Anny Mulyani
Indonesian Center for Agricultural Research and Development, Agency for Agricultural Research and Development, Ministry of Agriculture

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengelolaan Lahan Kering Beriklim Kering untuk Pengembangan Jagung di Nusa Tenggara Anny Mulyani; Mamat Haris Suwanda
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n1.2019.41-52

Abstract

Abstrak. Wilayah Nusa Tenggara mempunyai lahan kering beriklim kering seluas 4,9 juta ha dengan curah hujan <2.000 mm/tahun dan bulan kering 5-10 bulan, bersolum tanah dangkal dan berbatu. Sebagian lahan tersebut sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian terutama jagung, akibatnya produktivitas tanaman jagung rendah dibandingkan potensi genetiknya, yaitu sekitar 2,5 ton/ha di NTT dan 5,3 ton/ha di NTB dibanding dengan potensi genetiknya 9 ton/ha. Sejak tahun 2010-2015, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengembangkan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering beriklim kering dan berbatu di beberapa kabupaten di NTT dan NTB, meliputi penyediaan sumberdaya air (dam parit, embung, tampung renteng mini, sumur dangkal), pengenalan varietas unggul baru dan budidaya tanaman pangan. Pembelajaran yang diperoleh menunjukkan bahwa penyediaan air menjadi titik ungkit untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas tanaman. Inovasi teknologi yang dibutuhkan petani adalah, mudah diterapkan, biaya murah, dan efisien tenaga kerja mendorong berlanjutnya teknologi tersebut meskipun progam tersebut telah selesai. Pada tahun 2014-2018 telah dilaksanakan kegiatan pertanian konservasi melalui dana hibah barang dan jasa yang dikelola FAO. Prinsip dasar pertanian konservasi terdiri atas 3 pilar, yaitu olah tanah terbatas berupa lubang olah permanen, penutupan permukaan tanah, rotasi/tumpangsari. Lubang tanam tersebut diberi pupuk kandang atau kompos, dan ditanami jagung pada 4 penjuru lubang, dan ditumpangsarikan dengan berbagai kacang-kacangan atau tanaman merambat seperti labu kuning yang berfungsi sebagai penutup tanah dan penghasilan tambahan dari kacang-kacangan berumur pendek. Berdasarkan hasil analisis tanah sebelum dan sesudah implementasi pertanian konservasi menunjukkan bahwa pertanian konservasi dapat meningkatkan kesuburan tanah, retensi air dan meningkatkan produksi tanaman jagung. Abstract. The Nusa Tenggara region has upland area with dry climate of 4.9 million ha, less than 2,000 mm annual rainfall, 5-10 dry months, shallow and rocky soils. Some of the land has been used for agricultural development, especially corn, resulting in low corn productivity of around 2.5 tons / ha in NTT and 5.3 tons / ha in NTB as compared to it genetic potential 9 tons /ha. Since 2010-2015, Indonesian Agency of Agricultural Research and Development has developed innovation of soil management technology for upland with dry climates and and rocky soils in several districts in NTT and NTB. The innovation includes the provision of water resources (dam trenches, reservoirs, mini catchments, and shallow wells), introduction of new high yielding varieties and cultivation crops. The lessons learned show that water supply is the initial point to increase cropping index and crop productivity. Technological innovations needed by farmers are easy to implement, low cost, and labor efficient thereby encourage the continuation of the technology even though the program has been completed. In 2014-2018, conservation agriculture activities were carried out through grants of goods and services managed by Food Agriculture Organization (FAO). The basic principle of conservation agriculture consists of 3 pillars, namely limited tillage in the form of permanent planting holes, cover crops, rotation / intercropping. The planting hole is given manure or compost, and planted with corn in 4 corners, and intercropped with various nuts or vines such as pumpkin that serves as a soil cover and additional income from short-lived beans. Based on the results of soil analysis before and after the implementation of conservation agriculture, it shows that conservation agriculture can increase soil fertility, water retention and increase corn crop production.
Dukungan Data Sumberdaya Lahan dalam Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (Food Estate) di Provinsi Kalimantan Tengah Husnain Husnain; Anny Mulyani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.23-35

Abstract

Abtsrak. Pengembangan kawasan sentra pangan (food estate) di Provinsi Kaimantan Tengah memerlukan dukungan analisis geospasial kesesuaian biofisik lahan dari enam Kementerian/Lembaga terkait yang dikoordinir oleh Kemenko Perekonomian, sehingga diperoleh area of interest (AOI) kawasan pengembangan. Kementerian Pertanian (cq BBSDLP) telah memberikan data sumberdaya lahan berupa peta tanah, peta sebaran lahan gambut, peta sebaran perkebunan kelapa sawit, peta kesesuaian lahan, dan peta ketersediaan lahan Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil analisis geospasial menunjukkan bahwa AOI kawasan pengembangan food estate seluas 770.600 ha. BBSDLP melakukan analisis geospasial lanjutan antara peta AOI dengan peta lahan rawa dan peta lahan gambut, hasilnya menunjukkan bahwa dari 770.600 ha tersebut terdiri dari rawa lebak 473.501 ha dan rawa pasang surut 269.451 ha atau terdiri dari 419.682 ha tanah mineral dan 350.918 ha tanah gambut. Berdasarkan rencana induk dan Grand Design pengembangan kawasan food estate akan terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi. Pada tahun 2020 telah dilakukan intensifikasi pada lahan sawah eksisting yaitu 10.000 ha di Kabupaten Pulang Pisau dan 20.000 ha di Kabupaten Kapuas, berupa percepatan pengolahan lahan dan tanam dengan alat mesin pertanian, bantuan benih, dan pupuk. Dukungan data spasial sumberdaya lahan dalam pengembangan food estate meliputi peta calon petani calon lokasi (CPCL), sebaran kedalaman pirit, dan rekomendasi pengelolaan lahan. Pemanfaatan data spasial tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penenetuan rekomendasi pemupukan dan pengelolaan lahan sehingga lahan sawah tersebut dapat berproduksi secara optimal sesuai dengan tipologi lahannya Abstract. Food estate development at Central Kalimantan Province needs supporting geospatial analysis of the biophysical land suitability from six related Ministries/Agencies which is organized by the Coordinating Ministry for Economic Affairs, in order to obtain the area of interest (AOI). The Ministry of Agriculture (cq BBSDLP) has provided land resource data for Central Kalimantan Province, i.e. soil maps, peat maps, oil palm plantation distribution maps, land suitability maps, and land availability maps. The analysis showed that the AOI for the food estate development area covers an area of 770,600 ha. BBSDLP conducted further geospatial analysis between the AOI map and the swamp land map and the peatland map. The result showed that this AOI is divided into 473,501 ha of swamp and 269,451 ha of tidal swamp, or consisting of 419,682 ha of mineral soil and 350,918 ha of peat soil. Based on the master plan and Grand Design, the development of the food estate area will be conducted by both intensification and extensification. In 2020, there has been intensification of the existing rice fields about 10,000 ha in Pulang Pisau Regency and 20,000 ha in Kapuas Regency, in the form of land processing and planting acceleration using agricultural machinery, and the assistance of seeds, and fertilizers. Supporting spatial data is consisted of maps of the farmers’ location, the distribution of pyrite depth, and the recommendations for land management. The spatial data is expected could be used as a reference in determining the appropriate fertilization recommendations and land management in accordance with the land typology. Therefore, the rice fields could produce optimally,
ANALISIS KAPASITAS PRODUKSI LAHAN SAWAH UNTUK KETAHANAN PANGAN NASIONAL MENJELANG TAHUN 2045 Anny Mulyani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.33-50

Abstract

Lahan sawah di Indonesia seluas 7,463 juta ha menjadi andalan utama dalam memproduksi bahan pangan terutama beras. Di sisi lain, tekanan terhadap lahan sawah semakin besar untuk berbagai kebutuhan di luar sektor pertanian, terutama konversi lahan sawah produktif yang sulit dikendalikan yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lahan sawah berdasarkan tipologinya, memprediksi kapasitas produksi dan kebutuhan pangan (beras) menjelang tahun 2045.  Kegiatan diawali dengan melakukan analisis spasial peta lahan sawah pada beberapa periode, peta penggunaan lahan dan peta lahan rawa, sehingga diperoleh peta sebaran jenis lahan sawah yaitu sawah irigasi, tadah hujan, pasang surut dan lebak pada tingkat kabupaten. Tahapan berikutnya mengumpulkan data luas panen dan produktivitas selama 5 tahun, dan luas baku sawah, sehingga diperoleh data kapasitas produksi masing-masing jenis sawah.  Kebutuhan pangan menggunakan data proyeksi penduduk, konsumsi per kapita dan stok pangan. Hasil identifikasi jenis sawah menunjukkan bahwa sawah irigasi sekitar 55,1% dari total sawah, sedangkan sawah tadah hujan sekitar 3,3 juta ha termasuk 0,7 juta ha pasang surut dan 0,4 juta ha lebak.   Kapasitas produksi sawah irigasi dan tadah hujan terbesar berada di Pulau  Jawa  karena luas baku sawah irigasi terluas, produktivitas dan indeks pertanaman tertinggi. Namun jika konversi lahan dan konsumsi per kapita tidak bisa ditekan maka kebutuhan pangan nasional tidak dapat terpenuhi menjelang tahun 2045 meskipun telah ada upaya peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman untuk seluruh jenis sawah sesuai potensinya. Konversi lahan akan menjadi ancaman terbesar dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan, sehingga perlu dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, pemahaman dan pemantauan swasta dan masyarakat untuk menekan laju konversi dan menentukan skala prioritas dalam pemanfaatan lahan sawah eksisting.
Pemanfaatan Data Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Komoditas Strategis di Indonesia Anny Mulyani; Erna Suryani; Husnain Husnain
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n2.2020.79-89

Abstract

Abstrak. Data sumberdaya lahan untuk 511 kabupaten/kota sudah tersedia mencakup peta tanah, peta kesesuaian lahan, dan peta arahan komoditas pertanian, dilengkapi dengan buku paket rekomendasi pengelolaan lahan. Komoditas yang sudah dievaluasi kesesuaian lahannya mencakup padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabe merah, tebu, pakan ternak, kakao, dan kelapa sawit. Data sumberdaya lahan tersebut  menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas strategis di Indonesia, terbukti dengan banyaknya permintaan data baik dari Direktorat Jenderal Teknis lingkup Kementerian Pertanian, Kementerian/Lembaga terkait, pengusaha swasta, dan para investor dalam dan luar negeri, serta perguruan tinggi. Peta tematik yang banyak diminati adalah peta kesesuaian lahan dan peta sebaran lahan potensial untuk pengembangan berbagai komoditas strategis, baik untuk intensifikasi di lahan eksisting ataupun lahan ekstensifikasi, terutama di lahan semak belukar yang belum dimanfaatkan. Permasalahan utama adalah belum tersedianya peta penggunaan lahan terkini, sehingga kemungkinan penggunaan lahannya sudah berbeda dan yang diduga potensial untuk perluasan komoditas pertanian ternyata sudah dimanfaatkan. Oleh karena itu, perlu upaya penyediaan peta status penguasaan dan penggunaan lahan terbaru, agar para pengguna data yakin bahwa lahan potensial tersebut benar tersedia di lapangan. Abstract. Land resources data for 511 regency/cities is available consisting of soil maps, land suitability maps, and recommended agricultural commodities maps, completed with a land management recommendation package book. Commodities that have been evaluated for land suitability including rice, corn, soybeans, shallots, red chillies, sugar cane, animal feed, cocoa, and palm oil. Land resources data is important in the development of strategic commodities in Indonesia. There has been numerous data requests from the Technical Directorate General of the Ministry of Agriculture, relevant Ministries/Institutions, private entrepreneurs and domestic and foreign investors, and universities.  The most on demand thematic maps are land suitability maps and maps of potential land distribution for developing various strategic commodities both for agricultural intensification and land expansion (extensification). Unfortunately, the up to date landuse map is barely available and the precise area that is potentaly available for agricultural land expansion is hardly defined. Therefore, providing the most recent land status and landuse maps is very important to convince map users that the precise potential area for agricultural land expansion could be axactly defined.
Pengelolaan Lahan Kering Beriklim Kering untuk Pengembangan Jagung di Nusa Tenggara Anny Mulyani; Mamat Haris Suwanda
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n1.2019.41-52

Abstract

Abstrak. Wilayah Nusa Tenggara mempunyai lahan kering beriklim kering seluas 4,9 juta ha dengan curah hujan <2.000 mm/tahun dan bulan kering 5-10 bulan, bersolum tanah dangkal dan berbatu. Sebagian lahan tersebut sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian terutama jagung, akibatnya produktivitas tanaman jagung rendah dibandingkan potensi genetiknya, yaitu sekitar 2,5 ton/ha di NTT dan 5,3 ton/ha di NTB dibanding dengan potensi genetiknya 9 ton/ha. Sejak tahun 2010-2015, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengembangkan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering beriklim kering dan berbatu di beberapa kabupaten di NTT dan NTB, meliputi penyediaan sumberdaya air (dam parit, embung, tampung renteng mini, sumur dangkal), pengenalan varietas unggul baru dan budidaya tanaman pangan. Pembelajaran yang diperoleh menunjukkan bahwa penyediaan air menjadi titik ungkit untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas tanaman. Inovasi teknologi yang dibutuhkan petani adalah, mudah diterapkan, biaya murah, dan efisien tenaga kerja mendorong berlanjutnya teknologi tersebut meskipun progam tersebut telah selesai. Pada tahun 2014-2018 telah dilaksanakan kegiatan pertanian konservasi melalui dana hibah barang dan jasa yang dikelola FAO. Prinsip dasar pertanian konservasi terdiri atas 3 pilar, yaitu olah tanah terbatas berupa lubang olah permanen, penutupan permukaan tanah, rotasi/tumpangsari. Lubang tanam tersebut diberi pupuk kandang atau kompos, dan ditanami jagung pada 4 penjuru lubang, dan ditumpangsarikan dengan berbagai kacang-kacangan atau tanaman merambat seperti labu kuning yang berfungsi sebagai penutup tanah dan penghasilan tambahan dari kacang-kacangan berumur pendek. Berdasarkan hasil analisis tanah sebelum dan sesudah implementasi pertanian konservasi menunjukkan bahwa pertanian konservasi dapat meningkatkan kesuburan tanah, retensi air dan meningkatkan produksi tanaman jagung. Abstract. The Nusa Tenggara region has upland area with dry climate of 4.9 million ha, less than 2,000 mm annual rainfall, 5-10 dry months, shallow and rocky soils. Some of the land has been used for agricultural development, especially corn, resulting in low corn productivity of around 2.5 tons / ha in NTT and 5.3 tons / ha in NTB as compared to it genetic potential 9 tons /ha. Since 2010-2015, Indonesian Agency of Agricultural Research and Development has developed innovation of soil management technology for upland with dry climates and and rocky soils in several districts in NTT and NTB. The innovation includes the provision of water resources (dam trenches, reservoirs, mini catchments, and shallow wells), introduction of new high yielding varieties and cultivation crops. The lessons learned show that water supply is the initial point to increase cropping index and crop productivity. Technological innovations needed by farmers are easy to implement, low cost, and labor efficient thereby encourage the continuation of the technology even though the program has been completed. In 2014-2018, conservation agriculture activities were carried out through grants of goods and services managed by Food Agriculture Organization (FAO). The basic principle of conservation agriculture consists of 3 pillars, namely limited tillage in the form of permanent planting holes, cover crops, rotation / intercropping. The planting hole is given manure or compost, and planted with corn in 4 corners, and intercropped with various nuts or vines such as pumpkin that serves as a soil cover and additional income from short-lived beans. Based on the results of soil analysis before and after the implementation of conservation agriculture, it shows that conservation agriculture can increase soil fertility, water retention and increase corn crop production.
Dukungan Data Sumberdaya Lahan dalam Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (Food Estate) di Provinsi Kalimantan Tengah Husnain Husnain; Anny Mulyani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.23-35

Abstract

Abtsrak. Pengembangan kawasan sentra pangan (food estate) di Provinsi Kaimantan Tengah memerlukan dukungan analisis geospasial kesesuaian biofisik lahan dari enam Kementerian/Lembaga terkait yang dikoordinir oleh Kemenko Perekonomian, sehingga diperoleh area of interest (AOI) kawasan pengembangan. Kementerian Pertanian (cq BBSDLP) telah memberikan data sumberdaya lahan berupa peta tanah, peta sebaran lahan gambut, peta sebaran perkebunan kelapa sawit, peta kesesuaian lahan, dan peta ketersediaan lahan Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil analisis geospasial menunjukkan bahwa AOI kawasan pengembangan food estate seluas 770.600 ha. BBSDLP melakukan analisis geospasial lanjutan antara peta AOI dengan peta lahan rawa dan peta lahan gambut, hasilnya menunjukkan bahwa dari 770.600 ha tersebut terdiri dari rawa lebak 473.501 ha dan rawa pasang surut 269.451 ha atau terdiri dari 419.682 ha tanah mineral dan 350.918 ha tanah gambut. Berdasarkan rencana induk dan Grand Design pengembangan kawasan food estate akan terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi. Pada tahun 2020 telah dilakukan intensifikasi pada lahan sawah eksisting yaitu 10.000 ha di Kabupaten Pulang Pisau dan 20.000 ha di Kabupaten Kapuas, berupa percepatan pengolahan lahan dan tanam dengan alat mesin pertanian, bantuan benih, dan pupuk. Dukungan data spasial sumberdaya lahan dalam pengembangan food estate meliputi peta calon petani calon lokasi (CPCL), sebaran kedalaman pirit, dan rekomendasi pengelolaan lahan. Pemanfaatan data spasial tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penenetuan rekomendasi pemupukan dan pengelolaan lahan sehingga lahan sawah tersebut dapat berproduksi secara optimal sesuai dengan tipologi lahannya Abstract. Food estate development at Central Kalimantan Province needs supporting geospatial analysis of the biophysical land suitability from six related Ministries/Agencies which is organized by the Coordinating Ministry for Economic Affairs, in order to obtain the area of interest (AOI). The Ministry of Agriculture (cq BBSDLP) has provided land resource data for Central Kalimantan Province, i.e. soil maps, peat maps, oil palm plantation distribution maps, land suitability maps, and land availability maps. The analysis showed that the AOI for the food estate development area covers an area of 770,600 ha. BBSDLP conducted further geospatial analysis between the AOI map and the swamp land map and the peatland map. The result showed that this AOI is divided into 473,501 ha of swamp and 269,451 ha of tidal swamp, or consisting of 419,682 ha of mineral soil and 350,918 ha of peat soil. Based on the master plan and Grand Design, the development of the food estate area will be conducted by both intensification and extensification. In 2020, there has been intensification of the existing rice fields about 10,000 ha in Pulang Pisau Regency and 20,000 ha in Kapuas Regency, in the form of land processing and planting acceleration using agricultural machinery, and the assistance of seeds, and fertilizers. Supporting spatial data is consisted of maps of the farmers’ location, the distribution of pyrite depth, and the recommendations for land management. The spatial data is expected could be used as a reference in determining the appropriate fertilization recommendations and land management in accordance with the land typology. Therefore, the rice fields could produce optimally,
ANALISIS KAPASITAS PRODUKSI LAHAN SAWAH UNTUK KETAHANAN PANGAN NASIONAL MENJELANG TAHUN 2045 Anny Mulyani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.33-50

Abstract

Lahan sawah di Indonesia seluas 7,463 juta ha menjadi andalan utama dalam memproduksi bahan pangan terutama beras. Di sisi lain, tekanan terhadap lahan sawah semakin besar untuk berbagai kebutuhan di luar sektor pertanian, terutama konversi lahan sawah produktif yang sulit dikendalikan yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lahan sawah berdasarkan tipologinya, memprediksi kapasitas produksi dan kebutuhan pangan (beras) menjelang tahun 2045.  Kegiatan diawali dengan melakukan analisis spasial peta lahan sawah pada beberapa periode, peta penggunaan lahan dan peta lahan rawa, sehingga diperoleh peta sebaran jenis lahan sawah yaitu sawah irigasi, tadah hujan, pasang surut dan lebak pada tingkat kabupaten. Tahapan berikutnya mengumpulkan data luas panen dan produktivitas selama 5 tahun, dan luas baku sawah, sehingga diperoleh data kapasitas produksi masing-masing jenis sawah.  Kebutuhan pangan menggunakan data proyeksi penduduk, konsumsi per kapita dan stok pangan. Hasil identifikasi jenis sawah menunjukkan bahwa sawah irigasi sekitar 55,1% dari total sawah, sedangkan sawah tadah hujan sekitar 3,3 juta ha termasuk 0,7 juta ha pasang surut dan 0,4 juta ha lebak.   Kapasitas produksi sawah irigasi dan tadah hujan terbesar berada di Pulau  Jawa  karena luas baku sawah irigasi terluas, produktivitas dan indeks pertanaman tertinggi. Namun jika konversi lahan dan konsumsi per kapita tidak bisa ditekan maka kebutuhan pangan nasional tidak dapat terpenuhi menjelang tahun 2045 meskipun telah ada upaya peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman untuk seluruh jenis sawah sesuai potensinya. Konversi lahan akan menjadi ancaman terbesar dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan, sehingga perlu dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, pemahaman dan pemantauan swasta dan masyarakat untuk menekan laju konversi dan menentukan skala prioritas dalam pemanfaatan lahan sawah eksisting.