Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR PENENTU DAYA SAING BISNIS MELALUI TECHNOVATION PADA PERUSAHAAN KEAGENAN DI SEMARANG Endra Winarni
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI MARITIM Vol 21, No 2 (2021): Maret
Publisher : UNIMAR AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.363 KB) | DOI: 10.33556/jstm.v21i2.278

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor penentu daya saing bisnis pelayaran melalui technovation. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian deskriptif menggunakan metode pengamatan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat dimensi faktor penentu daya saing bisnis pelayaran yaitu: kondisi permintaan, kondisi faktor sumber daya, kondisi industri terkait dan industri pendukung serta kondisi struktur persaingan dan strategi perusahaan. Berdasarkan penilaian dari informan yang ditinjau dari: Technology Innovation, Entrepreneurship dan Technologi Management: perusahaan keagenan di Semarang secara berkelanjutan mampu mentransformasikan teknologi dan inovasi untuk efisiensi pelaksanaan kegiatan keagenan kapal guna meningkatkan produktivitas pelayanan dan kinerja manajemen perusahaan dapat semakin meningkat dan secara keseluruhan, manfaat terlihat dari respon yang lebih cepat, biaya lebih rendah dan lebih inovatif, dampak kinerja bisnis yang menguntungan secara keseluruhan, dan dimensi global merupakan tantangan yang besar dalam menghadapi kompleksitas dan risiko global.
Studi Evaluasi Kinerja Asosiasi Perempuan Pelaut di Indonesia Septina Dwi Retnandari; Endra Winarni
Jurnal Maritim Polimarin Vol. 2 No. 1 (2016)
Publisher : PPPM Polimarin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang diajukan pada penelitian mengenai  Studi Evaluasi Kinerja Asosiasi Perempuan Pelaut di Indonesia adalah 1) Asosiasi perempuan pelaut di Indonesia tidak menjaring anggota lembaga secara profesional, 2)Asosiasi perempuan pelaut di Indonesia tidak memiliki anggota yang berkompeten dalam urusan kepalutan dan 3)Perempuan pelaut belum tertarik untuk bergabung pada asosiasi. Permasalahan tersebut mengarahkan penelitian pada pertanyaan mengenai: Apakah perempuan pelaut memiliki motivasi untuk menjawab berbagai permasalahan perempuan pelaut Indonesia melalui pembentukan asosiasi? Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan tipe deskripsi analitis melalui penggambaran obyek penelitian untuk dianalisa dan dicari model pengembangan atas obyek penelitian. Metode ini bisa dipakai untuk diterapkan dalam penelitian tentang evaluasi organisasi sekaligus mengenai perubahan organisasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perempuan pelaut di Indonesia. Sementara cara penentuan sampel yang dipakai adalah purposive sampling dan penetapan responden berikutnya dengan metode snowball. Ada 3 metode pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara kepada sumber data primer serta studi pustaka lewat artikel dan berita yang diperoleh dari brosur, barang cetakan, majalah, internet dan lain-lain. Analisa data yang dipakai adalah analisa kualitatif Kesimpulan yang diperoleh adalah asosiasi perempuan pelaut belum bisa dikatakan sebagai sebuah organisasi yang hidup karena asosiasi masih rendah dalam : 1) menerapkan misi dan visinya, 2) mengelola, mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan dan potensi orang-orangnya secara maksimal pada tingkat individu, kelompok, maupun organisasi, 3) merencanakan dan mengelola kemitraan eksternal dan sumber-sumber internalnya untuk mendukung kebijakan dan strateginya, dan proses operasinya yang efektif, dan 4) dalam pola kelola asosiasi untuk mendukung kebijakan dan strategi asosiasi. Rekomendasi yang disampaikan adalah 1) Asosiasi perempuan pelaut di Indonesia sebaiknya mulai berbenah diri mengembangkan lembaga, mulai dari kelembagaan dan keanggotaan. Dengan adanya penguatan asosiasi maka asosiasi memiliki bargaining position dengan pemerintah atau pihak lain untuk perbaikan posisi dan kondisi pelaut, 2) Asosiasi perempuan pelaut di Indonesia perlu membuka diri dan berjejaring dengan lembaga terkait, selain perusahaan pelayaran juga kelompok serikat buruh, asosiasi pengacara, lembaga pendidikan yang menawarkan jasa pengembangan profesionalitas pelaut.
Pola Pendidikan Maritim dalam Membentuk Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa di Politeknik Maritim Negeri Indonesia Endra Winarni
Jurnal Maritim Polimarin Vol. 4 No. 1 (2018)
Publisher : PPPM Polimarin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The initial thinking that underlies this research is that the most recent data from the Global Entrepreneurship Monitor (GEM) shows that Indonesia has only around 1.65 percent of entrepreneurs of a total population of 252 million. Indonesia has enormous potential and opportunities to obtain economic resources from maritime. The maritime entrepreneurship program is not only to open up new hopes for the society but also as an effort to encourage private sector to play a role in building Indonesia's maritime affairs. The spirit of entrepreneurship must be cultivated in student's mind as a reference for the success of universities in building intelligent people. The purpose of this article is to explore and to try for gaining the insight about the pattern of maritime education in shaping the entrepreneurial spirit of students conducted at Politeknik Maritim Negeri Indonesia. Problems formulated: 1) What is the description of the spirit of entrepreneurship possessed by Polimarin students, 2) How is the design of an entrepreneurship education program involving internal and external parties in order to create a generation of educated entrepreneurship in Polimarin. The method used in this research is in-depth interviews with alumni as an entrepreneur, business simulations and focused group discussions with active students, as well as literature studies by reviewing books and journals. The results of the discussion stated that: The tone of Polimarin student entrepreneurship education is carried out through practical learning with experiential based learning methods. The growth of entrepreneurial spirit through practical learning by conducting business practices include: practical activities in setting up small-scale bazaars, price research practices in the market, creating brand (brand), practice simulation of business stages such as sevron turnover by means of student sewing services because students live in dormitories, the practice of selling merchandise, the practice of producing goods with existing natural resources, the practice of optimizing existing capital for production, seeking technology to make production more efficient.