ABSTRAK Kelompok tani atau poktan menjadi salah satu wadah penting untuk petani dalam proses pemberdayaan petani. Poktan memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah sebagai waah petani untuk lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya agar dapat mengelola wilayah pertaniannya menjadi lebih baik. Tidak hanya itu, dengan adanya poktan para petani juga dapat lebih leluasa untuk saling bertukat informasi, berdiskusi dan mencari olusi atas kendala atau masalah yang sedang dihadapi. Namun dalam proses pemberdayaan petani, tidak hanya dibuthkan peran aktif dari actor internal saja yakni Poktan beserta anggotanya tersebut. Namun proses pemberdayaan ini akan lebih maksimal bila didukung oleh pemerintan setempat yang berperan sebagai actor eksternal. Kedua actor ini pn perlu bersinergi untuk mencapai tujuan yang sama, yakni kondisi petani yang lebih berdaya. Studi ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian: Bagaimana proses pemberdayaan dilakukan di Poktan Gunung Batu? Guna menjawab permasalahan ini penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan pengurus anggota kelompok tani Gunung Batu, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa proses pemberdayaan yang diberikan oleh pemerintah setempat selaku actor eksternal membawa banyak perubahan untuk menjadikan petani lebih berdaya. Bahkan ketua poktan sampai bisa menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti pelatihan petani kopi di Belanda. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa proses pemberdayaan tidak hanya memerlukan peran aktif dari poktan saja (pengurus beserta anggota-anggotanya). Namun juga perlu peran aktif dan dukungan berupa program dari pemerintah setempat sebagai actor eksternal sebagai pendukung agar tujuan bersama yakni pemberdayaan petani dapat dicapai lebih optimal dengan membawa banyak manfaat bagi pihak petani, desa maupun pemerintah.Kata Kunci: Peran kelompok tani, bentuk pemberdayaan, sinergitas