Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

HUBUNGAN NILAI CT PADA PEMERIKSAAN REAL-TIME RT-PCR SARS-COV-2 DENGAN GEJALA KLINIS Olivia Siappa Tonglolangi; Moriko Pratiningrum; Yadi Yadi
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 8, No 3 (2021): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.ked.mulawarman.v8i3.6559

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pertama kali muncul di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 dan menyebar ke hampir seluruh dunia. Indonesia termasuk negara dengan kasus terkonfirmasi COVID-19 terbanyak di Asia. Real-time RT-PCR merupakan pemeriksaan yang direkomendasikan oleh WHO untuk mendeteksi virus penyebab COVID-19. Real-time RT-PCR memberikan gambaran nilai Ct atau Cycle Treshold yang diduga berhubungan dengan manifestasi klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai Ct pada pemeriksaan Real-time RT-PCR SARS-CoV-2 dengan gejala klinis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah semua pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 melalui pemeriksaan Real-Time RT-PCR SARS-CoV-2. Penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik di Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dan RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda pada bulan Maret-Mei 2021. Responden berjumlah 442 pasien yang berusia 8-87 tahun. Jumlah responden pria 60.9% dan wanita 39.1%. Dari hasil uji beda Mann Whitney didapatkan terdapat perbedaan nilai Ct pada pemeriksaan Real-Time RT-PCR dengan gejala asimtomatik, ringan, sedang dan berat-kritis dengan p value 0.000. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai Ct pada pemeriksaan Real-Time RT-PCR SARS-CoV-2 dengan gejala klinis
A DESCRIPTION OF PERINATAL AS A RISK FACTOR OF CHILDREN’S SENSORINEURAL HEARING DISORDER IN OTOLARYNGOLOGY (ENT) POLYCLINIC OF ABDUL WAHAB HOSPITAL SJAHRANIE IN SAMARINDA Inna Inna Adilah; Moriko Pratiningrum
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30650/jik.v8i1.1263

Abstract

Sensorineural Hearing Disorder in children could give a significant impact on everyday life and would cause loneliness, isolation, and frustration on children. Perinatal risk factors are important to note because they could be detected from newborn and could be an indication for the baby to do the screening. The purpose of hearing screening in newborns is to find hearing loss as early as possible so that habilitation can be done immediately. The purpose of this study was to describe perinatal period as risk factors for Sensorineural Hearing Disorder in children. The subjects of this study were children who has done BERA examinations at the Otolaryngology (ENT) Polyclinic of Abdul Wahab Sjahranie Hospital in Samarinda from January 2017 – June 2019. The design of this study was observational descriptive with cross-sectional method. There were 65 children as sample which consisted of 39 (60%) boys and 26 (40%) girls. BERA examination age that was found in this study has not reached the optimal standard if it is referring to the JCIH standard with the most age group is 3 years old. 37 (56.9%) children suffered from Sensorineural Hearing Disorder. 27 (41.5%) children had perinatal risk factors. The most common risk factors was jaundice which the researchers found on 11 (16.9%) children. 20 (30.8%) children who have perinatal risk factors and Sensorineural Hearing Disorder with the most common risk factor is LBW are as many as 10 (15.4%).
Analysis of Age, Gender and H Analysis of Age, Gender and Hearing Loss in Early Stage Drug-Resistant TB Patients at Abdul Wahab Sjahranie Hospital Samarinda Rio Mandala Putra Ruslan; Moriko Pratiningrum; Eva Rachmi
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 9 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30650/jik.v9i1.1371

Abstract

ABSTRACT Hearing loss is one of the side effects of using kanamycin. Hearing loss will reduce the ability to receive information and verbal communication which will interfere with daily activities. This study aims to determine the relationship between age, sex on hearing loss and hearing loss in patients with drug-resistant TB during kanamycin treatment. The design of this study was cross sectional using purposive sampling. The number of samples that met the inclusion and exclusion criteria was 12 patients. The results show that hearing loss is not related to age (p = 0.293), sex (p = 1,000), and hearing loss (p = 0.182). Based on the results of this study it can be concluded that there is no relationship between age, sex on hearing loss and hearing loss during kanamycin administration. Keywords: Hearing Loss, Age, Sex
Usia dan jenis Kelamin Dengan Waktu Kekambuhan Pasien Limfoma Non-Hodgkin Pasca Kemoterapi di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Ahmad Fikri Akbar; Nurul Hasanah; Moriko Pratiningrum; Endang Sawitri
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan
Publisher : ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.165 KB) | DOI: 10.35728/jmkik.v6i2.698

Abstract

Limfoma Non-Hodgkin (LNH) merupakan kelompok limfoma maligna heterogen yang tidak mempunyai gambaran sel raksasa Reed-Sternberg yang merupakan ciri penyakit Hodgkin. Tumor ini berasal dari sel limfosit B, T, serta sel NK, yang menampilkan gejala klinis seperti penyakit Hodgkin, Pada beberapa kasus pasca pengobatan, LNH bisa mengalami kekambuhan di mana gejala LNH yang seharusnya menghilang pasca pengobatan kembali bermanifestasi klinis Setelah menjalani kemoterapi, sepertiga dari kasus LNH akan muncul kembali sebagai kasus kekambuhan yang akan mempengaruhi dari mortalitas dan kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kekambuhan pasien Limfoma Non-Hodgkin pasca kemoterapi di RSUD Abdul Wahab Sjahranie periode 2017 – 2020. Desain penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional pada data rekam medik di Bagian Rekam Medik di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda tahun 2017 – 2020. Hasil penelitian menunjukkan pasien LNH yang mengalami kekambuhan berusia < 55 berjumlah 24 pasien (60%); berjenis kelamin laki – laki sebanyak 21 pasien (52.5%) dan perempuan 19 pasien (47.5%); jangka waktu kambuh selama <1 tahun 30 pasien (75%) dan >1 tahun 10 pasien (25%). Hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dan jenis kelamin terhadap waktu kekambuhan pasca kemoterapi.
Uji Aktivitas Trakeospasmolitik Ekstrak Etanol Centella asiatica (L.) Urb. pada Organ Terpisah Trakea Marmut untuk Melihat Efek Antiasma Emil Bachtiar Moerad; Swandari Paramita; Abdillah Iskandar; Sjarif Ismail; Moriko Pratiningrum; Hadi Irawiraman
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 4 No. 2 (2017): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v4i2.139

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran nafas yang ditandai dengan terjadinya hiperesponsif saluran nafas dan penyempitan saluran nafas secara reversibel. Asma hingga kini masih merupakan masalah kesehatan utama di dunia. Pemberian obat-obatan anti asma merupakan penatalaksanaan penyakit tersebut. Namun demikian terdapat masalah efek samping obat dan masalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian obat tersebut, apalagi asma merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Dengan demikian maka perlu pengembangan obat antiasma berbasis tumbuhan obat dengan biaya yang lebih terjangkau dan efek samping yang lebih sedikit. Penelitian ini dilakukan untuk menguji potensi ekstrak etanol Centella asiatica (L.) Urb. yang secara tradisional digunakan etnis Dayak sebagai obat batuk. Penelitian ini dilakukan untuk melihat aktivitas trakeospasmolitik ekstrak etanol C. asiatica pada organ terpisah trakea marmut untuk melihat efek antiasma. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak C. asiatica memiliki aktivitas trakeospasmolitik yang signifikan jika dibandingkan dengan kontrol negatif. Meskipun nilai E maks C. asiatica lebih rendah daripada aminofilin, namun nilai EC50 tidak jauh berbeda dengan aminofilin sebagai kontrol positif. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol C. asiatica memiliki efek antiasma berdasarkan aktivitas trakeospasmolitiknya. Kata kunci: Centella asiatica, spasmolitik, organ terpisah trakea
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Asfiksia Neonatorum: Suatu Kajian Literatur: Factors Affecting Asphyxia Neonatorum: A Literature Review Primarosa Portiarabella; Ahmad Wisnu Wardhana; Moriko Pratiningrum
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i3.413

Abstract

Asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai kegagalan memulai dan mempertahankan pernafasan pada neonatus. Penyebab kematian neonatus terbanyak kedua di Indonesia adalah asfiksia neonatorum. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian asfiksia neonatorum dan pembagiannya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kepustakaan atau kajian literatur. Pencarian literatur telah dilakukan pada minggu kedua dan ketiga bulan Desember tahun 2020. Literatur yang digunakan adalah jurnal dan buku sebanyak minimal 15 judul yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi asfiksia dapat dibagi menjadi faktor resiko antepartum dan faktor resiko intrapartum. Faktor resiko antepartum antara lain preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat, dan perdarahan. Faktor resiko intrapartum antara lain prematuritas, sindrom aspirasi mekonium, dan presentasi bokong.