Sisva Maryadi
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UPACARA MEMBATUR: SARANA PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER PADA MASYARAKAT DAYAK HALONG Sisva Maryadi
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.091 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v3i1.115

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan upacara tradisional pada masyarakat Dayak Halong yang masih dilaksanakan sampai saat ini. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan,Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam tulisan ini dideskripsikan bagaimana jalannya upacara, bahan yang dipakai untuk upacara dan beberapa manfaat upacara dalam pembentukan karakter pada masyarakat Dayak Halong. Hal penting dalam pelaksanaan upacara ini adalah kepatuhan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut maupun masyarakat luar yang tinggal di sekitar komunitas yang bersangkutan dalam mematuhi segala larangan dan pantangan yang diakibatkan dalam pelaksanaan upacara tersebut. Upacara Membatur ini adalah upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat untuk membuatkan rumah bagi arwah leluhur yang telah meninggal. Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik pengamatan dan wawancara mendalam. Informan dipilih berdasarkan metode snowball sampling sesuai dengan tujuan penelitian.
MITOS BATU BATULIS DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT DAYAK HALONG Sisva Maryadi
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.442 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i1.105

Abstract

Salah satu cara untuk mengkomunikasikan larangan-larangan dalam masyarakat adalah dengan menciptakan mitos. Mitos tersebut tidak akan efektif kalau tidak diikuti dengan sanksi atau akibat dari pelanggaran yang dilakukan. Mitos Batu batulis merupakan salah satu mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat Dayak Halong untuk menjaga lingkungan sekitar lokasi Mitos tersebut. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan di sekitar Batu Batulis ini dipercaya akan mengakibatkan bencana bagi yang melanggar bahkan bisa juga berakibat pada masyarakat di kampung tersebut.
TRADISI PENGOBATAN BATIMUNG DALAM MASYARAKAT BANJAR DAN DAYAK MERATUS DI KALIMANTAN SELATAN (BATIMUNG HEALING TRADITION OF THE BANJARESE AND DAYAK MERATUS COMMUNITY IN SOUTH KALIMANTAN) nFn Saefuddin; Sisva Maryadi
Naditira Widya Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.368 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.307

Abstract

Batimung dalam masyarakat Banjar dan Dayak Meratus lebih banyak dikenal untuk acara prosesi pernikahan dan sangat sedikit yang mengetahui bahwa batimung selain untuk kesehatan juga untuk pengobatan penyakit di antaranya penyakit wisa (hepatitis). Oleh karena itu, masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana tradisi pengobatan batimung hidup dalam masyarakat Banjar dan Dayak Meratus. Tujuan penelitian ini akan enguraikan secara terperinci keberadaan batimung Banjar dan Dayak Meratus sebagai warisan tradisi nenek moyang yang telah sejak lama di Kalimantan Selatan yang berdampingan dengan budaya modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif ialah suatu metode untuk memperoleh informasi tentang tata cara pengobatan batimung dalam masyarakat Banjar.  Hasil penelitian memberi gambaran tentang pengobatan batimung dalam masyarakat Banjar dan Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. The healing tradition of Batimung in the communities of Banjar and Dayak Meratus is recognised as part of a wedding ceremony, but only few knows that this tradition is benefitted also to cure hepatitis. Thus, a research question arises regarding the continuous existence of batimung in the communities of Banjar and Dayak Meratus today. The objective of this research was to understand how batimung healing tradition coexist with modern culture. This was a descriptive-qualitative research which emphasised on observation and description on the procedure of batimung as a healing therapy. Hence, the result provided a comprehensive information on batimung hich has been practiced by the communities of Banjar and Dayak Meratus until today.
TRADISI PENGOBATAN BATIMUNG DALAM MASYARAKAT BANJAR DAN DAYAK MERATUS DI KALIMANTAN SELATAN Saefuddin; Sisva Maryadi
Naditira Widya Vol. 12 No. 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batimung dalam masyarakat Banjar dan Dayak Meratus lebih banyak dikenal untuk acara prosesi pernikahan dan sangat sedikit yang mengetahui bahwa batimung selain untuk kesehatan juga untuk pengobatan penyakit di antaranyapenyakit wisa (hepatitis). Oleh karena itu, masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana tradisi pengobatanbatimung hidup dalam masyarakat Banjar dan Dayak Meratus. Tujuan penelitian ini akan menguraikan secara terperincikeberadaan batimung Banjar dan Dayak Meratus sebagai warisan tradisi nenek moyang yang telah sejak lama di Kalimantan Selatan yang berdampingan dengan budaya modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif ialah suatu metode untuk memperoleh informasi tentang tata cara pengobatan batimung dalammasyarakat Banjar. Hasil penelitian memberi gambaran tentang pengobatan batimung dalam masyarakat Banjar danDayak Meratus di Kalimantan Selatan. The healing tradition of Batimung in the communities of Banjar and Dayak Meratus is recognised as part of a wedding ceremony, but only few knows that this tradition is benefitted also to cure hepatitis. Thus, a research question arises regarding the continuous existence of batimung in the communities of Banjar and Dayak Meratus today. The objective of this research was to understand how batimung healing tradition coexist with modern culture. This was adescriptive-qualitative research which emphasised on observation and description on the procedure of batimung as ahealing therapy. Hence, the result provided a comprehensive information on batimung which has been practiced by the communities of Banjar and Dayak Meratus until today.