Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal IMAJI

'Mata' Hasrat dalam Ponirah Terpidana Gunawan, Eric
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinema didekati sebagai bahasa oleh Christian Metz. Pendekatan ini menuai sikap kritis karena mereduksi semua elemen sinematik menjadi makna. Padahal sinema bukan persoalan pemaknaan. Tulisan ini ingin memperlihatkan pendekatan lain terhadap sinema yakni melalui hasrat. Teori yang digunakan adalah teori figural hasil pembacaan Lyotard atas psikoanalisis Freud berjudul Die Verneinung. Teori ini memperlihatkan peran figural sebagai hasrat melalui kehadiran "mata" pada bahasa. Pada saat bersamaan, kehadiran ini meruntuhkan pemaknaan pada sinema sebagai kealamiahan hubungan antara penanda dan petanda.
Sinema 2D versus 3D Gunawan, Eric
IMAJI Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak 2009, film 3D di bioskop sedang naik daun. Sejumlah riset menunjukkan bahwa 2 dari 3 penonton akan memilih menonton film yang sama dalam format 3D dibanding 2D. Tulisan ini menjelaskan bahwa fenomena sinema 3D menggemakan teori differend Jean-François Lyotard yang mendamaikan teks dan imaji sejak keduanya beroposisi di masa Immanuel Kant.
Implementasi Ruang Kosmis Jawa dalam Mise-en-Scene Rembulan dan Matahari Karya Ki Slamet Rahardjo Djarot Gunawan, Eric
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tentu kita semua setuju bahwa film merupakan bagian dari budaya, dan keberadaan film tidak terpisahkan dari budaya. Namun, hanya sebagian yang akan mendukung apabila dikatakan bahwa sejarah menggema pada film. bahkan seluruh beban masa lalu dibenamkan pada teks film. Mereka yang mendukung adalah yang melihat bentuk-bentuk pada dirinya sendiri sudah mengandung sejarah, sedangkan yang tidak setuju adalah mereka yang mempersempit sejarah sebatas konteks dan materi sejarah yang berhubungan dengan style. Pendukung pendapat pertama memahami referential meaning yakni makna yang tersurat pada film, dalam ruang lingkup tidak dapat dipisahkan antara sejarah dan komunitas interpretasinya mengingat style, ideologi. filosofi dan sejarah adalah hubungan yang berbaur. Oleh sebab itu. explicit. implicit dan symptomatic dipahami sebagai lapisan yang saling berkaitan dalam proses pemaknaan. Sedangkan, bagi pendukung paham kedua. makna di luar referential tidak dianggap perlu keberadaannya, jika pun ternyata ada maknanya dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan sebab telah lepas dari apa yang tersurat pada teks. Maka, mereka melihat explicit, implicit, dan symptomatic hanya sebatas salah satu kemungkinan tipe pemaknaan, dan sama sekali tidak berkaitan.