Prabowo Prabowo
Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Pengaruh Tekanan Fluida Pemanas pada LPH Terhadap Efisiensi dan Daya PLTU 1x660 MW dengan Simulasi Cycle Tempo Muhammad Ismail Bagus Setyawan; Prabowo Prabowo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.015 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.27452

Abstract

Salah satu upaya peningkatan siklus Rankine adalah penggunaan closed feedwater heater. Fokus penelitian ini adalah LPH (low pressure heater) milik PLTU 1x660 MW. Pembangkit ini memiliki 4 buah LPH yang fluida pemanasnya diambil dari ekstraksi LP (low pressure) turbine. Penelitian menggunakan variasi tekanan fluida pemanas LPH. Nilai tekanan yang digunakan adalah rasio perbandingan tekanan fluida pemanas LPH terhadap tekanan fluida masuk LP turbine. Penelitian menganalisis ke empat LPH secara individual, yaitu ketika satu LPH diubah tekanan fluida pemanasnya, tekanan fluida pemanas LPH yang lain tidak berubah dari keadaan existing. Analisis yang dilaksanakan dibantu oleh perangkat lunak Cycle Tempo versi 5.1 yang dikembangkan oleh Asimptote, sebuah perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang industri pembangkit. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa pada setiap LPH terdapat rasio optimum tekanan fluida pemanas terhadap tekanan fluida masuk LP turbine. Rasio optimum tekanan fluida pemanas LPH #5 dan LPH #8 terhadap tekanan fluida masuk LP turbine berada pada keadaan existing, yaitu 0,41 dengan tekanan kerja fluida pemanas sebesar 3,88 bar, dan 0,027 dengan tekanan kerja fluida pemanas sebesar 0,259 bar secara berurutan. sedangkan rasio optimum tekanan fluida pemanas LPH #6 dan LPH #7 terhadap tekanan fluida masuk LP turbine secara berurutan berada pada rasio 0,2 dengan tekanan kerja fluida pemanas sebesar 1,89 bar, dan 0,07 dengan tekanan kerja fluida pemanas sebesar 0,7 bar. Penelitian juga menunjukkan bahwa tekanan fluida pemanas LPH #6 cenderung dominan dibanding LPH yang lain di dalam pengaruh perubahan performa pembangkit. Dalam analisis pada saat tekanan fluida pemanas LPH #6 berada pada tekanan kerja 1,89 bar dengan rasio sebesar 0,2 dan LPH yang berada pada kondisi existing, daya yang dihasilkan adalah 660,378 MW dan efisiensi pembangkit yang dihasilkan adalah 40,028%. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa data desain PLTU 1x660 MW sudah optimum dengan daya total 660,289 MW dan efisiensi pembangkit sebesar 40,022%.
Analisis Pengaruh Rasio Reheat Pressure dengan Main Steam Pressure terhadap Performa Pembangkit dengan Simulasi Cycle-Tempo Raditya Satrio Wibowo; Prabowo Prabowo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.69 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.27529

Abstract

Pembangkit listrik modern memiliki setidaknya satu tahap reheat dalam pengoperasiannya. Pada siklus reheat, rasio reheat pressure dengan main steam pressure dapat berpengaruh terhadap performa pembangkit. Penelitian mengenai pengaruh rasio reheat pressure dengan main steam pressure ini dilakukan dengan analisis termodinamika yang dibantu dengan pemodelan dan simulasi menggunakan perangkat lunak Cycle-Tempo 5.1. Pemodelan dilakukan dengan memodelkan pembangkit listrik sub-critical berkapasitas 660 MW berdasarkan data design pada heat balance diagram. Dan variasi rasio yang dilakukan dimulai dari rasio 15%, berlanjut pada rasio 18%, 20%, 25%, 28%, 30%, dan 35%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rasio reheat pressure dengan main steam pressure akan mempengaruhi daya yang dihasilkan pembangkit serta energi panas yang dibutuhkan boiler untuk memanaskan fluida kerja. Sehingga dibutuhkan titik optimum dimana menghasilkan keuntungan yang maksimal dari kedua faktor tersebut. Titik optimum untuk pembangkit ideal reheat (teoritis) berada pada rasio 22.96% dan untuk pembangkit reheat-regenerative (pembangkit kompleks) berada pada rasio 30%. Pergeseran titik optimum ini disebabkan karena adanya batasan variasi tekanan reheat pada pembangkit kompleks oleh tekanan uap ekstraksi yang menyuplai panas untuk komponen feedwater heater. Hasil lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan siklus reheat-regenerative pada pembangkit, dapat menurunkan net turbine cycle heat rate secara drastis sebesar 1216.47 kJ/kWh.