Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peluang Pemenuhan Kebutuhan Produk Mentha Spp. di Indonesia EKWASITA RINI PRIBADI
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.583 KB) | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAK Mentha  spp.  termasuk  family  Labiatae.  Berdasarkan kandungan bahan aktif, aroma dan penggunaannya terdapat  beberapa  spesies  yang  bernilai  ekonomi tinggi. Tiga spesies diantaranya adalah Mentha arvensis penghasil mentol dan minyak mentha kasar/mentha Jepang,  Mentha piperita penghasil minyak peppermint atau true mint, dan Mentha spicata penghasil minyak spearmint,  dengan pangsa pasar dunia masing-masing 75 %, 18 % dan 7 %. Kebutuhan industri dari produk yang dihasilkan oleh Mentha spp. sangat besar, akan tetapi sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk memenuhi  kebutuhan  tersebut.  Laju  impor  produk turunan   dari   Mentha   spp.   setiap   tahun   semakin meningkat, pada tahun 2006 nilai impor mencapai US $ 3,78 juta setara dengan Rp. 34,-milyar. M. arvensis dengan produk utama mentol paling besar permintaannya  untuk industri  dan  salah  satu jenis mentha  dengan  kesuaian lingkungan  tumbuh yang memungkinkan untuk di kembangkan di Indonesia. Rata-rata  volume  impor  mencapai 76,10  ton/tahun setara dengan 63 % total kebutuhan industri dalam negeri. Peluang pemenuhan kebutuhan dalam negeri dapat dilakukan dengan menurunkan biaya produksi sehingga   harga   produk   mentha   dalam   negeri kompetitif  dibandingkan  dengan  harga  impor  dan produk   sintetis   yaitu   dengan   mengoptimalkan produksi  terna,  minyak  dan  menthol  dari  koleksi M.arvensis  dengan  teknik  pemulian  inkonvensional melalui hibridisasi intra  dan interspesifik,   induksi mutagenesis   dan   peningkatan   variasi   somaklonal melalui  kultur  jaringan    varietas  Ryokubi  dengan potensi  hasil  terna  tinggi,  dengan  Tempaku  yang mempunyai kadar mentol tinggi serta Mear 0012 yang mempunyai kadar minyak tinggi disertai penggunaan pupuk tablet atau granul yang diberi pelapis pestisida nabati.             Teknologi    budidaya    ini    diharapkan meningkatkan produk mentol 43 %, dari semula 59,27 kg/ha menjadi 84,72 kg/ha. Dengan tingkat produk-tivitas  tersebut  dan  disertai  pengembangan  areal tanam seluas 898 ha, kebutuhan mentol untuk industri di  Indonesia  sebesar 76,10  ton/tahun  yang  semula diimpor   dapat   dipenuhi   sepenuhnya   dari   dalam negeri.Kata  kunci  :  Mentha  spp.,  peluang,  swasembada,Indonesia ABSTRACTOpportunity to Fulfil Mint Products in IndonesiaMentha spp. belongs to Labiatae family, Based on its active ingredients,  aroma  and  utilization,  there  are several high economical values of mint species. Three species  of  mint  such  as  Mentha  arvensis,  produces menthol oil and raw mint oil/Japanese mint, Mentha piperita produces peppermint oil or  true mint, and Mentha   spicata   produces   spearmint   oil,   which respectively share 75, 18, and 7% of the total world mint market. Since Indonesia is not able to fulfill the local need of mint oil, the country imports the oil accordingly, this in 2006 reached U.S. $ 3.78 millions equivalent to 34 billion rupiahs. M. Arvensis producing high  menthol  has  the  greatest  demand  for  local industry and as one of most suitable varieties cultivates in  Indonesia.  The  average  imported  mint  volume reaches 76.10 tons/year, equivalent to 63 % of the total need of domestic industries. Opportunities to fulfill this local need of mint may be achieved by reducing production costs, so that price of the domestic mint oil is competitive compared to imported mint or synthetic products. The strategy may be achieved by optimizing herb, oil and menthol productions via current breeding technique   i.e.   through   intra   and   inter-specific hybridization, mutagenesis induction and somaclonal variation through tissue culture of Ryokubi variety with high herb yield mint, with Tempaku, which has high menthol level and Mear 0012 containing high oil content,  complemented  with  cultivation  techniques using   tablet   or   granular   fertilizers   coated   with botanical pesticides. Those cultivation technologies are expected to increase 43 % of menthol production i.e. from 59.27 kg/ha to 84.72 kg/ha. This production level combined  with  expansion  of 898  hectares  of  mint plantation areas is expected able to fulfill the need of domestic industries amounted to 76.10 tones/year.Keywords  : Mentha spp., chance, fulfilments, Indonesia
Kajian Efisien Produksi Jahe Pada Dua Tipe Usahatani di Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Ekwasita Rini Pribadi; Puti Rosmeilisa
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 3, No 1 (1988): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v3n1.1988.39-42

Abstract

Analisis Usahatani dan Faktor Produksi Pada Pertanaman Lengkuas Di Kabupaten Bogor dan Bekasi Ekwasita Rini Pribadi; Sjafril Kemala
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 2 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v7n2.1992.46-51

Abstract

HARGA POKOK BENIH NILAM VARIETAS SIDIKALANG HASIL KULTUR JARINGAN Ekwasita Rini Pribadi; Endang Hadipoentyanti; Amalia Amalia; Nursalam Sirait
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n1.2011.%p

Abstract

Kendala dalam penyediaan benih adalah ketersediaan yang tepat waktu, tepat jum-lah, seragam dan sehat. Teknik kultur ja-ringan dapat memecahkan kendala terse-but tetapi biayanya cukup tinggi sehingga harga benih menjadi mahal 3-4 kali harga benih konvensional. Untuk mengatasi hal tersebut pada tanaman nilam, dilakukan perbanyakan benih secara kultur jaringan dengan mensubstitusi bahan kimia yang harganya mahal dengan bahan-bahan al-ternatif yang mudah diperoleh seperti air kelapa dan sumber bahan organik lainnya. Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan, laboratorium Pengujian Balittro, Balai Besar Pasca Panen, dan ru-mah kaca Balittro sejak Mei 2009 sampai Oktober 2010. Penentuan harga pokok dan skala ekonomi dilakukan secara bertahap : (1) harga pokok zat pengatur tumbuh (zpt) alternatif, terdiri dari air kelapa, ekstrak to-mat, dan ekstrak tauge, (2) harga pokok tunas hasil induksi dari eksplan varietas Sidikalang dengan media Murashige dan Skoog (MS) ditambah zpt alternatif dan sumber vitamin substitusi dari air kelapa, tomat, tauge, dan wood vinegar masing-masing dengan konsentrasi 0 (kontrol), 5, 10, 15, 20, dan 25%, (3) harga pokok multiplikasi tunas nilam dengan media ter-baik pada tahap induksi, (4) harga pokok tunas hasil multiplikasi media MS + air ke-lapa konsentrasi 10% dibandingkan de-ngan media dasar alternatif pupuk maje-muk dengan formulasi NPK 20-20-20 yaitu: (a) pupuk majemuk 0,5 1 g/l + air kelapa 10%, (b) pupuk majemuk 1 g/l + air kela-pa 10%, (c) pupuk majemuk 1,5 g/l + air kelapa 10%, (d) pupuk majemuk 2 g/l + air kelapa 10%, (e) MS + BA 0,5 mg/l, (f) MS + air kelapa 10%, (5) harga pokok ni-lam hasil aklimatisasi di rumah kaca de-ngan perlakuan beberapa jenis media : (a) tanah latosol (kontrol), (b) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman (1:1), (c) tanah latosol + arang/sekam padi (1:1), (d) tanah latosol + cocopeat (1:1), (e) ta-nah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi (1:1:1), (f) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman + coco-peat (1:1:1), (g) tanah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi + cocopeat (1:1:1:1), (6) harga pokok dan skala usaha nilam di dalam polybag ukur-an 10 x 15 cm dengan media tanam ta-nah + pupuk kandang (2:1). Penentuan harga pokok benih nilam dan skala usaha-nya, dilakukan dengan menganalisis input dan out-put kegiatan produksi benih ni-lam hasil kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan harga pokok benih nilam skala laboratorium adalah Rp339 per tu-nas dengan media perbanyakan MS di-tambah zpt alternatif air kelapa konsen-trasi 10%, atau Rp796/polybag dengan titik impas/break event point pada jumlah produksi 51.415 polybag benih per 3,5 bulan setelah aklimatisasi, setara dengan pendapatan sebesar Rp40.926.258. 
Kelayakan Pengusahaan Pengacipan Gelondong Mente di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto Ekwasita Rini Pribadi; J. T. Yuhono
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 3, No 2 (1988): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v3n2.1988.76-79

Abstract