Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Utilization of Aquatic Weeds as Biomonitoring Agent for Trophic Status of Water Reservoir Ecosystem Dwi Nugroho Wibowo; Agatha Sih Piranti
Jurnal Agrista Vol 11, No 1 (2007): Volume 11 Nomor 1 April 2007
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.887 KB)

Abstract

ABSTRACT. An ecological study of aquatic weed for biomonitoring trophic status of water reservoir system was conducted in Rawa Pening Water Reservoir, Ambarawa, Semarang Regency. This research was conducted from February to October 2006. Variables of study were taken from nine selected observation stations representing upstream, middle, and downstream both in wet season and dry season. The study was aimed to investigate the diversity of aquatic weed in Rawa Pening Water Reservoir at the three zones in both season in order to obtain bioindicator for trophic status of water reservoir ecosystem. The analysis on community structure of aquatic weed was carried out by describing data on the diversity of aquatic weed species. The similarity of aquatic weed characteristics among zones was analyzed on the basis of average similarity dendogram. The variation of water quality and aquatic weed characteristics among stations was analyzed using multivariate analysis based on the analysis of main component, while spatial distribution of aquatic weed was analyzed using correspondence factorial analysis. Based on the variation of characteristics of water quality, Rawa Pening Water Reservoir belongs to eutrophic status. Low diversity of aquatic weed in Rawa Pening Water Reservoir both in wet season and dry season (12 species) was observed. The dominant species in both season were Eichhornia crassipes and Salvinia natans. Other species found were Hydrilla verticillata, Pistia stratiotes, Chara sp., Nitella sp., Ipomoea aquatic, Cyperus cephalotes, C. pilosus, Alternanthera philoxeroides, Nymphoides indica, and Sacciolepis interrupta. Both in wet season and dry season, spatial distribution on the basis of aquatic macrophyte weed was evenly distributed and had grouping pattern of sufficienly high similarity ( 70%). The group tended to be dominated by E. crassipes and S. natans.
Peningkatan keterampilan kelompok pembudidaya ikan Desa Karangnangka Kabupaten Banyumas melalui pemanfaatan limbah sayuran sebagai suplemen pelet ikan Dwi Nugroho Wibowo; Dian Bhagawati; Ani Widyastuti; Erie Kolya Nasution; Kusbiyanto Kusbiyanto; Indarmawan Indarmawan; Siti Rukayah
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 17 No. 2 (2021): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v17i2.3552

Abstract

[Bahasa]: Sampah pasar tradisional umumnya berupa sisa sayuran, buah-buahan, daun-daun, nasi dan lainnya yang dapat menimbulkan bau tidak sedap dan mengurangi estetika lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir dampak negatif dari limbah pasar tersebut diantaranya adalah dengan mengolahnya menjadi bahan pakan ikan. Bahan pakan ikan dengan memanfaatkan limbah sayuran tersebut akan dapat menekan biaya pakan khususnya bagi anggota pembudidaya ikan di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Program pengabdian kepada masyarakat dengan tema alih teknologi ini bertujuan untuk mengedukasi dan melatih anggota pembudidaya ikan dalam pembuatan tepung nabati dari limbah pasar untuk suplemen pakan buatan yang diaplikasikan pada pakan ikan nila. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang dikemas dalam bentuk pelatihan dengan tahapan antara lain adalah tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap upaya keberlanjutan program. Hasil pengabdian menunjukkan melalui program pelatihan dalam pengabdian kepada masyarakat ini anggota pembudidaya ikan mampu membuat pelet untuk pakan ikan nila yang dilengkapi dengan tepung limbah nabati atau bahan lokal lainnya. Angka kelulushidupan benih ikan nila yang diberi pakan pelet dari bahan limbah sayuran tergolong baik. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pelatihan ini mampu menambah pengetahuan dan keterampilan anggota pembudidaya ikan dalam pembuatan pelet pakan ikan dengan memanfaatkan limbah sayuran. Pelet pakan ikan yang dihasilkan dapat disimpan dalam waktu lama dan mampu menekan biaya pakan pada proses pembudidayaan ikan. Kata Kunci: limbah sayuran, pakan buatan, ikan nila [English]: Traditional market waste is generally in the form of remnants of vegetables, fruits, leaves, rice, and others, which usually cause unpleasant odors and reduce aesthetics. Efforts that can be made to minimize the negative impact of market waste include optimizing its potential for fish feed ingredients, to reduce feed costs, especially for members of fish cultivators in Karangnangka Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. This community service program with the theme of technology transfer aims to educate and train members of fish farmers in making vegetable flour from market waste for artificial feed supplements applied to tilapia feed. The method used in this program was Participatory Action Research (PAR) through several stages, including the preparation stage, implementation stage, and the stage of program sustainability efforts. The results of the program show that through this program, fish cultivators are able to make pellets for tilapia feed equipped with vegetable waste flour or other local materials. The survival rate of tilapia seeds fed with pellets from vegetable waste is relatively good. It can be concluded that the implementation of this program is able to increase the knowledge and skills of members of fish cultivators in making fish feed pellets by utilizing vegetable waste. The result of fish feed pellets can be stored for a long time and can reduce feed costs in the fish farming process. Keywords: vegetable waste, artificial feed, tilapia
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Berbagai Umur Tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur Dian Putri Setiayu; Dwi Nugroho Wibowo; Edy Yani
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.145 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1856

Abstract

Salah satu unit pengelolaan Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) yang mengembangkan hutan jati adalah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur. Hutan jati yang dikelola KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai kelompok umur. Umur tegakan berkaitan dengan tutupan tajuk dari pohon di sekitar tumbuhan bawah yang berpengaruh terhadap keanekaragaman tumbuhan bawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur. Penelitian dilakukan di Hutan jati BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur, dengan tiga kelompok umur tegakan yaitu 16, 20 dan 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur terdapat 34 jenis tumbuhan bawah dari 17 familia. Tegakan jati umur 16 tahun memiliki keragaman tumbuhan tertinggi dengan indek nilai penting tertinggi sebesar 42,77% pada Echinochloa colona (L.) dari familia Poaceae. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan jati dengan umur 16 tahun sebesar 2,12 dengan kemerataan jenis sebesar 0,73. Nilai kesamaan jenis tertinggi sebesar 30,77% dari tegakan jati berumur 20 tahun sedangkan tegakan jati berumur 16 tahun dengan 20 tahun sebesar 25% dan 26,67%. Komposisi dan distribusi serta tinggi rendahnya keanekaragaman tumbuhan bawah pada ketiga tegakan jati umur berbeda, dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang terbentuk disekitar tegakan.
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah Pada Berbagai Umur Tegakan Pinus (Pinus merkusii) Di KPH Banyumas Timur Aulia Rahmawatu; Dwi Nugroho Wibowo; Edy Yani
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.334 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1852

Abstract

Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur merupakan salah satu unit pengelolaanPerum Perhutani yang mengembangkan hutan Pinus. Hutan pinus KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai umur. Keanekaragaman tumbuhan bawah dapat dipengaruhi oleh tutupan tajuk yang berkaitan dengan umur dari pohon di sekitar tumbuhan bawah tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus (Pinus merkusii) di KPH Banyumas Timur. Penelitian ini dilakukan di hutan pinus dengan tiga kelompok umur yang berbeda di BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur terdapat 36 jenis tumbuhan bawah dari 19 famili. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa keanekeragaman tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur semakin tua umur tegakan pinus maka semakin sedikit jumlah jenis tumbuhan bawah. Jumlah jenis tumbuhan bawah dengan umur 12 tahun didapatkan sejumlah 20 spesies selanjutnya disusul umur 24 tahun sejumlah 18 spesies dan umur 29 sejumlah 15 spesies. Kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur merata.
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Berbagai Umur Tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur Setiayu, Dian Putri; Wibowo, Dwi Nugroho; Yani, Edy
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1856

Abstract

Salah satu unit pengelolaan Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) yang mengembangkan hutan jati adalah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur. Hutan jati yang dikelola KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai kelompok umur. Umur tegakan berkaitan dengan tutupan tajuk dari pohon di sekitar tumbuhan bawah yang berpengaruh terhadap keanekaragaman tumbuhan bawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur. Penelitian dilakukan di Hutan jati BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur, dengan tiga kelompok umur tegakan yaitu 16, 20 dan 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur terdapat 34 jenis tumbuhan bawah dari 17 familia. Tegakan jati umur 16 tahun memiliki keragaman tumbuhan tertinggi dengan indek nilai penting tertinggi sebesar 42,77% pada Echinochloa colona (L.) dari familia Poaceae. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan jati dengan umur 16 tahun sebesar 2,12 dengan kemerataan jenis sebesar 0,73. Nilai kesamaan jenis tertinggi sebesar 30,77% dari tegakan jati berumur 20 tahun sedangkan tegakan jati berumur 16 tahun dengan 20 tahun sebesar 25% dan 26,67%. Komposisi dan distribusi serta tinggi rendahnya keanekaragaman tumbuhan bawah pada ketiga tegakan jati umur berbeda, dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang terbentuk disekitar tegakan.