I Gede Sugiarka
STKIP Agama Hindu Amlapura

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MAKNA NGUSABHA GEDEBONGDI DESA ADAT NGIS KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM I Ketut Dani Budiantara; I Gede Sugiarka
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.296

Abstract

Desa Adat Ngis sampai saat ini masih melestarikan adat dan budaya leluhur. Hal ini terlihat dalam kegiatan yang berkaitan dengan upacara adat terutama dalam melaksanakan upacara Panca Yadnya. Ngusabha Gedebong merupakan salah satu upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Adat Ngis. Sesuai dengan namanya Ngusabha Gedebong sarana utama upakaranya menggunakan sarana gedebong ( batang pohon pisang). Ngusabha Gedebong dilaksanakan setahun sekali setiap Sasih Kaulu. Disamping unik, juga belum pernah dilakukan kajian mendalam tentang bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di desa Adat Ngis. Berkaitan dengan itu, kajian difokuskan untuk mendeskripsikan bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan empiris. Jenis penelitian kualitatif, penentuan subjek penelitian purposive sampling. Jenis data digunakan data kualitatif, sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen; serta analisis data deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Berdasarkan hasil pembahasan disimpulkan bahwa bentuk Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu merupakan jenis Dewa Yadnya yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada purnamaning sasih kawulu, dengan sarana upacara terdiri dari : Bayuhan 1 tanding, bayuhan berisi piser/tumpeng yang terbuat dari nasi jit kuskusan dan di ujungnya berisi garam/uyah yang beralaskan kojong, bayuhan berisi belayag 11 (solas) buah,tehenan atanding berisi beras, benang putih, porosan, segau ( daun dapdap yang dialuskan/ditumbuk ),Ungkab Lawang atanding berisi beras, kelapa yang dikupas kulitnya, sampiyan pakecuan,kerik keramas, berisi segau atangkih, kunyit mekihkih atangkih, kapas dan minyak, gegine metunu atangkih, buah lemo atangkih, suah sunggar sebagai pensucian,segehan putih kuning,buu,petabuh yaitu : tuak, arak, bere,.toya anyar ( air suci yang masih sukla ), api takepan, tegteg yaitu : wakul berisi jajan, biu, tumpeng, kasa putih, sampian kejingjing, banten pejatian yang dihaturkan di Bale Agung, ajuman dan canang sari, dengan proses pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penutup. Sedangkan makna Nngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu bermakna mohon kemakmuran, dan wujud syukur.
Pengembangan Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Teknologi Komunikasi Interpersonal Guru di Era Society 5.0 NI Putu Diah Untari Ningsih; I Gede Sugiarka; Ni Nyoman Ayu Gita Cahyani
Lampuhyang Vol 14 No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i1.325

Abstract

Kegiatan belajar mengajar adalah serangkaian proses penyampain ilmu atau tranformasi ilmu yang dilakukan oleh tenaga pendidik dan peserta didik. Proses tersebut dapat dilakukan secara formal ataupun non formal, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang ada. Tentu dalam menjalankan suatu kegiatan belajar diperlukannya komunikasi yang baik antara peserta didik dan guru. Teknologi komunikasi ini dikenal dengan sebutan komunikasi interpersonal. Dimana komunikasi interpersonal ini adalah Komunikasi adalah proses pertukaran informasi dari dua belah pihak atau lebih. Ketika seorang guru sudah mampu menerapkan komunikasi interpersonal ini dengan baik, maka proses belajar mengajar juga akan berjalan dengan baik dan menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapat dunia pendidikan. Perkembangan zaman yeng kini berada pada era sosiety 5.0 ini juga yang menyebabkan berubahnya pola perilaku dan kehidupan masyarakat, khususnya sistem komunikasi baiik formal aaupun non folmat. Oleh sebab itu, kita harus bisa menjaga jalinan komunikasi dengan penerapan komunikasi interpersonal bagi guru untuk lebih dekat dengan peserta didik dan meningkatkan suasana belajar mengajar.
Segehan Ongkara di Pura Taman Gandamayu dalam Upacara Bhuta Yadnya di Desa Adat Jasri Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Gede Sugiarka
Lampuhyang Vol 14 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i2.341

Abstract

Upacara Bhuta Yadnya (upacara yang berkaitan dengan alam semesta) sebagai salah satu cara menjaga keseimbangan alam semesta. Karena bertujuan untuk pembersihan terhadap tempat (alam) dari gangguan dan pengaruh-pengaruh buruk, sehingga sifat baik dan kekuatannya dapat berguna bagi kesejahteraan umat manusia dan alam. Perlu keharmonisan itu dijaga dengan mengadakan upacara bhuta yadnya. Upacara pembersihan di halaman rumah dalam bhuta yadnya dilakukan dengan seperti mesegehan
MENINGKATKAN SRADHA DAN BHAKTI MELALUI AJARAN PANCA SRADHA I Gede Sugiarka
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): Mei - Oktober 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The teachings of Panca Sradha are the main foundation in Hindu teachings which include five basic beliefs, namely belief in the existence of God (Brahman), Atman (soul), Karma Phala (law of cause and effect), Punarbhava (rebirth), and Moksa (spiritual liberation). This study aims to analyze efforts to improve Sradha (faith) and Bhakti (devotion) of Hindus through the implementation of the teachings of Panca Sradha in everyday life. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews, observations, and documentation of religious figures, traditional leaders, and Hindus in the research area. The results of the study indicate that understanding and practicing the teachings of Panca Sradha can strengthen the Sradha and Bhakti of the people, especially through increasing awareness of the spiritual relationship between humans, nature, and God. In addition, the implementation of these teachings in the form of religious rituals, meditation, and social activities can instill moral and ethical values that support harmony in life. This study also found that religious education based on Panca Sradha in the family and community environment plays an important role in building the character of Hindus based on faith and devotion. Thus, this study recommends strengthening Hindu religious education that emphasizes the implementation of Panca Sradha and increasing the role of traditional institutions and religious figures in guiding people to practice these teachings. This is expected to encourage Hindus to further improve Sradha and Bhakti in religious, social, and cultural life