Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERTUNJUKAN WAYANG “PAKELIRAN PADAT” SEBAGAI LTERNATIF MEMBANGKITKAN RASA MENYUKAI WAYANG DAN MUSIK GAMELAN Cipto Budi Handoyo
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.777 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3149

Abstract

Pertunjukan wayang  dan  gamelan di  berbagai tempat, termasuk di lingkungan  kampus  Universitas  Negeri  Yogyakarta  (UNY),  seringkali berlangsung memprihatinkan. Penonton dari kalangan mahasiswa biasanya sangat sedikit. Gejala  ini menarik untuk dikaji  lebih  lanjut,  terutama berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya ketertarikan mahasiswa terhadap keseniaan wayang dan pertunjukan gamelan. Penelitian yang telah dilakukan pada Mei 2012 menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap wayang dan gamelan ternyata positif. Hal ini berbeda secara nyata (signifikan) dengan keadaan sebelumnya (beberapa bulan sebelum adanya pertunjukan wayang dan gamelan), selisih mean antara sebelum dan sesudah pertunjukkan sebesar 5,133 dengan signifikansi 0,012 lebih kecil daripada 0,05. Fakta di atas menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan persepsi mahasiswa terhadap wayang dan gamelan secara signifikan. Oleh karena persepsi dalam penelitian ini dimaknai bahwa apabila positif artinya menyukai/mencintai, maka terjadinya peningkatan persepsi antara sebelum dan sesudah pertunjukan wayang dan gamelan menjelaskan bahwa telah terjadi peningkatan rasa menyukai/mencintai  terhadap wayang dan gamelan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa peningkatan rasa suka terhadap pertunjukan wayang dan gamelan disebabkan pagelaran tidak berlangsung semalam suntuk, seperti biasanya wayang digelar. Pertunjukan wayang yang tidak berlangsung semalam suntuk  inilah yang dinamakan dengan “Pakeliran Padat”. Dengan  demikian,  pergelaran  wayang  dengan  “Pakeliran  Padat”  dapat dikembangkan sebagai alternatif membangkitkan rasa menyukai/mencintai terhadap wayang dan gamelan.
PERTUNJUKAN WAYANG “PAKELIRAN PADAT” SEBAGAI ALTERNATIF MEMBANGKITKAN RASA MENYUKAI WAYANG DAN MUSIK GAMELAN Cipto Budi Handoyo
Imaji Vol 12, No 2 (2014): IMAJI AGUSTUS
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.563 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i2.3157

Abstract

Abstrak Pertunjukan  wayang  dan  gamelan  di  berbagai  tempat,  termasuk  di lingkungan  kampus  Universitas  Negeri  Yogyakarta  (UNY),  seringkali berlangsung memprihatinkan. Penonton dari kalangan mahasiswa biasanya sangat sedikit.  Gejala ini  menarik  untuk  dikaji lebih lanjut, terutama  berkaitan  dengan faktor-faktor  yang  menyebabkan  hilangnya  ketertarikan  mahasiswa  terhadap keseniaan wayang dan pertunjukan gamelan. Penelitian  yang  telah  dilakukan  pada  Mei  2012  menunjukkan  bahwa persepsi  mahasiswa  terhadap  wayang  dan  gamelan  ternyata  positif.  Hal  ini berbeda  secara  nyata  (signifikan)  dengan  keadaan  sebelumnya  (beberapa  bulan sebelum adanya pertunjukan wayang dan gamelan), selisih mean antara sebelum dan  sesudah  pertunjukkan  sebesar  5,133  dengan  signifikansi  0,012  lebih  kecil daripada 0,05. Fakta  di  atas  menunjukkan  bahwa  telah  terjadi  peningkatan  persepsi mahasiswa terhadap wayang dan gamelan secara signifikan. Oleh karena persepsi dalam penelitian ini dimaknai bahwa apabila positif artinya menyukai/mencintai, maka  terjadinya  peningkatan  persepsi  antara  sebelum  dan  sesudah  pertunjukan wayang  dan  gamelan  menjelaskan  bahwa  telah  terjadi  peningkatan  rasa menyukai/mencintai terhadap wayang dan gamelan. Penelitian  ini  memperlihatkan  bahwa  peningkatan  rasa  suka  terhadap pertunjukan  wayang  dan  gamelan  disebabkan  pagelaran  tidak  berlangsung semalam suntuk, seperti biasanya wayang digelar. Pertunjukan wayang yang tidak berlangsung  semalam  suntuk  inilah yang dinamakan dengan “Pakeliran Padat”. Dengan  demikian,  pergelaran  wayang  dengan  “Pakeliran  Padat”  dapat dikembangkan  sebagai  alternatif  membangkitkan  rasa  menyukai/mencintai terhadap wayang dan gamelan.
Estetika Table Manner dalam Pendidikan Vokasi Pariwisata: Pendekatan Experiential Roleplay Enny Karmin; Cipto Budi Handoyo
Journal of Tourism and Economic Vol. 8 No. 1 (2025): Edisi 15 Jun 2025
Publisher : STIE Pariwisata API Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36594/jtec/ma404452

Abstract

Table manner education is a fundamental component of tourism and hospitality education, particularly in shaping students’ interpersonal skills, professionalism, and competitiveness in the global hospitality industry. Since its establishment, Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta has integrated an experiential learning approach through roleplay (Experiential Roleplay Approach) as part of its formal curriculum for hospitality students in the third semester. Furthermore, prior to formal academic enrollment, students are introduced to formal dining etiquette through industry exposure programs conducted at starred hotels. Although these practices have been consistently implemented, comprehensive academic research analysing the effectiveness of experiential roleplay in enhancing student engagement, conceptual understanding, and soft skills remains limited. This study aims to evaluate the effectiveness of the experiential roleplay approach within the context of vocational tourism education. The research employed a qualitative approach using a case study design, involving students from the Hospitality Study Program at AMPTA Yogyakarta. Data were collected through participatory observations of formal dining practice simulations, semi-structured interviews with students and instructors, and visual documentation. Thematic analysis was applied to identify patterns of engagement, concept retention, and professional attitude development. The findings reveal that the experiential roleplay approach significantly improves student learning engagement, accelerates the understanding of formal dining etiquette, and strengthens students' interpersonal skills. This study recommends reinforcing experiential learning methods within vocational education curricula to produce graduates who are adaptive, communicative, and competitive in the global workforce.