Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Rta, Dharma dan Ritual untuk Keharmonisan Alam Wayan Yanik Yasmini
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.140

Abstract

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah unruk mendeskripsikan Hukum Rta, Dharma dan ritual dalam mengendalikan alam.Mendiskripsikan ketundudukan manusia pada hukum Rta. Rta sering diterjemahkan dengan Orde atau Hukum, tetapi dalam arti hukum yang kekal dan tidak pernah berubah. Di dalam Weda diterangkan bahwa mula-mula Tuhan menciptakan alam semesta, kemudian menciptakan hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara yang diciptakanya itu. Oleh karena tuhan menciptakan hukum dan sekalian sebagai pengendali atas hukunya itu, maka Tuhan juga disebut Ritawan. Dalam perkembangan kesusastraan sansekerta istilah Rta ini kemudian diartikan Widhi yang maknanya sama pula dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Tuhan.Dari kata Widhi lahir istilah Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Widhi Wasa dengan arti Tuhan yang Maha Esa atau penguasa atas hukumnya. Dalam sloka Bhagavadgita disebutkan bahwa Tuhan mengawasi alam semesta dilakukan oleh prakerti- Nya.Rta merupakan hukum Tuhan yang bersifat abadi, murni dan bersifat absolut. Rta sebagai pengatur kegiatan manusia yang tidak tampak. Rta sebagai pengatur hanya dapat dilihat berdasarkan keyakinan atas adanya kebenaran. Karena Rta bersifat absolut maka semua ciptaan Tuhan tidak bias lepas dari hukum Rta.Hukum Tuhan yang disebut Rta tersebut dijabarkan dalam amalan manusia yang disebut Dharma. Dharma sebagai hukum agama yang di sebut dharma bersifat relative karena sealu dikaitkan dengan pengalaman manusia dan karena itu bersifat mengatur tingkah laku manusia untuk mencapai kebahagian di dalam hidup. Ajaran Rta dan Dharma menjadi landasan ajaran karma dan phala. Rta dan dharma mempunyai ruang lingkup yang sangat luas yang meliputi pengertian hukum abadi sebagi ajaran kesusilaan yang mengandung estetika dan mencangkup pula pengertian sosial. Dan oleh karena itu Rta selalu menjadi dasar pemikiran yang idil dan diharapkan akan dapat terujud dalam kehidupan didunia ini.Manusia tunduk dan tidak bisa lepas dari Rta karena manusia merupakan bagian dari kosmos. Semua ciptaan Tuhan di atur melaui hukum absolute yang disebut Rta.
Kesenian Cekepung sebagai Media Penanaman Rasa Kebersamaan dan Persatuan di Desa Budakeling, Karangasem Wayan Yanik Yasmini
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.159

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menggali kearifan lokal dalam kesenian cekepung. Untuk menjawab permasalahan yang diajukan digunakan sejumlah teori diantaranya teori struktural fungsional, teori interaksi simbolik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Budakeling. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan analilis kualitatif model interaktif dari hiberman. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa keseian cekepung merupakan kesenian lokal di Karangasem. Keberadaan kesenian cekepung tidak terlepas dari sejarang kerajaan Karangasem. Kesenian cekepung merupakan hasil modifikasi dari kesenian sasakan dari lombok. Kesenian cekepung memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai media penanaman rasa kebersamaan dan persatuan pada masyarakat Karangasem. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam melestarikan kesenian cekepung salah satunya adalah mengembalikan fungsi cekepung dalam hidup bermasyarakat seperti menunjukkan kesenian cekepung di setiap kegiatan keagamaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian cekepung merupakan kesenian Lokal Masyarakat Karangasem dan keberadaanya perlu untuk direvitalisasi untuk kelestariannya.
Keberadaan Awig-Awig sebagai Landasan Hukum Adat Masyarakat Hindu di Karangasem Wayan Yanik Yasmini
LAMPUHYANG Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v10i1.176

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberadaan awig-awig dan mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam memantapkan keberadaan awig-awig desa adat yang digunakan sebagai landasan hukum Hindu di Bali. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode studi domumentasi, wawancara, dan observasi. Analisisnya secara deskriptif kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan Awig-awig di Desa Prakaman masih eksis digunakan sebagai landasan hukum ada, tetapi perlu direvitalisasi. Faktor penyebab awig-awig desa adat perlu direvitalisasi karena awig-awig merupakan pedoman yang bertujuan memelihara ketertiban dan ketenteraman dalam kehidupan, mengatur keseimbangan, keamanan dan ketertiban krama dewa yang nantinya dapat terwujud kesukertaan desa, sumber hukum pada tingkat desa adat, sebagai tata tertib, sebagai pedoman dalam kegiatan sesuai dengan budaya, adat istiadat, dan keagamaan serta awig-awig berisi falsafah Tri Hita Karana dan falsafah Hindu berdasarkan pada “Moksatham Jagat Hita Ya Iti Dharma,” Catur Purusa Artha (Dharma, Kama, Artha dan Moksa), Desa, Kala, Patra, Tat Twam Asi, dan Tri Upasaksi. Upaya yang dilakukan untuk memantapkan keberadaan awig-awig desa adat sebagai landasan hukum Hindu adalah memantapkan penyusunan awig-awig di tingkat desa adat, selanjutnya menyosialisasikan penyusunan awig-awig, dan mencetak awig-awig untuk disosialisasikan agar dipedomani oleh semua pihak terkait.
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match Terhadap Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar IPS Wayan Yanik Yasmini
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif teknik make a match terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS pada Siswa Kelas V SD Gugus II Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Rancangan penelitian ini menggunakan pola dasar The Posttest Only Control Group dengan jenis eksperimen semu. Sampel penelitian berjumlah 56 siswa. Data yang dikumpulkan adalah motivasi belajar dan hasil belajar IPS. Data dianalisis dengan menggunakan MANOVA berbantuan SPSS 17.00 for windows. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, motivasi belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran kooperatif teknik make a match secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional (F= 48,923; p<0,05). Kedua, hasil belajar IPS siswa yang belajar dengan pembelajaran kooperatif teknik make a match secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional (F= 47,046; p<0,05). Ketiga, secara simultan motivasi belajar dan hasil belajar IPS antara siswa yang belajar dengan pembelajaran kooperatif teknik make a match secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.