p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keterlambatan Fasciotomi pada Cedera Listrik sebagai Penyebab Amputasi Antebrachii: Laporan Kasus Moh Habib; Mulyadi Mulyadi; Welli Zulfikar; Romy Deviandri
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52693

Abstract

Cedera listrik merupakan bentuk trauma energi tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan mendalam, sering kali tidak sesuai dengan gambaran permukaan kulit. Salah satu komplikasi paling serius adalah sindrom kompartemen, yang membutuhkan fasciotomy segera dalam kurun waktu emas (golden time). Laporan kasus ini membahas seorang laki-laki 28 tahun yang mengalami electrical burn injury full-thickness dengan eschar pada regio antebrachii–manus sinistra 2% pasca tersengat kabel listrik tegangan tinggi. Pasien datang 24 jam setelah kejadian dengan keluhan nyeri, kebas, dan hilangnya sensasi pada jari tangan kiri. Pemeriksaan menunjukkan tanda cedera jaringan dalam, disertai peningkatan SGOT/SGPT, hematuria, dan peningkatan kreatinin. Rencana awal fasciotomy tidak dapat menyelamatkan ekstremitas karena jaringan sudah non-viable, sehingga dilakukan amputasi pada level antebrachii. Kasus ini menegaskan pentingnya identifikasi dini dan tindakan fasciotomy segera pada cedera listrik untuk mencegah komplikasi ireversibel. Kata Kunci: electrical burn, fasciotomy, compartment syndrome, amputasi, golden time
Mortalitas Perforasi Ulkus Duodenum Berdasarkan Lokasi Segmen Duodenum: Suatu Tinjauan Sistematis Iqbal Arnif; Eddy Ahmad Syahputra; Moh Habib
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54849

Abstract

Latar Belakang: Perforasi ulkus duodenum merupakan kegawatdaruratan bedah dengan mortalitas yang masih signifikan. Secara teoritis, perbedaan anatomi antara pars duodenum dapat memengaruhi luaran klinis, namun bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut masih terbatas. Tujuan: Menilai luaran klinis, khususnya mortalitas, pada pasien dengan perforasi ulkus duodenum berdasarkan lokasi segmen duodenum melalui tinjauan sistematis. Metode: Tinjauan sistematis ini disusun mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar tanpa pembatasan tahun. Studi observasional yang melaporkan luaran pasien perforasi ulkus duodenum disertakan. Data disintesis secara naratif tanpa meta-analisis. Hasil: Lima studi memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas perforasi terjadi pada pars I duodenum. Mortalitas yang dilaporkan berkisar antara 4% hingga 38,2%. Hanya satu studi yang melaporkan mortalitas berdasarkan segmen duodenum dan menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara pars I dan pars II. Faktor klinis yang paling konsisten berhubungan dengan mortalitas adalah keterlambatan presentasi, syok preoperatif, sepsis, dan kegagalan organ. Kesimpulan: Mortalitas perforasi ulkus duodenum lebih dipengaruhi oleh faktor klinis sistemik dibandingkan lokasi segmen duodenum. Diperlukan penelitian prospektif multicenter dengan pelaporan luaran berbasis segmen duodenum. Kata kunci: perforasi ulkus duodenum, pars duodenum, mortalitas, tinjauan sistematis