p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Lampuhyang
I Gusti Ngurah Wahyu Bawa Saputra
STKIP Agama Hindu Amlapura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kedwibahasaan dalam Keluarga Perkawinan Campur pada Etnik Hindu di Bali Kade Restika Dewi; I Gusti Ngurah Wahyu Bawa Saputra
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.297

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk kedwibahasaan dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali; (2) mendeskripsikan dominasi penggunaan bahasa (bilingual) dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali; (3) mendeskripsikan dampak penggunaan bilingual dlm keluarga kawin campur pd etnik Hindu di Bali; (4) mendeskripsikan faktor apa saja yang memengaruhi penggunaan bilingual dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali. Subjek penelitian ini adalah 3 (tiga) pasang keluarga perkawinan campur etnik Hindu Bali dan Warga Negara Asing (WNA). Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil anaalisis data ditemukan bahwa (1) Bentuk kedwibahasaan dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu campur kode dan alih kode; (2) Dominasi penggunaan bahasa (bilingual) dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu Bahasa Inggris; (3) Dampak penggunaan bilingual dlm keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu dampak edukatif, sosial dan budaya; dan (4) Faktor yang memengaruhi penggunaan dwibahasa dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu penutur, lawan tutur, ingin menjelaskan maksud tertentu, situasi dan menjalin keakraban.
Peran Guru Sebagai Pemimpin Dengan Menggunakan E-Learning Untuk Melahirkan Generasi Digital I Gusti Ngurah Wahyu Bawa Saputra
Lampuhyang Vol 14 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i2.340

Abstract

Pesatnya teknologi dewasa ini bagaikan jamur di musim hujan. Dimana teknologi bisa juga diartikan sebagai pengganti sebuah alat komunikasi tradisional. Teknologi saat ini sudah sangat berkembang pesat sehingga teknologi pun bisa dijadikan sebuah alat komunikasi agar bisa terhubung satu sama lain. Dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, para pengajar/pendidik (guru), siswa dan masyarakat umum diwajibkan “melek” teknologi. Pemanfaatan perangkat berbasis teknologi seperti telepon genggam, komputer, laptop adalah beberapa contoh yang saat ini bisa digunakan sebagai alat pembelajaran di sekolah. Hal tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran di abad 21 yaitu dengan berbasis TI yang saat ini disebut e-learning (electronic learning) yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi batas ruang dan waktu agar pembelajaran bisa dilakukan dimana saja. Peran guru saat ini yang dikenal sebagai fasilitator dan motivator agar para siswa menjadi lebih pro-aktif di dalam pembelajaran sangatlah tepat, dikarenakan siswa akan lebih tertarik mendapatkan pembelajaran ketika di saat belajar para guru menggunakan pembelajaran berbasis TI atau e-learning. Di samping menggunakan e-learning sebagai strategi belajar, guru juga harus bisa menjadi seorang pemimpin untuk para siswa agar nanti kedepannya para siswa menggunakan teknologi dengan bijak dan tidak menyimpang. Semua yang guru lakukan di jaman sekarang ini harusnya bisa sebagai agen perubahan, pembaharuan pengetahuan dan konsultan pembelajaran. Lahirnya digitalisme di jaman sekarang seharsunya dapat membawa perubahan yang menjadi lebih positive. Di jurnal ini beberapa hal yang perlu dibahas yaitu: (1) peran guru sebagai pemimpin untuk menciptakan generasi digital yang bijaksana. (2) peran guru dalam pembelajaran era digital adalah guru sebagai: (a) sumber belajar; (b) fasilitator; (c) motivator; (d) evaluator. Dengan cara menjadikan dirinya sebagai pemimpin, sumber belajar, fasilitator, motivator dan evaluator yang menggerakkan anak didik untuk menggunakan teknologi yang baik dan berdampak positif.