Husnain Husnain
Indonesian Center for Agricultural Research and Development, Agency for Agricultural Research and Development, Ministry of Agriculture

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dukungan Data Sumberdaya Lahan dalam Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (Food Estate) di Provinsi Kalimantan Tengah Husnain Husnain; Anny Mulyani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.23-35

Abstract

Abtsrak. Pengembangan kawasan sentra pangan (food estate) di Provinsi Kaimantan Tengah memerlukan dukungan analisis geospasial kesesuaian biofisik lahan dari enam Kementerian/Lembaga terkait yang dikoordinir oleh Kemenko Perekonomian, sehingga diperoleh area of interest (AOI) kawasan pengembangan. Kementerian Pertanian (cq BBSDLP) telah memberikan data sumberdaya lahan berupa peta tanah, peta sebaran lahan gambut, peta sebaran perkebunan kelapa sawit, peta kesesuaian lahan, dan peta ketersediaan lahan Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil analisis geospasial menunjukkan bahwa AOI kawasan pengembangan food estate seluas 770.600 ha. BBSDLP melakukan analisis geospasial lanjutan antara peta AOI dengan peta lahan rawa dan peta lahan gambut, hasilnya menunjukkan bahwa dari 770.600 ha tersebut terdiri dari rawa lebak 473.501 ha dan rawa pasang surut 269.451 ha atau terdiri dari 419.682 ha tanah mineral dan 350.918 ha tanah gambut. Berdasarkan rencana induk dan Grand Design pengembangan kawasan food estate akan terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi. Pada tahun 2020 telah dilakukan intensifikasi pada lahan sawah eksisting yaitu 10.000 ha di Kabupaten Pulang Pisau dan 20.000 ha di Kabupaten Kapuas, berupa percepatan pengolahan lahan dan tanam dengan alat mesin pertanian, bantuan benih, dan pupuk. Dukungan data spasial sumberdaya lahan dalam pengembangan food estate meliputi peta calon petani calon lokasi (CPCL), sebaran kedalaman pirit, dan rekomendasi pengelolaan lahan. Pemanfaatan data spasial tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penenetuan rekomendasi pemupukan dan pengelolaan lahan sehingga lahan sawah tersebut dapat berproduksi secara optimal sesuai dengan tipologi lahannya Abstract. Food estate development at Central Kalimantan Province needs supporting geospatial analysis of the biophysical land suitability from six related Ministries/Agencies which is organized by the Coordinating Ministry for Economic Affairs, in order to obtain the area of interest (AOI). The Ministry of Agriculture (cq BBSDLP) has provided land resource data for Central Kalimantan Province, i.e. soil maps, peat maps, oil palm plantation distribution maps, land suitability maps, and land availability maps. The analysis showed that the AOI for the food estate development area covers an area of 770,600 ha. BBSDLP conducted further geospatial analysis between the AOI map and the swamp land map and the peatland map. The result showed that this AOI is divided into 473,501 ha of swamp and 269,451 ha of tidal swamp, or consisting of 419,682 ha of mineral soil and 350,918 ha of peat soil. Based on the master plan and Grand Design, the development of the food estate area will be conducted by both intensification and extensification. In 2020, there has been intensification of the existing rice fields about 10,000 ha in Pulang Pisau Regency and 20,000 ha in Kapuas Regency, in the form of land processing and planting acceleration using agricultural machinery, and the assistance of seeds, and fertilizers. Supporting spatial data is consisted of maps of the farmers’ location, the distribution of pyrite depth, and the recommendations for land management. The spatial data is expected could be used as a reference in determining the appropriate fertilization recommendations and land management in accordance with the land typology. Therefore, the rice fields could produce optimally,
Pemanfaatan Data Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Komoditas Strategis di Indonesia Anny Mulyani; Erna Suryani; Husnain Husnain
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n2.2020.79-89

Abstract

Abstrak. Data sumberdaya lahan untuk 511 kabupaten/kota sudah tersedia mencakup peta tanah, peta kesesuaian lahan, dan peta arahan komoditas pertanian, dilengkapi dengan buku paket rekomendasi pengelolaan lahan. Komoditas yang sudah dievaluasi kesesuaian lahannya mencakup padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabe merah, tebu, pakan ternak, kakao, dan kelapa sawit. Data sumberdaya lahan tersebut  menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas strategis di Indonesia, terbukti dengan banyaknya permintaan data baik dari Direktorat Jenderal Teknis lingkup Kementerian Pertanian, Kementerian/Lembaga terkait, pengusaha swasta, dan para investor dalam dan luar negeri, serta perguruan tinggi. Peta tematik yang banyak diminati adalah peta kesesuaian lahan dan peta sebaran lahan potensial untuk pengembangan berbagai komoditas strategis, baik untuk intensifikasi di lahan eksisting ataupun lahan ekstensifikasi, terutama di lahan semak belukar yang belum dimanfaatkan. Permasalahan utama adalah belum tersedianya peta penggunaan lahan terkini, sehingga kemungkinan penggunaan lahannya sudah berbeda dan yang diduga potensial untuk perluasan komoditas pertanian ternyata sudah dimanfaatkan. Oleh karena itu, perlu upaya penyediaan peta status penguasaan dan penggunaan lahan terbaru, agar para pengguna data yakin bahwa lahan potensial tersebut benar tersedia di lapangan. Abstract. Land resources data for 511 regency/cities is available consisting of soil maps, land suitability maps, and recommended agricultural commodities maps, completed with a land management recommendation package book. Commodities that have been evaluated for land suitability including rice, corn, soybeans, shallots, red chillies, sugar cane, animal feed, cocoa, and palm oil. Land resources data is important in the development of strategic commodities in Indonesia. There has been numerous data requests from the Technical Directorate General of the Ministry of Agriculture, relevant Ministries/Institutions, private entrepreneurs and domestic and foreign investors, and universities.  The most on demand thematic maps are land suitability maps and maps of potential land distribution for developing various strategic commodities both for agricultural intensification and land expansion (extensification). Unfortunately, the up to date landuse map is barely available and the precise area that is potentaly available for agricultural land expansion is hardly defined. Therefore, providing the most recent land status and landuse maps is very important to convince map users that the precise potential area for agricultural land expansion could be axactly defined.
Dukungan Data Sumberdaya Lahan dalam Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (Food Estate) di Provinsi Kalimantan Tengah Husnain Husnain; Anny Mulyani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.23-35

Abstract

Abtsrak. Pengembangan kawasan sentra pangan (food estate) di Provinsi Kaimantan Tengah memerlukan dukungan analisis geospasial kesesuaian biofisik lahan dari enam Kementerian/Lembaga terkait yang dikoordinir oleh Kemenko Perekonomian, sehingga diperoleh area of interest (AOI) kawasan pengembangan. Kementerian Pertanian (cq BBSDLP) telah memberikan data sumberdaya lahan berupa peta tanah, peta sebaran lahan gambut, peta sebaran perkebunan kelapa sawit, peta kesesuaian lahan, dan peta ketersediaan lahan Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil analisis geospasial menunjukkan bahwa AOI kawasan pengembangan food estate seluas 770.600 ha. BBSDLP melakukan analisis geospasial lanjutan antara peta AOI dengan peta lahan rawa dan peta lahan gambut, hasilnya menunjukkan bahwa dari 770.600 ha tersebut terdiri dari rawa lebak 473.501 ha dan rawa pasang surut 269.451 ha atau terdiri dari 419.682 ha tanah mineral dan 350.918 ha tanah gambut. Berdasarkan rencana induk dan Grand Design pengembangan kawasan food estate akan terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi. Pada tahun 2020 telah dilakukan intensifikasi pada lahan sawah eksisting yaitu 10.000 ha di Kabupaten Pulang Pisau dan 20.000 ha di Kabupaten Kapuas, berupa percepatan pengolahan lahan dan tanam dengan alat mesin pertanian, bantuan benih, dan pupuk. Dukungan data spasial sumberdaya lahan dalam pengembangan food estate meliputi peta calon petani calon lokasi (CPCL), sebaran kedalaman pirit, dan rekomendasi pengelolaan lahan. Pemanfaatan data spasial tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penenetuan rekomendasi pemupukan dan pengelolaan lahan sehingga lahan sawah tersebut dapat berproduksi secara optimal sesuai dengan tipologi lahannya Abstract. Food estate development at Central Kalimantan Province needs supporting geospatial analysis of the biophysical land suitability from six related Ministries/Agencies which is organized by the Coordinating Ministry for Economic Affairs, in order to obtain the area of interest (AOI). The Ministry of Agriculture (cq BBSDLP) has provided land resource data for Central Kalimantan Province, i.e. soil maps, peat maps, oil palm plantation distribution maps, land suitability maps, and land availability maps. The analysis showed that the AOI for the food estate development area covers an area of 770,600 ha. BBSDLP conducted further geospatial analysis between the AOI map and the swamp land map and the peatland map. The result showed that this AOI is divided into 473,501 ha of swamp and 269,451 ha of tidal swamp, or consisting of 419,682 ha of mineral soil and 350,918 ha of peat soil. Based on the master plan and Grand Design, the development of the food estate area will be conducted by both intensification and extensification. In 2020, there has been intensification of the existing rice fields about 10,000 ha in Pulang Pisau Regency and 20,000 ha in Kapuas Regency, in the form of land processing and planting acceleration using agricultural machinery, and the assistance of seeds, and fertilizers. Supporting spatial data is consisted of maps of the farmers’ location, the distribution of pyrite depth, and the recommendations for land management. The spatial data is expected could be used as a reference in determining the appropriate fertilization recommendations and land management in accordance with the land typology. Therefore, the rice fields could produce optimally,