Elli Arsita
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kadar 25(OH)D pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik di Indonesia Kereun Yobelium Witan; Elli Arsita; Todung Donald Aposan Silalahi
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2267

Abstract

Vitamin D memiliki peran dalam sistem kekebalan tubuh, terutama sistem imun adaptif dalam toleransi diri dan menghasilkan antibodi pada pasien dengan autoimun. Defisiensi vitamin D merupakan hal yang sering ditemukan pada pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Hal ini dapat dikarenakan pantangan terhadap paparan sinar matahari, insufisiensi ginjal, penggunaan obat–obatan yang menurunkan regulasi reseptor vitamin D, dan penggunaan sunscreen. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin D pada pasien LES di Indonesia. Data didapatkan dari jurnal penelitian yang diambil melalui Google Scholar, Proquest, Pubmed, dan Science Direct. Hasil pencarian didapatkan 4 artikel yang mengambil lokasi penelitian di Malang, 2 artikel di Jakarta, dan 1 artikel di Yogyakarta. Simpulannya adalah bahwa 63,74% pasien LES di Indonesia memiliki defisiensi kadar vitamin D yang disebabkan oleh kurangnya paparan sinar matahari, warna kulit, penggunaan sunblock, memiliki manifestasi klinis nefritis, penggunaan obat–obatan (kortikosteroid dan anti malaria), Indeks Masa Tubuh (IMT) di atas normal, kurangnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin D, dan konsumsi suplemen vitamin D yang tidak adekuat.
Cemas Terpisah dari Telepon Genggam karena Butuh Teman? Nomophobia dan Kesepian pada Dewasa Muda Theresia Citraningtyas; Alexander Setiawan Bang; Elli Arsita
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 29 No 1 (2023): JANUARI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v29i1.2653

Abstract

Nomophobia, yang disingkat dari “no mobile phone phobia”, merupakan rasa cemas ketika seseorang terpisah dari telepon genggamnya. Selama ini, salah satu hal yang dianggap sebagai faktor risiko nomophobia adalah kesepian, yaitu pengalaman emosional yang tidak menyenangkan ketika seseorang mengalami kekurangan kuantitas dan kualitas hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nomophobia dengan kesepian pada kelompok yang berusia dewasa muda (19-22 tahun) terutama dengan diberlakukannya sistem pembelajaran campuran (daring dan luring). Sebanyak 110 (39 laki-laki dan 71 perempuan) mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana angkatan 2018 mengisi kuesioner daring menggunakan Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) dan UCLA (University of California Los Angeles) Loneliness Scale version 3 yang sudah divalidasi ke dalam Bahasa Indonesia. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, hasil survey ini tidak menemukan korelasi  antara tingkat kesepian dengan tingkat nomophobia. Perlu dikaji lebih lanjut kemungkinan bahwa tatap muka pembelajaran secara terbatas mengubah pola penggunaan telepon genggam maupun interaksi sosial dibandingkan dengan kondisi sebelum masa pandemi maupun saat pembelajaran jarak jauh sepenuhnya.