by using conversation and recording technique. The data were described phonetically by using IPA symbol, the data were compared with PM and made conclusion The result of the research shows that Bonai Ulakpatian isolect has four assimilation forms at the position between two vowels in the middle of a word, namely 1) PM *nd/v-v> BU [n]/v-v, 2) PM *ŋg/v-v> BU [ŋ]/v-v, 3) PM *mb/v-v> BU [m]/v-v that are total progressive assimilation and phonetics assimilation, and 4) PM *nj/v-v> BU [ñ]/v-v that are reciprocal and phonemic assimilation.
PEMERINGKATAN MAKNA MEMBAWA DALAM BAHASA BONAI DIALEK ULAKPATIAN Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v8i1.79

Abstract

The study on The Categorizing Meaning of “Membawa” in Bonai Language of Ulakpatian Dialect aims at describing words that indicate “membawa” (bring) in many ways in Bonai Language of Ulakpatian Dialect (BLUD). This study is a descriptive qualitative method by analyzing the word meaning components of ‘membawa’ (bring) in BLUD. Primary data in this research are speech data or oral data collected by applying survey method. The data were collected using the conversation method and the listening method by applying some techniques, such as the stimulation and response technique, note taking technique, and recording technique. The research findings reveal that there are fifteen words in BLUD that express 'membawa' namely angket bahamo, bobat, gana, ganit, gopok, horuk, kopag, kopik, moambin, moamit, mujug, munak, nyinyik, nyulag, and sandag. By analyzing the meaning component, the fifteen words can be defined based on the genus proximus and its deferencia specifica.
KEKERABATAN BAHASA AKIT DAN DUANU: KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v5i1.175

Abstract

This study aims to find the kindship relation between Akit language and Duanu language in Riau Province. Data was in the form of Swadesh vocabulary list of eight regional languages Akit observations areas of  Akit  Language and Duanu language users in Riau Province that was collected using documentation technique and analyzed by applying quantitative descriptive method that  followed the steps of transcribing, classifying, comparing, and formulating the research results. Analyzing data was carried out by using lexicostatistics technique. The results that obtained from the research are Akit language and Duanu language are in one family group of language (36-81%) . The proximity of APN language and language DSL has a very high closeness (53,5%)  Akit Language in Kepulauan Meranti is the same language as Akit language in Hutan Panjang, Bengkalis. Language that is the closest to the farthest with the two languages  consecutively as the following APN and DPP language (52,75%), APN and DTP language (51,75%), APN and DSL had the same percentage as APN and DBL (51,5%), ASS and DPP language (51,25%), ASN and DSL language (50,75%),ASS and DSL language (46,5%), AHP and DPP language (44%), ASS and DBL language and ASN and DBL language (42,5%), AHP and DSL language (42%), AHP and DTP (39,5%), AHP and DBL (37%). Penelitian ini bertujuan menemukan hubungan kekerabatan antara bahasa Akit dan Duanu di Provinsi Riau. Data berupa daftar Swades dari delapan daerah pengamatan bahasa Akit dan Duanu di Provinsi Riau dikumpulkan dengan teknik dokumentasi kemudian dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif mengikuti langkah-langkah mentranskripsikan, mengklasifikasikan, membandingkan, dan merumuskan hasil penelitian. Penganalisisan dilakukan dengan teknik leksikostatistik.Hasil yang diperoleh adalah bahasa Akit dan Duanu, dapat ketahui bahwa kedua bahasa tersebut berada dalam satu keluarga (36─81%). Kedekatan bahasa APN dan bahasa DSL memiliki kedekatan yang sangat tinggi (53,5%). Bahasa Akit Sonde di Kepulauan Meranti merupakan bahasa yang sama dengan Akit Hutan Panjang di Bengkalis. Bahasa yang terdekat sampai dengan terjauh dengan dua bahasa tersebut berturutturut yaitu bahasa ASS dan DTP (52,75%), bahasa APN dan DTP (51,75%), bahasa APN dan DPP dan APN dan DBL (51,5%), bahasa ASS dan DPP (51,25%), ASN dan DSL (50,75%), ASS dan DSL (46,5%), AHP dan DPP (44%), ASS dan DBL dan ASN dan DBL (42,5%), AHP dan  DSL (42%), ASN dan DTP (40%), AHP dan DTP (39,5%), AHP dan DBL (37%). 
Cover Jurnal Madah Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i1.413

Abstract

Abstract Views Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i1.417

Abstract

Variasi Makna Kata ‘Berjalan’ dalam Bahasa Bonai Dialek Ulakpatian Zainal Abidin
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v12i2.422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata-kata yang menyatakan ‘berjalan’ dengan berbagai cara dalam bahasa Bonai Dialek Ulakpatian (BBDU). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menganalisis komponen makna ‘berjalan’ dalam BBDU. Data primer dalam penelitian ini adalah data ujaran atau data lisan yang dikumpulkan dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui metode cakap dan metode simak dengan menerapkan beberapa teknik, seperti teknik pancing, teknik catat, dan teknik rekam. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dalam BBDU kosakata yang menyatakan ‘berjalan’ diwakili oleh empat sudut pandang, yaitu cara, sikap, tujuan, dan tempat melakukannya. Dari sudut pandang cara melakukannya, makna ‘berjalan’ dibedakan atas bajajah, barensuik, beransu, jeruik, maleso, malicak, manarik, moirik, padek egak, perangsag, dan tamenye-menye. Berdasarkan sudut pandang sikap saat melakukannya, makna ‘berjalan’ dibedakan atas manjojaki, malengak, lengak, taulu-ulu, tapuji-puji, tahele-hele, padek elok, dan tak tecotuk atah. Dari sudut pandang tujuan melakukannya, makna ‘berjalan’ dibedakan atas kata menyuluh, kawup, bakisah, dan celengkang, sedangkan dari sudut pandang tempat melakukannya, makna ‘berjalan’ hanya pada kata menakih. Abstract The research aims at describing words that indicate “berjalan” (walking) in many ways in Bonai Language of Ulakpatian Dialect (BLUD). This study is a descriptive qualitative method by analyzing the word meaning components of ‘berjalan’ (walking) in BLUD. Primary data in this research are speech data or oral data collected by applying survey method. The data were collected using the conversation method and the listening method by applying some techniques, such as the stimulation and response technique, note taking technique, and recording technique. From the research results, it is found that in the BBDU the vocabulary which states "walking" is represented by four points of view, namely the way, attitude, purpose, and place to do it. From the point of view of how to do it, the meaning of 'walking' is differentiated into bajajah, barensuik, beransu, jeruik, maleso, malicak, manarik, moirik, padek egak, perangsag, and tamenye-menye. Based on the attitude point of view when doing it, the meaning of 'walking' is differentiated into manjojaki, malengak, lengak, taulu-ulu, tapuji-puji, tahele-hele, padek elok, and tak tecotuk atah.. From the point of view of the purpose of doing it, the meaning of "walking" is distinguished into the words menyuluh, kawup, bakisah, and celengkang, whereas from the point of view of the place where you do it, the meaning of "walking" is only in the word menakih.
KATA-KATA BERHOMONIMI DAN BERPOLISEMI DALAM STRUKTUR LEMA KAMUS KECIL BAHASA MELAYU (KKBM) (Homonym and Polysemy Words in the Lexemes of Kamus Kecil Bahasa Melayu (KKBM)) Zainal Abidin
SAWERIGADING Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i2.636

Abstract

This study aimed to describe the homonym and polysemy in the lexemes of Kamus Kecil Bahasa Melayu (KKBM). It was a qualitative descriptive study. The recearch subject was the Third Edition of KKBM (Malay Pocket Dictionary), and the research objects were homonym and polysemy of the dictionary. The data used in this study were all lexemes potential to be homonym and polysemy used in the dictionary. The data collected were using reading and note taking techniques. The data analysis was conducted out by collecting, sorting, and classifying lexemes based on categories or criteria according to their structure. The analysis was carried out after classification. The research findings revealed that 700 lexemes were the potential to be homonym and polysemy in the dictionary. Three hundred forty four of them were homonymic and 356 of them were polysemic. The same arrangement among homonym and polysemy is due to the author’s ignorance of the meaning relations in words with the exaet spelling lack reference and knowledge in structuring the dictionary.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata-kata berhomonimi dan berpolisemi dalam struktur lema Kamus Kecil Bahasa Melayu (KKBM). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah KKBM Edisi Ketiga, sedangkan objek penelitiannya adalah lema berhomonimi dan berpolisemi yang terdapat dalam kamus tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kata yang berpotensi menjadi kata-kata berhomonimi dan berpolisemi yang dijadikan lema dalam kamus itu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Langkah-langkah analisis data dilakukan dengan mengumpulkan lema, mengurutkan lema, mengklasifikasikan lema berdasarkan kategori atau kriteria sesuai dengan struktur lema. Penganalisaan dilakukan setelah pengklasifikasian. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa dalam KKBM ditemukan lema yang berpotensi menjadi kata-kata berhomonimi dan berpolisemi sebanyak 700 lema. Berdasarkan analisis yang dilakukan, ditemukan 344 lema berhomonimi dan 356 lema berpolisemi. Penyusunan yang sama antara kata-kata berhomonimi dan berpolisemi disebabkan oleh ketidaktahuan penyusun terhadap relasi makna yang terdapat dalam kata-kata yang berejaan sama dan kurangnya referensi serta pengetahuan penyusun kamus akan struktur kamus.