Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Tingkat Stres Pra Sirkumsisi Anak Usia 6-12 Tahun Dengan Free Needle Injection Method Ariani Sulistyorini; Zidan Fatikhul Mizan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 7 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i7.2270

Abstract

Sirkumsisi pada anak usia sekolah sering menimbulkan stres karena takut nyeri dan jarum suntik. Metode anestesi konvensional menggunakan jarum dapat memicu stres akut yang berdampak pada trauma medis jangka panjang. Free needle injection method hadir sebagai alternatif tanpa jarum untuk mengurangi stres visual anak, namun bukti empiris tentang tingkat stres anak yang menggunakan metode ini masih terbatas. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat stres pra sirkumsisi anak usia 6-12 tahun dengan free needle injection method. Desain penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi seluruh anak usia 6-12 tahun yang disirkumsisi dengan free needle injection di Klinik Al-Faasha Care Kabupaten Kediri berjumlah 60 responden dalam 6 bulan. Sampel 20 responden dengan teknik accidental sampling. Penelitian dilaksanakan tanggal 17 Maret-12 Mei 2026. Variabel penelitian Tingkat Stres Pra Sirkumsisi Anak Usia 6-12 Tahun Dengan Free Needle Injection Method. Instrumen menggunakan Perceived Stress Scale for Children (PSS-C). Data dianalisis dengan persentase dan diinterpretasikan secara kuantitatif. Hasil penelitian dari 20 responden, didapatkan hampir setengahnya yaitu 8 responden (40%) mengalami stres sangat rendah dan sedang, sebagian kecilnya yaitu 3 responden (15%) mengalami stres rendah, dan sebagian kecilnya yaitu 1 responden (5%) mengalami stres tinggi. Faktor yang memengaruhi tingkat stres yaitu usia, pengalaman medis sebelumnya, dukungan orang tua, cara pemberian informasi, dan reaksi anak. Sebagian besar anak usia 6-12 tahun yang menjalani sirkumsisi dengan free needle injection method mengalami stres sangat rendah hingga sedang. Metode ini efektif dalam mengurangi stres pra sirkumsisi dan direkomendasikan sebagai pilihan anestesi lokal pada sirkumsisi anak. Disarankan agar tenaga kesehatan memberikan edukasi yang sesuai dengan usia anak, menggunakan komunikasi terapeutik, serta melibatkan orang tua dalam pendampingan sebelum tindakan guna membantu mengurangi stres pra sirkumsisi pada anak.
Gambaran Proses Penyembuhan Luka Dengan Teknik Moist Wound Healing Pada Luka Penderita Diabetes Melitus Di Klinik Pandawa Kabupaten Kediri Ariani Sulistyorini; Hafidz Nur Addin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i1.2074

Abstract

Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks terbentuknya senyawa kimia sebagai substansi mediator di daerah luka merupakan komponen yang saling terkait pada proses penyembuhan luka. Moist wound healing merupakan suatu metode yang mempertahankan lingkungan luka tetap terjaga kelembabannya untuk memfasilitasi penyembuhan luka. Diabes melitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi. Tujuan penelitian mengetahui gambaran proses penyembuhan luka dengan teknik moist wound healing pada luka diabetes melitus. Desain penelitian Dekriptif, populasi dan sampel penelitian adalah seluruh responden yang memiliki luka diabetes melitus sebanyak 16 responden, dengan teknik sampel accidental sampling. Penelitian dilaksanakan tanggal 24 Maret – 5 April 2024 di Klinik Pandawa Kabupaten Kediri. Variabel penelitian yaitu gambaran proses penyembuhan luka dengan teknik moist wound healing pada luka penderita diabetes melitus, instrument penelitian menggunakan Bates-Jansen Wound Assessment Tool (BWAT), data dianalisa dengan rumus persentase dan diiterpretasikan secara kuantitatif. Hasil penelitian pada pertemuan terakhir dari 16 responden sebagian besar responden memiliki pertumbuhan luka membaik yaitu 14 responden dan sebagian kecil dari responden dengan jaringan sehat yaitu 2 responden. Faktor utama yang mempengaruhi proses penyembuhan luka yaitu perawatan luka dengan teknik moist wound healing, dan beberapa faktor lainnya adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan terakhir, penghasilan keluarga dalam 1 bulan, pengeluaran keluarga dalam 1 bulan dan lama pasien sakit dengan luka diabetes. Diharapkan hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk penderita luka diabetes melitus dalam menunjang kesembuhan dan menjadi bahan tambahan dalam memberikan informasi dan pelayanan terkait dengan proses penyembuhan luka penderita luka diabetes melitus. Responden mampu menunjang kesembuhan luka dengan melakukan perawatan luka menggunakan teknik moist wound healing