Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dimensi Forgiveness Individu yang Bercerai Hikmah Husniyah Farhanindya; Karolin Rista
Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 No 1 Tahun 2019 (On Proses)
Publisher : KH. A. Wahab Hasbullah University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perceraian di Kota Surabaya, menurut data Peradilan Agama kelas 1A terdapat 4.872 kasus. Pada tahun 2018 meningkat menjadi 5.235, sehingga dalam satu tahun telah terjadi peningkatan perceraian sebanyak 363 kasus. Dampak perceraian yang dialami individu yaitu pengalaman traumatis pada salah satu pasangan. Individu yang telah bercerai cenderung menunjukkan perasaan sedih, kecewa, frustasi, tidak nyaman, tidak tentram, tidak bahagia, takut, khawatir, stress bahkan ada juga yang mengalami depresi. Kondisi tersebut membuat individu menunjukkan emosi negatif seperti marah, dendam, bahkan benci dan menyalahkan mantan pasangan atau bahkan orang lain. Oleh karena itu individu yang bercerai memerlukan suatu tindakan untuk melepaskan emosi negatif yaitu dengan forgiveness. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dimensi-dimensi forgiveness pada individu yang bercerai, serta mengidentifikasi upaya yang dilakukan untuk mengatasi dampak perceraian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan subyek penelitian individu yang telah bercerai lebih dari lima tahun. Teknik pengambilan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subyek telah mencapai dimensi ketiga dari forgiveness yaitu benevolence motivation, artinya ketiga subyek mampu menunjukkan keinginan untuk berbuat baik kepada mantan pasangan. Upaya yang dilakukan oleh ketiga subyek untuk mengatasi dampak perceraian yaitu aspek religiusitas, dengan memperbanyak ibadah maka semakin cepat individu tersebut dapat mencapai forgiveness kepada mantan pasangannya. kata kunci : forgiveness, individu yang bercerai, perceraian
Optimisme dan resiliensi akademik pada siswa sekolah menengah atas Nabila Laila; Suhadianto; Karolin Rista
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dynamic academic challenges in contemporary educational settings require students to be able to adapt, persist, and recover when facing pressure and difficulties in the learning process. Optimism is considered an important internal factor that contributes to strengthening students’ resilience. This study was designed to examine the relationship between optimism and academic resilience among senior high school (SMA) students using a quantitative correlational approach. This study employed a quantitative approach using a correlational method, aiming to examine the relationship between optimism and academic resilience among high school students. The study sample consisted of 195 high school students selected through purposive sampling. The measurement instruments in this study used an optimism scale developed by the researcher based on Seligman’s (2006) theory, with a Cronbach’s Alpha value of 0.922, and an academic resilience scale developed by the researcher based on Cassidy’s (2016) theory, with a Cronbach’s Alpha value of 0.872. The data obtained were then analyzed using the product-moment correlation technique. The results indicated a significant positive relationship between optimism and academic resilience (r = 0.668, p = 0.000, p < 0.05). These findings suggest that higher levels of optimism are associated with higher levels of academic resilience. Therefore, strengthening students’ optimism is essential as an effort to enhance academic resilience in coping with academic demands during the learning process. Tantangan akademik yang dinamis dalam dunia pendidikan mengharuskan siswa untuk mampu beradaptasi, gigih, dan bangkit kembali saat menghadapi tekanan dan kesulitan dalam proses belajar. Optimisme diyakini berperan menjadi salah satu faktor internal dalam meningkatkan ketahanan diri siswa. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, yang bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel optimisme dan variabel resiliensi akademik pada siswa SMA. Subjek penelitian sebanyak 195 siswa SMA yang diambil melalui teknik purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala optimisme yang dibuat sendiri oleh peneliti mengacu pada teori Seligman (2006) dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,922 dan skala resiliensi akademik yang dibuat sendiri oleh peneliti mengacu pada teori Cassidy (2016) dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,872. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimisme dengan resiliensi akademik diperoleh hasil sebesar r = 0,668 dengan taraf signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat optimisme, semakin tinggi pula resiliensi akademik yang dimiliki. Penguatan optimisme pada siswa penting dilakukan sebagai upaya meningkatkan resiliensi akademik dalam menghadapi tuntutan akademik selama proses pembelajaran di sekolah.