Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisa Teknik dan Ekonomis Terhadap Metode Direct System Pada Solar Energy Distillation di Pulau Tabuhan untuk Kapasitas 100 L/hari Galih Irvandi; Taufik Fajar Nugroho; Hari Prastowo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.344 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18773

Abstract

Air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Ketersediaan air bersih semakin berkurang, terutama di daerah pesisir Indonesia. Di daerah pesisir Jawa Timur misalnya, masyarakat harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau mengonsumsi air dengan kondisi yang kurang layak. Hal ini akan berdampak pada kesehatan dan juga perekonomian masyarakat setempat. Solusi alternatif untuk mengatasi krisi air ini adalah pemurnian air laut menjadi air bersih dengan cara destilasi. Destilasi diketahui sebagai proses pengubahan air laut menjadi air tawar dengan metode dipanaskan untuk menguapkan air laut dan kemudian uap air yang dihasilkan dikondensasi untuk memperoleh air tawar. Pada penelitian ini pemurnian air laut menggunakan destilasi tenaga matahari sebagai sumber panas untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Pulau Tabuhan, Banyuwangi. Dimana dilakukan pembuatan prototype alat destilasi menggunakan bahan kaca yang memiliki konduktivitas termal terbesar. Pada sistem ini, air laut diuapkan dengan menggunakan panas dari matahari, kemudian uap air yang dihasilkan keluar dari ruang basin yang kemudian dialirkan menuju keluar sistem. Kata kunci : destilasi, tenaga matahari, penguapan, Pulau Tabuhan.
OPTIMASI DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERBASIS KAPAL UNTUK MENDUKUNG KEANDALAN ENERGI DI PULAU BALI MENGGUNAKAN INVENTORY ROUTING PROBLEM Galih Irvandi; Nurhadi Siswanto
JISO : Journal of Industrial and Systems Optimization Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/jiso.v9i1.140-148

Abstract

Abstrak Sistem kelistrikan Bali menghadapi tekanan struktural yang saling memperparah: beban puncak tumbuh 7% per tahun menuju 1.854 MW pada 2030 dengan cadangan daya hanya 17,3% (PLN, 2025) yang jauh di bawah standar minimal PLN sebesar 34%, serta ketergantungan penuh pada Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT) berkapasitas 270 MW sebagai satu-satunya interkoneksi dari Jawa. Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis High Speed Diesel (HSD) dan Marine Fuel Oil (MFO) menghadapi triple constraint yang saling mengunci: fasilitas penerima di pembangkit hanya mampu menerima kapal berkapasitas 2.000–4.000 KL sehingga membutuhkan frekuensi pengiriman tinggi, namun kapasitas jetty enam depot Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) telah beroperasi pada Berth Occupancy Rate (BOR) 0,86–0,95 yang melampaui ambang kritis 80% (UNCTAD, 2022) sehingga penambahan frekuensi pengiriman tidak dimungkinkan tanpa perluasan infrastruktur. Kondisi ini menyebabkan Hari Operasi Pembangkit (HOP) konsisten berada pada titik minimum 7 hari, sangat rentan terhadap keterlambatan kapal maupun lonjakan kebutuhan akibat gangguan SKLT. Penelitian ini memformulasikan permasalahan distribusi BBM sebagai Maritime Inventory Routing Problem (MIRP) yang mengintegrasikan secara simultan keputusan routing kapal dari enam depot TBBM ke tiga pembangkit dan manajemen inventori BBM. Model diformulasikan sebagai Mixed Integer Linear Programming (MILP) dan diselesaikan menggunakan solver CBC melalui antarmuka Python PuLP pada horizon perencanaan 60 bulan (Januari 2026–Desember 2030). Hasil optimasi menghasilkan total biaya distribusi BBM sebesar Rp 5.423.893 juta dengan utilisasi armada K004 mencapai 100% dan tidak diperlukan investasi tangki tambahan. Analisis sensitivitas mengkonfirmasi kapasitas jetty sebagai binding constraint paling kritis: kenaikan permintaan 10% membutuhkan 46 trip charter darurat (+12% biaya), sementara penambahan hanya 3 slot jetty menghemat Rp 467,47 miliar (?7,61%) dan mengurangi ketergantungan charter. ABSTRACT Bali's power system faces structurally reinforcing pressures: peak load growing at 7% per year toward 1,854 MW by 2030 with a reserve margin of only 17.3% (PLN, 2025) well below PLN's 34% minimum and sole dependence on a 270 MW High VoltageSubmarine Cable (SKLT) from Java. The fuel oil (BBM) distribution system faces a self-reinforcing triple constraint: receiving facilities at power plants accommodate only 2,000–4,000 KL vessels necessitating high delivery frequencies, yet the six Fuel Terminal (TBBM) depots operate at Berth Occupancy Rates (BOR) of 0.86–0.95 exceeding the UNCTAD critical threshold of 80% (UNCTAD, 2022) making frequency increases impossible without infrastructure expansion. This causes Plant Operating Days (HOP) to consistently reach its minimum of 7 days, leaving the system highly vulnerable to vessel delays and SKLT disruptions. This study formulates the ship-based BBM distribution problem as a Maritime Inventory Routing Problem (MIRP) an optimization model simultaneously integrating vessel routing from six TBBM depots to three power plants and BBM inventory management. The model is formulated as Mixed Integer Linear Programming (MILP) and solved using the CBC solver via Python PuLP over a 60-month horizon (January 2026–December 2030). Optimization yields a total BBM distribution cost of IDR 5,423,893 million with K004 fleet utilization reaching 100% and no additional tank investment required. Sensitivity analysis confirms jetty capacity as the most critical binding constraint: a 10% demand increase requires 46 charter trips (+12% cost), while adding only 3 jetty slots saves IDR 467.47 billion (?7.61%) and reduces charter dependency.