Mulyadi Mulyadi
dosen pada bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Beberapa Manifestasi Klinis Tuberkulosis Ekstra Pulmonal Mulyadi Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Mani fcstasi  TB ekstra  pulrnonal   bervariasi    tergantung    lokasi   ternpat  terjadinya.  Diagnosa   standart  TB ekstra pulmonal    berdasar  pada  ditemukan    MTB atau  pada perneriksaan    patologi   ditemukan   gambaran    khas suatu proses TB.  Diagnose  suatu  Tuberkulosis   ekstra   pulrnonal      rnemenuhi    kriteria   sebagai   berikut   :   kultur   MTB yang positif  dari  bahan  perneriksaan.    hasil  biopsy   didapatkan    suatu  granulorna   dengan  pengejuan,   dengan  atau  tanpa kuman  BT A. dan test  kulit dengan  PPD  mernberikan    basil   yang  positif,   gejala  klinik   yang sesuai   sebagai   suatu infeksi   TB,   test   kulit   dengan   PPD  memberikan    basil    positif,   rnemberi   respon  yang  baik   terhadap    obat  antituberkulosa.    (JKS2006; 2:95-100) Kata  kunci  :  tuberkulosis,    ekstra  pulmonal. Abstract.     TB  extra-pulmonary     manifestations      are  vary  and  depend   on  the  location    of  the   occurrence.   The standard  diagnosis    of extra  pulmonary   TB  is based  on  the   findings   of MTB  or  is  based  on  the   pathological examination     that  was  found   a  typical    description    of  a  TB process.    The  diagnosis    of  an  extra-pulmonary tuberculosis     meets  the  following    criteria:   a  positive    MTB  culture    of  examination    materials,     the  results   of  a biopsy  obtained   a granuloma   with  "cheese   like  color  and  consistency",     with  or without  germ  BTA,  and PPDskin  test with   positive   results,  clinical   symptoms  that  fit as a TB infection,  with PPD skin  test that gave  positive results,   and giving    good  responses  to anti-tuberculosis     drugs.  (JKS 2006; 2:95-100) Keywords: tuberculosis,  extra pulmonal.
Penatalaksanaan Tuberkulosis Mulyadi Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Penatalaksanaan kasus Tuberkulosis secara klinis dengan  pemberian  regimen Obat Anti Tuberkulosis (OAT) berdasar kategori WHO. OAT Iini pertama    (Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamide,Ethambutol, Streptomycin), dan OAT lini kedua   (PAS, Ethionamide,  Cycloserine, Capreomycin, Kanamycin,  Thiacetazone,   Fluoroquinolon).    Obat yang   bersifat   early bactericidal activity adalah obat yang memiliki  kemampuan mengurangi jumJah Micobakterium   Tuberculosis pada pengobatan fase intensif   (RHZES),   obat yang bersifat sterilizingactivity merupakan obat yang mampu   membunub  kuman  yang bersifat semi  dorman (RHZ) dan diberikan pada fase Janjutan. (JKS 2006;3:149-156) Kata kunci :  tuberkulosis,  oral anti tuberkulosis,  kategori WHO Abstrack.  Tuberculosis  case management is done through the provision of Anti-Tuberculosis  Drug (OAT),   which  is   based  on  WHO  categories.   The  first  line   OAT  are  Rifampicin,  Isoniazid, Pyrazinamide,  Ethambutol,   Streptomycin, and the second-line are PAS, Ethionamide,  Cycloserine, Capreomycin,   Kanamycin,   Thiacetazone,  Fluoroquinolones.   OAT  that  have  early  bactericidal activities  are  the  medications  that  have  the  ability  to  reduce  the  number  of  Mycobacterium Tuberculosis in the intensive  phase of treatment (RHZES), as weU  as the drugs that have sterilizing activity  which  may  kill  semi-dormant  germs  (RHZ);  these  kinds  of  drugs  are  given  in  the continuation phase. (JKS2006;3:149-156) Keywords: tuberculosis,  oral anti-tuberculosis,    WHO category
Community Acquired Pneumonia pada Usia Lanjut Mulyadi Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Pada kelompok usia lanjut Community Acquired Pneumonia merupakan salah satu infeksi yang rcntan terjadi  pada saluran nafas bawah, hal ini dikaitkan dengan mekanisme pertahanan tubuh diantaranya gangguan mukosilier,   gangguan  reflek,     gangguan  sistim    irnunologi,     gangguan  neurologi   dan  gangguan  sistim kardiopulmoner. Manifestasi Pneumonia pada usia lanjut  tidak khas,  dan sering disertai  dengan perubahan status mental. Pada umumnya etiologi komuniti  Peneumonia pada usia  lanjut  disebabkan oleh Streptococcus pneumonia, serta H.  Influenza. Selain  penanganan supportif, pemberian antibiotika diberikan secara empirik dengan mcmpertimbangkan usia, ko-morbid, severity. Pemberian antibiotika dilakukan  dengan memperhatikan peta kuman setempat dan pola sensitivity setempat serta  antibiotika  yang peka terhadap Pneumokokkus dan H Influenza. (JKS2010;2:87-92)Kata kund  :  pneumonia komuniti, usia lanjut.Abstract.  Community Acquired Pneumonia in elderly is one of the most vulnerable infections occurred in lower respiratory tract, it  is associated with defense mechanisms including mucosilier  disorders, impaired reflexes, impaired immunological system, neurological disorders and   cardiopulmonary system disorders. Pneumonia manifestations in the elderly are atypical, and often accompanied by the changes of mental status.  The etiology of community pneumonia in  the elderly majority caused by Streptococcus pneumoniae, and H.  Influenza. Administration of antibiotics are given empirically  by considering age, co-morbid, and severity. The provision of antibiotics is done by considering the local  germs maps and local sensitivity pattern and also  antibiotics which are sensitive to Pneumococcus and H. Influenza. (JKS 2010,·2:87-92)Keywords: Community acquired pneumonia, erderly.
Kecepatan Asetilasi Isoniazid Pada Masyarakat Kediri Mulyadi Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Metabolisme utama  INH melalui jalur  asetilasi dengan perantara N-asetil  transferase, kecepatan asetilasi dipengaruhi oleh ras dan genetik, dan dapat dibagi dalam asetilasi cepat atau asetilasi lambat. Selain itu asetilasi  merupakan   salah  satu jalan   biotransformasi metabolit  yang   dihasilkan oleh  berbagai   arilamin karsinogen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fenotip asetilasi   pada masyarakat Kediri Jawa Timur, dengan mengukur kadar INH dalam serum   sesudah konsumsi secara oral.   Penelitian ini merupakan suatu classical epidemiologi dilakukan pada  30 orang. Variabelpenelitian  adalah asetilasi cepat dan asetilasi lambat. Didapatkan mayoritas masyrakat Kediri memiliki asetilasi cepat yaitu sebesar 53,33 %, dan asetilasi lambat sebesar 47,63 %.( JKS 2007; 1: 9-14)Kata kunci :  fenotip asetilasi, INHAbstract. Acetylation  phenotype  can be determined by  measuring  isoniazid acetylation rate which can be categorized into fast and slow acetylators. The objective of this study is to identify the acetylation phenotype in Kediri  population  Jawa  Timur  with  measured    INH  level  in  serum  after  oral  compsumption.      Study methodology  was classical epidemiology, undertaken in 30 subject. The variables of  this study were  fast and slow acetylator. In all in subject mayority ofKediri community: fast acetylation phenotype was found 53,33 % and slow acetylation phenotype was 47,63 %.  (JKS 2007; 1:9-14)Keywords :   acetylation phenotype,  isoniazid