Alwin Suryono
Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Research Report - Engineering Science

PELESTARIAN ARSITEKTUR BANGUNAN KERTHA GOSA DI KLUNGKUNG - BALI Alwin Suryono
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2011)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18873.785 KB)

Abstract

Bale Kertha Gosa (pengadilan terbuka) dan Bale Kambang (tempat pencerahan,dikelilingi kolam), berdiri tahun 1700. Keunikan warisan arsitektur Bali ini karena bangunandikelilingi kolam dan plafonnya berupa lukisan-lukisan wayang khas daerah Klungkung. Saatini keduanya masih padat dikunjungi wisatawan domestik dan manca negara. Disayangkankondisinya kurang terawat dan ada kerusakan, mengganggu keindahan dan daya tahannya.Perbaikan telah dilakukan, namun agak mengganggu keutuhan/ keasliannya. Karena itu studipelestarian ini menjadi urgen untuk dilakukan.Studi pelestarian ini menggunakan paduan pendekatan arsitektural (mengungkapelemen-elemen arsitektur fungsi-bentuk-makna) dan pendekatan nilai (mengungkap NilainilaiBudaya). Tindakan pelestarian mengatasi masalah fisik elemen arsitektur di atas dantuntutan masa kini, sambil nilai-nilai budayanya dipertahankan.Aspek fungsi terkait kegunaan bangunan asal untuk pengadilan-pencerahan terbukadan kegunaan saat ini sebagai objek wisata. Perbaikan lantai, tiang-balok berukir, plafonlukisan, alas kolom perlu diupayakan mendekati aslinya, demi keutuhan-keaslian buktisejarah. Aspek bentuk mengacu pada bangunan (selubung, ruang dalam, struktur, ornamen)yang relatif masih utuh, dan ruang luarnya (kolam, patung-patung, pedestrian, ornamen) yangperlu dirawat lebih baik. Makna bangunan asal berupa pengadilan dan pencerahan terbukamelalui bentuk bangunan terbuka-posisi tinggi dan bangunan terbuka-dikelilingi kolam.Sebagai objek wisata, ke dua bangunan ini dapat dimaknai sebagai keterbukaan (strukturtiang), suasana tenang (di atas kolam) dan karya seni unik (lukisan plafon).Berdasar uraian elemen arsitektur dan nilai-nilai budaya, serta pemahaman penyebabpenurunan mutu bangunan maka cara pelestarian untuk Kertha Gosa ialah paduan Preservasi(didukung pengendalian lingkungan dan penguatan sistem bangunan), Adaptasi danRehabilitasi. Tindakan pelestarian di atas harus disertai dengan perawatan rutin, agar efektif.Kata Kunci: bentuk, fungsi, makna, preservasi, rehabilitasi
PELESTARIAN ARSITEKTUR MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA Alwin Suryono
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4904.793 KB)

Abstract

Adaptasi Museum Sonobudoyo terhadap tuntutan modernisasi dan lingkungannya yang berubahperlu dicermati pengaruhnya pada kebertahanan makna kultural Budaya Jawa. Studi Ini bertujuanmendeskripsikan fokus Pelestarian Arsitektur, Elemen-elemen Arsitektur Museum yang signifikan danImplementasi pelestariannya. Ketidak-pahaman akan pelestarian beresiko pada hilangnya MaknaKultural yang bernilai.Metode yang digunakan dalam studi ini ialah deskriptif-analitis dan interpretatif berdasarkan buktiempiris dengan menerapkan teori strukturalisme, relasi fungsi-bentuk-makna arsitektur dan teoripelestarian arsitektur, untuk mengungkap fokus pelestarian arsitektur, elemen-elemen signifikanobjek studi dan Implementasi pelestarian arsitektur.Fokus Pelestarian Arsitektur: Fungsi saat ini ialah kegiatan Pameran pada Bangunan utama,Pendopo dan halaman (semula Pendopo untuk menerima tamu/pertunjukan. Bentuk Bangunan(selubung, tata ruang, struktur bangunan), Ruang luar (tapak, lingkungan, arca), dekorasi, ornamen.Makna Kulturalnya ialah bangunan Jawa melalui aspek Bentuk yang serupa rumah tradisionalbangsawan Jawa.Elemen Arsitektur signifikan: Pendopo (terbuka, atap limasan, struktur rangka kayu), Banguan Utama(semi tertutup, tata ruang rumah Jawa), Gerbang Utama, pagar muka/ cepuri, gerbang samping,ornamen/dekorasi (kebenan, saton, wajikan, lung-lungan, padma, peksi garuda, kaligrafi dan wuwungatap).Implementasi pelestarian: Perawatan rutin pada semua bagian bangunan, Adaptasi pada Pendopo(area gamelan ditengah ruangan di bawah atap puncak, kaca pelindung dinetralkan), adaptasiBangunan Utama (optimalisasi penerangan alami), konsolidasi gerbang samping (penguatan).Kata kunci: Fungsi, bentuk, makna, signifikan, implementasi.
LAPORAN PENELITIAN FOKUS PELESTARIAN DAN MAKNA KULTURAL PELESTARIAN ARSITEKTUR BANGUNAN ARSITEKTUR INDIS DI KOTA BANDUNG DAN YOGYAKARTA (Kasus Aula Barat ITB. dan RS. Panti Rapih) Alwin Suryono
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7273.459 KB)

Abstract

Politik Etis (Balas Budi) ikut menginspirasi gaya arsitektur baru (arsitektur Indis) yangmengapresiasi budaya dan alam lokal. Arsitektur Indis merupakan sintesa unsur arsitekturtradisional Nusantara dengan arsitektur Eropa, dan saat ini masih banyak di kota-kota besarIndonesia, termasuk Kota Bandung dan Yogyakarta. Objek studi Arsitektur Indis Kota Bandungialah Aula Barat ITB. dan Kota Yogyakarta ialah bangunan lama RS. Panti Rapih.Isu sentral studi ini ialah Pelestarian bangunan Arsitektur Indis yang berfokus padaaspek Arsitektur (fungsi, bentuk) dan aspek Pelestarian (Makna Kultural) untuk masa kini danmasa datang. Pertanyaan penelitian “Apa Fokus Pelestarian?” terkait “Apa yang dilestarikan”,dan “Apa Makna Kultural?” terkait “Mengapa dilestarikan” dari objek studi ini.Fokus Pelestarian ialah aspek Fungsi (kegiatan) dan aspek Bentuk (bangunan, ruangluar). Makna Kultural dari aspek Fungsi terkait Nilai Sejarah dan Sosial, dari aspek Bentukterkait Nilai Arsitektural dan Kelangkaan.Fokus Pelestarian Aula Barat: fungsi semula Fakultas Teknik - kini Ruang Serba-gunaKampus; aspek bentuk ialah Bangunan (atap, struktur, selasar) dan Ruang luar. Bangunanlama RS. Panti Rapih: fungsi tetap sebagai tempat pengobatan masyarakat; aspek bentuk ialahBangunan (atap, struktur, selasar) dan ruang luar (taman).Makna Kultural Aula Barat: Sekolah Tinggi Teknik pertama Hindia Belanda, tempatkuliah presiden pertama Indonesia, tempat masyarakat kampus/umum. Bangunan lama RS.Panti Rapih: diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII tahun 1929, pasiennya termasukpejabat Belanda, kerabat Keraton, Jendral Sudirman, Sultan Hamengku Buwono VII; Tempatpengobatan/pemulihan kesehatan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnyaKata kunci: Fungsi, bentuk, fokus pelestarian, makna kultural.
RELASI ARSITEKTUR DAN PELESTARIAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DI BANDUNG Alwin Suryono
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1290.582 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan mengungkap relasi antara arsitektur dan pelestarian gedung Rektorat UPI., dengan tahapan: Mengungkap esensi pelestarian arsitektur; Mengungkap elemen-elemen arsitektur signifikan untuk dilestarikan; dan mendeskripsikan tindakan pelestarian, agar makna kulturalnya bertahan.Gedung Rektorat UPI karya CPW. Schoemacker dikenal sebagai Bangunan Cagar Budaya yang masih utuh dan asli, tapi sejarahnya berkata lain yaitu: sebagai tempat tinggal, markas pejuang kemerdekaan (rusak tertembak), kampus (bangunan diperbaiki-ditambah-dirubah). Perubahan bangunan tidak   terbaca, sehingga bukti sejarah tersamar.Esensi pelestarian arsitektur adalah pelestarian makna kultural melalui aspek bentuk dan fungsi. Makna kultural aspek bentuk berupa makna modern-kelokalan pada selubung bangunan, tema lengkung dan apresiasi lingkungan pada ruang dalam, tema lengkung dan orientasi lingkungan pada ruang luar.  Makna kultural aspek fungsi berupa makna sejarah (tempat tinggal, markas pejuang, tempat kuliah) dan makna kegunaan kantor Rektorat UPI.Elemen-elemen arsitektur signifikan. Selubung bangunan: bidang-bidang polos-lengkung, atap datar, jendela besar-teritis lebar. Ruang dalam: tatanan ruang lengkung 3 zona, zona tengah memanjang arah Utara-Selatan diapit oleh ruang zona kiri dan zona kanan, berlantai marmer.  Ruang luar berupa taman, terowongan, kolam ikan, pohon-pohon besar, pintu gerbang, tugu, dan pandangan ke arah Kota Bandung dan gunung Tangkuban Perahu.Selubung bangunan telah sedikit berubah dari asalnya, maka tindakan pelestariannya ada 2 pilihan: Restorasi (bagian selubung dikembalikan ke bentuk asal) atau Rehabilitasi (pembedaan tampilan bangunan antara bagian yang asli dan yang lebih baru, dengan warna atau tekstur namun tetap harmonis). Tindakan terpilih dilengkapi dengan tindakan preservasi selubung bangunan (perbaikan bagian-bagian yang retak/lapuk, perapihan jaringan kabel-pipa),  Ruang tengah (direstorasi ke pola lengkung seperti semula), Atap entrance sebaiknya dijadikan transparan kembali agar entrance hall dan lobby dapat terang alami. Kata kunci: Makna kultural, fungsi, bentuk, preservasi, restorasi.
PELESTARIAN MAKNA KULTURAL GEREJA SANTO YUSUF BINTARAN di YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR Alwin Suryono Sombu; Laurentia Carrisa; William Sasmita
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5034.188 KB)

Abstract

Konservasi merupakan tindakan  memahami dan mempertahankan suatu bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami nilai-nilai kultural yang terdapat pada Gereja Santo Yusuf Bintaran, Yogyakarta dan mengetahui teknik konservasi yang tepat untuk Gereja Bintaran. Hal diatas menjadi alasan perlunya penelitian ini dilakukan, yaitu memberikan wawasan dan  pedoman  mengenai teknik konservasi dan perawatan yang tepat untuk Gereja Santo Yusuf Bintaran.Penelitian dilakukan pada Gedung Gereja Santo Yusuf Bintaran, yang terletak pada Jl. Bintaran Kidul No. 5, Yogyakarta. Informasi mengenai gereja didapat melalui pihak pengurus gereja dan tenaga ahli yang pernah berperan dalam merenovasi gereja. Sementara metode perolehan data dilakukan secara kualitatif, antara lain dengan cara : studi literatur, observasi objek studi, dan wawancara.Hasil dari penelitian ini adalah penemuan elemen-elemen arsitektur yang memiliki nilai kultural. Elemen tersebut adalah: aktivitas peribadahan gereja, selubung bangunan(atap, ornamen, bukaan, fasad, moulding), ruang dalam bangunan(tatanan ruang, pola sirkulasi, pintu), struktur bangunan(dinding, kolom, atap), dan ruang luar. Teknik konservasi yang tepat untuk dilakukan pada Gereja Santo Yusuf Bintaran adalah preservasi, restorasi, rehabilitasi, dan preventif.Kata-kata kunci : Perawatan, teknik konservasi, nilai kultural, Gereja 
PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL DALAM ARSITEKTUR Pada Resort Royal Pita Maha di Ubud - Bali Alwin Suryono; Laurentia Carrisa
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3377.687 KB)

Abstract

Pulau Bali semula dikenal sebagai tempat yang indah-menyenangkan, penduduknya hidup makmur-damai dan harmonis. Arsitektur tradisionalnya yang indah-unik berdasar kearifan lokal Bali, memiliki spirit dan identitas khas. Akibat tekanan globalisasi dan industri wisata, kini Arsitektur Bali terimbas gaya universal dari negara-negara maju. Resort Royal Pita Maha, bergaya tradisional Bali dan dirancang-bangun berdasar kearifan lokal, diminati turis manca negara menjadi penting untuk diamati. Studi ini bertujuan memahami kearifan lokal Tri Hita Karana (THK), mengungkap wujudnya pada arsitektur resort Royal Pita Maha dan mendeskripsikan pelestariannya. Digunakan metoda kualitatif-deskriptif melalui pendekatan arsitektural, filosofi THK dan aspek pelestarian. THK. dibaca melalui aspek bentuk arsitektur (bangunan, ruang luar) dan aspek fungsi (kegiatan). Wujud THK. aspek spiritual: Pura di sisi Utara-Timur tapak (area paling suci); Tempat pemujaan pada jalan masuk utama dan entrance tiap bangunan; Bangunan bergaya arsitektur tradisional Bali (apresiasi leluhur) masa kini (konstruksi beton); dan Unsur-unsur alam (sungai, bukit, pohon, taman) yang diapresiasi. Wujud THK aspek sosial: Jalan masuk utama (sekaligus untuk penduduk sekitar); Patung penari pada entrance utama; Turap-turap batu berskala manusia; dan pedestrian nyaman-indah-aman. Wujud THK. aspek alam: Penataan bangunan sesuai kondisi muka tanah; Unsur alam dapat dinikmati dari tiap posisi; Material bangunan disusun mengikuti hokum alam. Tindakan pelestarian terhadap seluruh elemen signifikan resort (lingkungan spiritual, sosial, alam) adalah preservasi, terkait kondisi saat ini terarawat baik. Kesimpulan: Arsitektur Tradisional Bali masa kini yang dirancang-bangun berdasar filosofi THK., ternyata dapat memenuhi tuntutan kekinian pariwisata internasional, sehingga spirit dan identitas Bali dapat dipertahankan.Kata kunci: kearifan lokal, spiritual, sosial, alam, arsitektur.