p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Lampuhyang
I Ketut Dani Budiantara
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA PADA MASYARAKAT HINDU DI DESA SENGKIDU KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM I Ketut Dani Budiantara
LAMPUHYANG Vol 8 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.461 KB) | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v8i2.64

Abstract

Adapun masalah yang akan dibahas antara lain: (1) bentuk ajaran Tri Hita Karana yang diimplementasikan di Desa Sengkidu Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem (2) proses implementasi ajaran Tri Hita Karana di Desa Sengkidu kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem (3) Nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam implementasi ajaran Tri Hita Karana di Desa Sengkidu Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang Implementasi ajaran Tri Hita Karana Pada Masyarakat Hindu di Desa Sengkidu Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. Subyek penelitian ini adalah seluruh masyarakat Desa Sengkidu Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi, wawancara, dan kepustakaan. Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) bentuk ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat di bidang Parhyangan diwujudkan dengan pemujaan terhadap Dewa Tri Murti, di bidang Pawongan diwujudkan dengan saling tolong-menolong, di bidang Palemahan diwujudkan dengan pelestarian alam. (2) proses implementasi ajaran Tri Hita Karana di bidang Parhyangan diwujudkan dengan ngayah, di bidang Pawongan diwujudkan dengan organisasi (sekaa), di bidang Palemahan diwujudkan dengan kerja bhakti. (3) Nilai-nilai pendidikan yang terkadung dalam implementasi ajaran Tri Hita Karana adalah: Nilai Tattwa, Susila, dan Upacara.
MAKNA NGUSABHA GEDEBONGDI DESA ADAT NGIS KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM I Ketut Dani Budiantara; I Gede Sugiarka
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.296

Abstract

Desa Adat Ngis sampai saat ini masih melestarikan adat dan budaya leluhur. Hal ini terlihat dalam kegiatan yang berkaitan dengan upacara adat terutama dalam melaksanakan upacara Panca Yadnya. Ngusabha Gedebong merupakan salah satu upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Adat Ngis. Sesuai dengan namanya Ngusabha Gedebong sarana utama upakaranya menggunakan sarana gedebong ( batang pohon pisang). Ngusabha Gedebong dilaksanakan setahun sekali setiap Sasih Kaulu. Disamping unik, juga belum pernah dilakukan kajian mendalam tentang bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di desa Adat Ngis. Berkaitan dengan itu, kajian difokuskan untuk mendeskripsikan bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan empiris. Jenis penelitian kualitatif, penentuan subjek penelitian purposive sampling. Jenis data digunakan data kualitatif, sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen; serta analisis data deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Berdasarkan hasil pembahasan disimpulkan bahwa bentuk Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu merupakan jenis Dewa Yadnya yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada purnamaning sasih kawulu, dengan sarana upacara terdiri dari : Bayuhan 1 tanding, bayuhan berisi piser/tumpeng yang terbuat dari nasi jit kuskusan dan di ujungnya berisi garam/uyah yang beralaskan kojong, bayuhan berisi belayag 11 (solas) buah,tehenan atanding berisi beras, benang putih, porosan, segau ( daun dapdap yang dialuskan/ditumbuk ),Ungkab Lawang atanding berisi beras, kelapa yang dikupas kulitnya, sampiyan pakecuan,kerik keramas, berisi segau atangkih, kunyit mekihkih atangkih, kapas dan minyak, gegine metunu atangkih, buah lemo atangkih, suah sunggar sebagai pensucian,segehan putih kuning,buu,petabuh yaitu : tuak, arak, bere,.toya anyar ( air suci yang masih sukla ), api takepan, tegteg yaitu : wakul berisi jajan, biu, tumpeng, kasa putih, sampian kejingjing, banten pejatian yang dihaturkan di Bale Agung, ajuman dan canang sari, dengan proses pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penutup. Sedangkan makna Nngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu bermakna mohon kemakmuran, dan wujud syukur.
Sesayut Pancoran Pada Ngusabha Dalem Di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Gede Sugiarka; I Ketut Dani Budiantara
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.308

Abstract

Proses pelaksanaan upacara yadnya selalu mempergunakan sarana-sarana pendukung. Salah satu sarana yang digunakan adalah banten. Banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem merupakan banten yang jarang dipergunakan, tetapi penting karena masyarakat tidak mengetahui dan memahami bentuk, fungsi dan makna yang dikandungnya. Untuk itu perlu dikaji bentuk, fungsi dan makna banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem yang nantinya masyarakat Hindu di Desa Pakraman Seraya menjadi paham. Rumusan masalah yang diperoleh dari latar belakang tersebut sebagai berikut. (1) Bagaimana bentuk Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (2) Apa Fungsi Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (3) Apa Makna Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem?. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode pendekatan subjek penelitian dengan menggunakan metode pendekatan empiris, metode penentuan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling, jenis data yang dipakai adalah data kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan pencatatan dokumen. Setelah data terkumpul dilakukan analisa data melalui metode deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Adapun hasil penelitian yang diperoleh, yaitu: (1) Bentuk Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangsem, Kabupaten Karangsem adalah susunan banten yang terdiri atas: dulang, alas sesayut, tumpeng, telur ayam, galan (belayag), kelampet, kacang saur, buratwangi, jajan, buah-buahan, dan sampiyan nagasari, (2) Fungsi Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, meliputi: fungsi religius, fungsi pendidikan, fungsi sosial ekonomi dan fungsi penyucian, (3) Makna Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya adalah sebagai anugrah, wujud sembah bhakti dan sthana Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya dalam memberikan pancaran anugerah untuk membersihkan diri dari pengaruh Sad Ripu dan untuk meleburkan segala kekotoran (mala) yang ada di bumi maupun dalam diri manusia yang muncul dari pikiran, perkataan, dan tingkah laku (Tri Kaya Parisudha) yang dapat mengakibatkan suatu penderitaan dalam hidup.