Muhammad Yusri Karim
Department Of Fisheries, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Hasanuddin University, Makassar.

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Potensi tepung cacing tanah Lumbricus sp. sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan terhadap kinerja pertumbuhan, komposisi tubuh, kadar glikogen hati dan otot ikan bandeng Chanos chanos Forsskal Siti Aslamyah; Muh. Yusri Karim
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v13i1.112

Abstract

The purpose of this study was examine the potential of earthworm flour (Lumbricus sp.) as a substitute for fish meal in feed on growth performance, body composition, liver and muscle glycogen levels in milkfish. Completely randomized design (CRD) with four treatment levels of fish meal substitution with flour earthworms in artificial feeding of milk fish, namely 0, 34.62; 65.38; and 100%. Fish with initial weight 0.95 ± 0.11 g reared in aquariums of 50 x 40 x 35 cm3 with a recirculation system, with a density of 15 fish in each experimental unit. Fish were fed at 07:00 am and 16:00 pm with a percentage of 5% of body weight per day. Rearing was carried out for 60 days. The result showed that milkfish fed with different levels of fish meal substitution with earthworm flour have the same effect on feed intake, feed efficiency, protein retention and fat, as well as survival, body proximate composition, and the levels of glycogen in the liver and muscles. The highest levels of fish meal substitution with earthworm flour (100%) can increase the growth relative of milkfish up to the maximum (1216.91 ± 14.22%). In conclusion, earthworm flour can replace the role of fish meal in feed formulation for milkfish culture up to 100%. Abstrak Tujuan penelitian ini mengkaji potensi tepung cacing tanah (Lumbricus sp.) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan terhadap kinerja pertumbuhan, komposisi tubuh, kadar glikogen hati dan otot ikan bandeng. Desain penelitian menggu-nakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan tingkat substitusi tepung ikan dengan tepung cacing tanah dalam pakan buatan ikan bandeng, yaitu: 0; 34,62; 65,38; dan 100%. Ikan uji dengan bobot awal 0,95±0,11 g dipelihara dalam akuarium berukuran 50 x 40 x 35 cm3 dengan sistem resirkulasi, dengan kepadatan 15 ekor pada setiap satuan percobaan. Pemberian pakan setiap pukul 07.00 dan 16.00 WITA dengan persentase 5% bobot badan per hari. Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan bandeng yang diberi pakan dengan berbagai tingkat substitusi tepung ikan dengan tepung cacing tanah memberikan pengaruh yang sama terhadap konsumsi pakan, efisiensi pakan, retensi protein dan lemak, serta sintasan, komposisi proksimat tubuh, serta kadar glikogen di hati dan otot. Tingkat substitusi tepung ikan dengan tepung cacing tanah tertinggi (100%) dapat meningkatkan pertumbuhan bobot relatif ikan bandeng yang tertinggi (1216,91±14,22%). Dengan demikian, tepung cacing tanah dapat menggantikan peranan tepung ikan hingga 100% dalam formulasi pakan untuk budi daya ikan bandeng.
PENGARUH HORMON ECDYSON TERHADAP SINTASAN DAN PERIODE MOULTING PADA LARVA KEPITING BAKAU Scylla olivacea Sutia Budi; M. Yusri Karim; Dody D. Trijuno; M. Natsir Nessa; Herlinah Herlinah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.831 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.335-339

Abstract

Kepiting Bakau Scylla olivacea merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan perbenihan kepiting bakau adalah masih tingginya tingkat mortalitas. Tujuan penelitan untuk mengevaluasi pengaruh hormon ecdyson terhadap sintasan dan periode moulting pada larva kepiting bakau Scylla olivacea. Penelitian dilakukan di Unit Stasiun Pembenihan Kepiting Maranak Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Hewan uji berupa larva kepiting bakau Scylla spp. stadia zoea. Pakan uji dalam penelitian berupa rotifer dan Artemia yang dilakukan pengkayaan dengan hormon ecdyson. Wadah penelitian berupa akuarium 110 L berjumlah 12 buah yang diisi dengan air sebanyak 100 L, air bersalinitas 28-30 ppt dengan kepadatan larva sebanyak 50 ekor/L. Perlakuan yang diuji adalah berbagai dosis hormon ecdyson dalam pakan, yakni A= 0 mg/L; B= 0,5 mg/L; C= 1 mg/L; dan D= 1,5 mg/L; dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diukur adalah sintasan dan periode moulting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis hormon ecdyson memberikan pengaruh yang baik terhadap sintasan dan periode moulting larva kepiting bakau.Mud crab, Scylla olivacea is one of highly valued and sought-after fishery commodities. Despite its high economic value, mud crab culture still faces a problem in producing high-quality seed which is high mortality rate post-spawning. The study aim was to evaluate the effect of the Ecdyson hormone on the survival rate and molting period of the mud crab larvae. The study was conducted at the Maranak Crab Seedling, BRPBAP3 Maros, South Sulawesi Province. The trial used mud crabs larvae that were in zoea stage. The trial feed was given in the form of Rotifer and Artemia enriched with the Ecdyson hormone. Twelve 110-liter aquaria were filled with 100 L of 28-30 ppt of seawater. The stocking density of mud crab seed was 50 larvae/L. The treatments consisted different doses of Ecdyson hormone in the feed, i.e. A= 0 mg/L, B= 0.5 mg/L, C= 1 mg/L, and D= 1.5 mg/L, with three replications for each treatment. The parameters measured were survival rate and molting period. The results showed that the treatment of Ecdyson hormone doses gave a good effect on the survival rate and molting period of mud crab larvae.
PENGARUH SALINITAS TERHADAP METABOLISME KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) Muhammad Yusri Karim
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.8926

Abstract

The aim of this research was to know the effect salinity on metabolism of mud crab (Scylla olivacea). The research was carried out in circular plastic tanks consist of water at amount 16 l in closed system. The expriments were done using complete randomized design with 4 treatments and 3 replication. The salinity treatments were: (A) 5, (B) 15, (C) 25 and (D) 35‰. The Test animal used were female mud crab with average body weight was 20 ± 0,5 g that stocked by three individuals per tank. Analysis variance and Tukey test were used to reveal the effect of treatments. The result showed that salinity was significantly (p < 0,01) affect to basal, feeding, routine metabolism and SDA (Spesific Dynamic Action). The highest value of mud crab basal metabolism rate was 0.17 kJ/g body weight/day produced at salinity 5‰ and the lowest was 0.14 kJ/g body weight/day. The highest value for feeding, routine metabolism rate and SDA of mud crab produced at 25‰ with 0.49; 0.42 dan 0.35 kJ/g body weight/day, respectively, and the lowest were 0.47; 0.37 dan 0.30 kJ/g body weight/day that resulted by salinity of 5‰. For culture purpose of mud cab, it is recommended to use the salinity level of 25‰. 
PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU Scylla olivacea DENGAN RASIO JANTAN-BETINA BERBEDA YANG DIPELIHARA PADA KAWASAN MANGROVE Muhammad Yusri Karim; Hasni Y. Azis; Muslimin Muslimin
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.12593

Abstract

Budidaya kepiting bakau untuk penggemukan potensial untuk dikembangkan pada kawasan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio jantan dan betina yang tepat pada budidaya penggemukan kepiting bakau (Scylla olivacea) yang dipelihara pada kawasan mangrove. Penelitian dilaksanakan di kawasan mangrove Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. olivacea) jantan dan betina berukuran bobot 250 ± 10 g yang ditebar dengan kepadatan 10 ekor/kurungan. Wadah yang digunakan adalah kurungan bambu berukuran panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 1,0 x 1,0 x 1,0 m3 yang ditempatkan di kawasan mangrove. Pakan yang digunakan adalah ikan-ikan rucah dosis 10% dari biomassa kepiting dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yakni pagi dan sore hari sebesar  30% dan 70%. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan. Sebagai perlakuan adalah rasio kepiting jantan dan betina, yaitu: 7:3, 6:4, 5:5, 4:6 dan 3:7 ekor/kurungan. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa rasio jantan dan betina tidak berpengaruh nyata (p>0,05) pada sintasan kepiting, akan tetapi berpengaruh sangat nyata (p<0,01) pada pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian kepiting bakau (S. olivacea). Sintasan yang dihasilkan berkisar 93,33-100%, pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian kepiting tertinggi dihasilkan pada rasio jantan dan betina 7:3 dan 6:4 ekor/kurungan yakni 56,99 g dan 1,35%; 56,25 g dan 1,36%/hari sedangkan terendah pada rasio 3:7 ekor/kurungan yakni 28,97 g dan 0,73%/hari.