Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Prevalence of Musculoskeletal Disorders among Orthopaedic and Traumatology Residents in Indonesia Romy Deviandri; Yoyos Dias Ismiarto
Jurnal Ilmu Kedokteran Vol 15, No 2 (2021): Jurnal Ilmu Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26891/JIK.v15i2.2021.87-90

Abstract

Gangguan muskuloskeletal sangat sering terjadi pada residen orthopedi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan jenis gangguan muskulosketal pada residen orthopedi di rumah sakit Hasak Sadikin, Bandung. Penelitian ini merupakan suatu survei deskriptif-analitik pada semua residen orthopedi di kota Bandung dengan jumlah total subjek 56 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi gangguan muskuloskeletal terbanyak terdapat pada area punggung bawah (50%), diikuti pada leher (46,5%), pergelangan tangan (28,6%), pergelangan kaki (28,6%), bahu (21,4%), lutut (10,7%), paha dan bokong (10,7%), punggung atas (7,1%), dan siku (0%). Kesimpulan penelitian ini, nyeri punggung bawah serta nyeri leher merupakan gangguan muskuloskeletal tersering pada residen orthopedi. Oleh karena itu, diperlukan strategi efektif untuk mencegah terjadinya gangguan ini pada populasi residen orthopedi
Superior Capsular Reconstruction: A Literature Review About Comparison Autograft Using Long Head Biceps Tendon and Fascia Lata in Rotator Cuff Tear Romy Deviandri; Aidil A Nurshal; Hanif Fahmat
Jurnal Ilmu Kedokteran Vol 15, No 1 (2021): Jurnal Ilmu Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26891/JIK.v15i1.2021.8-11

Abstract

Cedera otot supraspinatus masif merupakan salah satu cedera yang sering terjadi pada kelompok olahragawan. Pasien akan mengeluhkan nyeri serta kelemahan di bahu yang cedera. Terdapat banyak pilihan teknik untuk menangani cedera tersebut. Penelitian ini akan membandingkan penanganan cedera ini dengan teknik rekonstruksi menggunakan graft dari tendon long head biceps (LHB) dan tendon fascia lata (TFL). Penelitian ini merupakan studi literatur untuk membandingkan teknik dan outcome antara prosedur LHB dan TFL. Dari hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa LHB lebih mudah untuk dilakukan dengan efek biomekanika yang sebanding dengan TFL, serta lebih baik dalam hal mencegah migrasi humeral head ke superior. Namun, TFL tampak lebih kuat dan penyembuhannya lebih baik karena mempunyai karakteristik dan struktur biomekanis yang lebih mirip dengan tendon supraspinatus. Kesimpulan penelitian ini, kedua teknik mempunyai keuntungan dan kerugian masing-masing. Namun, kedua teknik sama-sama mempunyai kemampuan yang baik serta dapat menjadi pilihan dalam penanganan cedera otot supraspinatus.
Keterlambatan Fasciotomi pada Cedera Listrik sebagai Penyebab Amputasi Antebrachii: Laporan Kasus Moh Habib; Mulyadi Mulyadi; Welli Zulfikar; Romy Deviandri
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52693

Abstract

Cedera listrik merupakan bentuk trauma energi tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan mendalam, sering kali tidak sesuai dengan gambaran permukaan kulit. Salah satu komplikasi paling serius adalah sindrom kompartemen, yang membutuhkan fasciotomy segera dalam kurun waktu emas (golden time). Laporan kasus ini membahas seorang laki-laki 28 tahun yang mengalami electrical burn injury full-thickness dengan eschar pada regio antebrachii–manus sinistra 2% pasca tersengat kabel listrik tegangan tinggi. Pasien datang 24 jam setelah kejadian dengan keluhan nyeri, kebas, dan hilangnya sensasi pada jari tangan kiri. Pemeriksaan menunjukkan tanda cedera jaringan dalam, disertai peningkatan SGOT/SGPT, hematuria, dan peningkatan kreatinin. Rencana awal fasciotomy tidak dapat menyelamatkan ekstremitas karena jaringan sudah non-viable, sehingga dilakukan amputasi pada level antebrachii. Kasus ini menegaskan pentingnya identifikasi dini dan tindakan fasciotomy segera pada cedera listrik untuk mencegah komplikasi ireversibel. Kata Kunci: electrical burn, fasciotomy, compartment syndrome, amputasi, golden time
Community-Based Tele-Mentored Ultrasound for Urological Screening in Rural Primary Care Afdal; Indra Jaya; Muhammad Teguh Hardiansyah; Muhammad Adan Yashar; Gatot Aji Prihartomo; Romy Deviandri; Sinta Chaira Maulanisa
Jurnal Pengabdian UNDIKMA Vol. 7 No. 2 (2026): May
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jpu.v7i2.20028

Abstract

This community service activity aims to assess the feasibility and impact of the community-based HHUS tele-mentoring program for urological screening in rural primary healthcare centers in Indonesia. A prospective quasi-experimental study was conducted from August to October 2025 at Pangkalan Baru Primary Health Center, Riau, Indonesia. Four general practitioners (GPs) underwent a one-day HHUS training session, followed by one month of tele-mentoring using the UroSono Mentor app, a telemedicine platform that supports both real-time video consultation and asynchronous image review, and one additional month of independent practice. Confidence, usability, feasibility, mentor responsiveness, patient satisfaction, and behavioral intention were assessed using structured questionnaires. Data were analyzed using the Friedman test (p < 0.05). Confidence scores improved significantly across all phases (p = 0.018), increasing from 2.06 (pre-training) to 4.37 (tele-mentoring) and 3.81 (independent practice). Training satisfaction was high (3.81 ± 0.19), with positive ratings for mentor responsiveness (4.44 ± 0.24) and usability (4.13 ± 0.14). Patient satisfaction averaged 4.49 ± 0.54. Of the 26 patients examined, 69.2% had normal findings, while 30.8% required referral. Community-based tele-mentored HHUS effectively enhanced GPs’ competence and confidence, achieving strong acceptance among both healthcare providers and patients. The UroSono Mentor model shows promise for scalable integration into rural urological screening programs.