Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Penilaian Kualitas Visual Elemen Fasad Bangunan Café di Kota Malang dengan Gaya Kubisme Berdasarkan Persepsi Masyarakat prasasti putri millenia; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan jumlah penduduk di Kota Malang yang pesat menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan dalam bidang kuliner khususnya café. Berkembangnya café di Kota Malang didorong dengan adanya perubahan perilaku konsumen khususnya anak muda dalam memandang fungsi café, bukan hanya sebagai tempat makan dan minum tetapi juga sebagai tempat untuk bersosialisasi sehingga munculnya gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi. Selain itu, semakin banyak café membuat persaingan semakin ketat sehingga pemilik café harus memikirkan cara untuk menarik pengunjung dengan memberikan visual fasad yang menarik dan bisa dijadikan sebagai ciri khas bangunan. Persepsi masyarakat dalam menilai kualitas fasad merupakan nilai yang penting untuk meningkatkan daya tarik terhadap bangunan. Desain modern minimalis sudah mulai bekembang pada pertengahan abad-XX dengan penggunaan material konstruksi beton dan baja. Kemudian munculnya material beton bertulang pada tahun 1900-an yang dapat mempercepat perkembangan Arsitektur Modern dengan konsep fungsionalisme yang menjadi dasar pendorong lahirnya Arsitektur Kubisme. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif-kuantitatif dan pengambilan data menggunakan media kuesioner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas visual elemen fasad café di Kota Malang dengan gaya Kubisme berdasarkan persepsi masyarakat. Kualitas visual elemen fasad café dengan gaya kubisme pada objek penelitian memiliki pengaruh yang signifikan sebesar 51.6% berdasarkan persepsimasyarakat.
Penilaian Kualitas Elemen Visual Pembentuk Ruang Alun-alun Bondowoso berdasarkan Persepsi Masyarakat Bondowoso Safira Nurfadilla; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Citra visual kota yang baik tercipta dari adanya elemen visual kota yang baik dan menarik. Kabupaten Bondowoso memandang Alun-alun Bondowoso sebagai ikon Kabupaten Bondowoso. Adanya elemen kesejarahan seperti Monumen Gerbong Maut yang sudah ada dari zaman dahulu pada area Alun-alun Bondowoso juga menjadikan alun-alun sebagai spot penting yang dapat menunjukkan citra visual kotanya melalui objek-objek tersebut. Adanya Alun-alun Bondowoso yang berada di pusat kota yang strategis dan sebagai pembentuk awal dari citra visual kawasan Bondowoso, Alun-alun Bondowoso tersebut menjadi elemen yang berkontribusi pada citra visual kota Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap citra visual kota pada area Alun-alun Bondowoso yang dinilai melalui tujuh spot elemen visual yang terdiri dari Monumen Gerbong Maut, paseban, dua area duduk, batu prasasti, papan nama, dan sculpture. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif yang berdasarkan persepsi masyarakat dengan menggunakan bantuan analisis statistika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Monumen Gerbong Maut merupakan spot yang memiliki kualitas elemen visual paling tinggi sekaligus mampu mewakili citra visual Alun-alun Bondowoso. Elemen visual pada Alun-alun Bondowoso memiliki kontribusi terhadap persepsi masyarakat sebesar 42,7% pada kualitas elemen visual dan 44,6% pada kemampuan elemen visual mewakili citra visual Alun-alun Bondowoso berdasarkan persepsi masyarakat.
Evaluasi Kinerja Pelayanan Pada Stasiun Cisauk Tangerang Berdasarkan Persepsi Pengunjung Haedar Maulana Taufiqi; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jabodetabek sebagai pusat perekonomian di indonesia menyebabkan minat urbanisasi meningkat pula yang berimbas pada kebutuhan transportasi yang tinggi. Terutama kebutuhan transportasi masyarakat Jabodetabek untuk memenuhi kebutuhan dan aktivitas hariannya terkhusus masyarakat Tangerang dengan penduduk sebanyak 3,06 juta jiwa yang kebanyakan aktivitas dan pekerjaannya berada di Jakarta. KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line merupakan alternatif transportasi yang banyak diminati saat ini. KRL akan beroprasi dari stasiun, salah satunya adalah Stasiun Cisauk yang berada di Tangerang Banten. Dengan perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat Jabodetabek permintaan akan jasa perkeretaapian yang tinggi, menjadikan Stasiun Cisauk tertuntut untuk menampung kebutuhan tersebut, oleh karena itu perlu adanya evaluasi standar pelayanan Stasiun Cisauk. Secara keseluruhan, penilaian terhadap kualitas kinerja pelayanan di Stasiun Cisauk telah memenuhi kebutuhan pengunjung stasiun, pada aspek keselamatan terdapat empat variabel yang diteliti dengan total skor indeks 76.00%, aspek keamanan dengan 2 variabel mendapat total skor indeks 78.40%, aspek keteraturan dengan 5 variabel mendapat total skor indeks 77.60%, aspek kenyamanan dengan 10 variabel mendapat total skor indeks 76.00%, aspek kemudahan dengan 3 variabel mendapat total skor indeks 7.40%, aspek kesetaraan dengan 2 variabel mendapat total skor indeks 7.48%, dari 6 aspek yang diteliti skor indeks mendapatkan nilai sebesar 76.20% dengan kriteria tinggi.Jabodetabek as the economic center in Indonesia causes an increasing interest in urbanization which has an impact on high transportation needs. Especially the transportation needs of the Jabodetabek community to meet their daily needs and activities, especially the people of Tangerang with a population of 3.06 million people, most of which are located in Jakarta. KRL (Electric Railroad) Commuter Line is an alternative transportation that is in great demand today. KRL will operate from stations, one of which is Cisauk Station in Tangerang, Banten. With the economic and social development of the Jabodetabek community, the demand for rail services is high, making Cisauk Station required to accommodate these needs, therefore it is necessary to evaluate the service standard of Cisauk Station. Overall, the assessment of the quality of service performance at Cisauk Station has met the needs of station visitors, in the safety aspect there are four variables studied with a total index score of 76.00%, the security aspect with 2 variables gets a total index score of 78.40%, the regularity aspect with 5 variablesgets the total index score is 77.60%, the comfort aspect with 10 variables gets a total index score of 76.00%, the convenience aspect with 3 variables gets a total index score of 7.40%, the equality aspect with 2 variables gets a total index score of 7.48%, from the 6 aspects studied the index score gets a value of 76.20% with high criteria.
Visual Perception of the Heritage Building Facades in the Administrative Center Area of Malang City Faisal Bahar; Herry Santosa; Jenny Ernawati
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 3 (2022): Budapest International Research and Critics Institute August
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i3.6206

Abstract

The Administrative Center Area of Malang city, which is located around the tugu square, is one area that plays an important role in the development of the eastern part of Malang City, which has many historic buildings from the Dutch colonial heritage. The purpose of this study is to find out the similarities and differences in perceptions between the public and practitioners and academics in the field of architecture in assessing the visual elements on the historic building facades and to find out which facade visual elements are significant according to the public, practitioners, and academics in the field of architecture on the visual quality of the historic building facades in the Administrative Center Area of Malang city. Developments and constructions in the Administrative Center Area of Malang city, which do not pay attention to the area context as a historic area, can slowly cause a shift in the shape and meaning of the city structure which can affect the visual character of the building facades in the area. The shift in the visual character of the building facades that do not pay attention to the area context in a historic area can harm environmental aesthetics, causing a decrease in the visual quality of the historic area. This study uses quantitative research methods with a public perception approach. To measure people's perceptions, a differential semantic scale is used which contains two opposite words. The results show that the assessment between two groups of respondents with different occupational and educational backgrounds has the similar assessment results on each facade element. Facade elements that are significant to the visual quality of the historic building facades in the Administrative Center Area of Malang City are the facade shape and color.
Penilaian Kualitas Visual Bangunan Bersejarah Dengan Fungsi Cafe Berdasarkan Persepsi Masyarakat : (Objek Studi: Lafayette Coffee & Eatery) Faradisa Fajri; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya pelestarian bangunan bersejarah di Kota Malang terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang. Khususnya daerah Kayutangan yang merupakan kawasan penting di Kota Malang. Upaya konservasi harus menjadi solusi untuk menjaga dan mendukung kelestarian arsitektur dan tata ruang di kawasan ini. Konservasi ini berfokus pada upaya pemanfaatan kembali bangunan lama agar tidak terbengkalai, baik dengan mengembalikan fungsi lama ataupun menggantinya dengan yang baru. Lafayette Coffee & Eatery merupakan salah satu cafe bergaya arsitektur kolonial yang menerapkan konsep adaptive reuse pada bangunan cagar budaya Gedung Kembar Kayutangan Malang. Perkembangan bangunan mungkin saja terjadi akibat perubahan fungsi dan pemilikan bangunan. Sebagai cafe baru, banyak faktor yang yang mempengaruhi minat konsumen, salah satu adalah kualitas visual bangunan. Penilaian masyarakat terhadap kualitas visual bangunan dapat diukur dari persepsi mereka melalui indera penglihatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas visual elemen arsitektural pada eksterior dan interior bangunan bersejarah Lafayette Coffee & Eatery berdasarkan persepsi masyarakat. Kualitas visual elemen arsitektural pada objek penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan sebesar 36,5% dipengaruhi elemen eksterior dan 60,1% dipengaruhi elemen interior berdasarkan persepsi masyarakat.
Penilaian Kualitas Elemen Visual Fasad Bangunan Ritel di Kawasan Cove at Batavia PIK Berdasarkan Preferensi Masyarakat Hapsya Shecarina Julianingrum; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya bisnis ritel outdoor di wilayah Jabodetabek yang menjadi pusat ekonomi dan keuangan Indonesia sejalan dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang kini cenderung lebih suka untuk berada di luar ruangan. Salah satu kawasan ritel dengan konsep outdoor adalah Kawasan Cove at Batavia PIK yang hadir dengan mengadaptasi konsep desain yang sejalan dengan gaya hidup masyarakat masa kini sehingga menjadi destinasi wisata yang populer karena mengusung konsep bangunan ritel outdoor dan modern yang berada di tepi pantai. Hal tersebut sejalan dengan fenomena swafoto yang terjadi pada masyarakat yang berkunjung dan mengakibatkan kunjungan yang berulang. Adanya keberagaman tampilan fasad bangunan ritel yang menarik akan memberikan suatu kesan visual tersendiri yang nantinya akan menciptakan suatu preferensi bagi masyarakat selaku pengguna serta target utama suatu bangunan ritel untuk dapat memperoleh penghasilan. Maka, diperlukan preferensi masyarakat sebagai pertimbangan dalam perancangan fasad bangunan ritel. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian kualitas elemen visual fasad pada bangunan ritel di Kawasan Cove at Batavia PIK berdasarkan preferensi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan preferensi masyarakat, elemen gaya arsitektur dinilai memiliki pengaruh yang paling signifikan terhadap penilaian fasad bangunan secara umum.
Elemen Kualitas Visual Fasad Bangunan pada Pusat Perbelanjaan di Kota Surabaya Berdasarkan Preferensi Masyarakat (Studi Kasus: Tunjungan Plaza, Galaxy Mall, Dan Pakuwon Mall) Chanaria B Frisyanza Sakti; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasad berperan penting dalam sebuah objek arsitektural karena memberi kesan pertama kepada masyarakat yang melihat bangunan. Bangunan publik pada kota-kota besar biasanya memiliki daya pikat visual yang tinggi pada fasadnya, salah satunya adalah Kota Surabaya yang berkembang melalui pembangunan fisik seperti penyediaan fasilitas berupa pusat perbelanjaan. Maka dari itu, peran fasad pada bangunan pusat perbelanjaan dinilai penting sebagai daya pikat bagi masyarakat. Dengan adanya keberagaman bentuk fasad bangunan komersial pada suatu kawasan dapat memberikan pengaruh pada tata wajah kota serta berperan penting dalam tata wajah Kota Surabaya. Hal tersebut dapat diidentifikasi melalui bangunan pusat perbelanjaan yang diantaranya adalah Tunjungan Plaza, Galaxy Mall, dan Pakuwon Mall. Maka dari itu, peran preferensi masyarakat sangat penting dalam penelitian ini agar dapat mengetahui elemen-elemen fasad apa saja yang dinilai paling menarik dari ketiga pusat perbelanjaan tersebut. Pada penelitian ini dilakukan penilaian terhadap elemen kualitas visual pada fasad bangunan pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza, Galaxy Mall, dan Pakuwon Mall berdasarkan preferensi masyarakat. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan analisis regresi linear berganda. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa “Gaya Arsitektur” adalah elemen kualitas visual yang dinilai paling berpengaruh secara signifikan terhadap penilaian fasad bangunan pusat perbelanjaan berdasarkan preferensi masyarakat.
PRODUKSI ETANOL DARI BAHAN BAKU BERBASIS LAKTOSA MELALUI PROSES FERMENTASI BATCH DENGAN KLUYVEROMYCES MARXIANUS Dessy Ariyarti; Bakti Jos; Herry Santosa; Siswo Sumardiono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Abstrak Pengembangan teknologi yang berkaitan dengan proses pembuatan etanol dari bahan berbasis laktosa melalui proses fermentasi perlu dilakukan karena masih minimnya data mengenai parameter proses fermentasi bahan berbasis laktosa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pada proses pembentukan etanol dari bahan berbasis laktosa melalui proses fermentasi dengan Kluyveromyces marxianus. Penelitian ini dibagi dalam beberapa tahap, yaitu (i) persiapan bahan baku yang akan digunakan sebagai media kultur; (ii) persiapan mikroba; (iii) proses fermentasi untuk menghasilkan etanol; (iv) analisis hasil fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi substrat oleh ragi Kluyveromyces marxianus pada suhu 30, 35, dan 40 °C berturut-turut adalah 1,484 g/L per jam, 2,053 g/L per jam, dan 2,201 g/L per jam dengan Iaju pertumbuhan biomasa berturut-turut adalah 0,107, 0,114, dan 0,115/jam, dan perolehan etanol (YP/S) berturut-turut adalah 0,156, 0,162, dan 0,105 g/g. Konsumsi substrat per waktu meningkat dan linier dengan peningkatan suhu. Hal yang serupa terjadi pada produksi biomasa yang cenderung meningkat seiring dengan peningkatan suhu, namun produksi etanol tidak bergantung pada kenaikan suhu operasi. Sedangkan konsentrasi etanol maksimum dihasilkan pada suhu optimum, yaitu 35 °C, sebesar 6,85 g/L. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan suhu proses fermentasi menjadi 40 °C tidak berpengaruh pada peningkatan perolehan etanol, namun dapat meningkatkan produksi biomasa Kata kunci: etanol, fermentasi batch, Kluyveromycess marxianus, laktosa, pengaruh suhu Abstract BATCH FERMENTATION OF ETHANOL PRODUCTION FROM LACTOSE BASED MATERIAL USING KLUYVEROMYCES MARXIANUS. The objective of this study was to investigate the temperature effect on ethanol production via fermentation of lactose based material using Kluyveromyces marxianus. Stages in this research are (i) culture medium preparation; (ii) microorganism preparation; (iii) ethanol production via fermentation; and (iv) fermentation broth analysis. The results showed that the substrate consumption of yeast Kluyveromyces marxianus at 30, 35, and 40 °C were 1.484, 2.053, and 2.201 g/L per hour respectively with biomass growth rate 0.107, 0.114, and 0.115/h, and ethanol yield (YP/S) 0.156, 0.162, and 0.105 g/g respectively. Substrate consumption per hour was increasing linearly with the temperature elevation. The similar tendency was occurred in biomass production. However, this trend was not followed by the ethanol production which tends to decrease. The result also showed that temperature 40 °C was the optimum condition in order to produce biomass with growth rate 0,115/h and biomass concentration 14.22 g/L. Meanwhile the maximum ethanol production 6.85 g/L was produce under condition 35 °C. It was stated that the temperature elevation untill 40 °C did not influence the ethanol productivity, instead it was found to increase the biomass productivity. Keywords: ethanol, batch fermentation, Kluyveromycess marxianus, lactose, temperature
Persepsi Visual Fasad Bangunan di Kawasan Taman Ismail Marzuki Jakarta Sebagai Pembentuk Citra Kawasan Annisa Tjahya Fitrianty; Herry Santosa; Jenny Ernawati
RUAS Vol. 22 No. 1 (2024)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2024.022.01.8

Abstract

Challenges related to the visual aspects of the urban environment arise from the diverse interests, abilities, and perceptions of the community. These differences have an impact on the physical condition of the area, causing the visual process to be complicated and difficult to recognize. The revitalization of the Taman Ismail Marzuki area aims to revive the area as a center for arts and educational facilities. This effort includes the construction of a new building with various facilities. This study aims to examine the suitability of the visual elements of the façade of the building after revitalization, as well as its influence on the formation of the image of the area. This study uses a quantitative descriptive method. Data collection through surveys (questionnaires). The selection of respondent samples was carried out by accidental sampling, then analyzed using mean score analysis and multiple linear regression. The results show that the characteristics of the visual elements of the façade significantly affect the image of the area. Of the eight variables of the study, three main visual elements—architectural style, walls, and sun shading—highlight the characteristics of the area and play an important role in enhancing the image of Taman Ismail Marzuki.
Community Learning Center dengan Pendekatan Arsitektur Interaktif di Kota Bekasi, Jawa Barat Majesty Gladys Tiara; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan di Kota Bekasi masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan sarana hingga lingkungan belajar yang kurang optimal. Perancangan Community Learning Center (CLC) bertujuan menyediakan fasilitas pendidikan nonformal yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menstimulus minat belajar. Melalui pendekatan arsitektur interaktif, CLC dirancang bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang yang mendorong partisipasi, eksplorasi, dan keterlibatan aktif. Strategi perancangan menggunakan metode strukturalisme yang menganalisis pola hubungan antar elemen desain. Interaktivitas menjadi inti konsep dengan atribut berbeda yang saling melengkapi di setiap zona. Ruang luar menonjolkan desired context sebagai perpanjangan ruang komunitas yang membangun keterhubungan sosial. Lobi dirancang dengan atribut interface sebagai penghubung ruang, informasi, dan pengguna. Zona anak (11–14 tahun) memadukan beberapa atribut seperti new experience hingga embodied learning untuk eksplorasi dan kreativitas. Zona remaja (15–18 tahun) menekankan fleksibilitas dan kolaborasi melalui atribut transformative space dan practical action. Zona dewasa muda (19–30 tahun) difokuskan pada pembelajaran aplikatif dengan atribut practical action. CLC dirancang sebagai ruang belajar yang aktif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Kota Bekasi, diharapkan mampu meningkatkan minat belajar serta menjadi model fasilitas pendidikan nonformal yang kontekstual dan berkelanjutan.   Kata kunci: community learning center, interaktif, minat belajar